jama'ah wahidiyah

JAMA'AH WAHIDIYAH

Saturday, 18 May 2013

MENANGIS itu NORMAL..kalau gak MENANGIS GAK NORMAL...



Perubahan antara senang dan sedih, suka dan duka, sehat dan sakit. Sebagaimana biasa mengalami lapang dan sempit, harap dan takut, tertawa dan menangis. Semua ini adalah aturan Allah yang sangat bermanfaat bagi setiap mukmin demi meningkatkan ketakwaan.

Dan akan menjadi bencana bagi yang tidak beriman, karena dia tidak sadar bahwa semua itu adalah bekal yang sangat bermanfaat bagi peningkatan derajat dalam kehidupan. Karena itu, dalam menyikapi semua kondisi yang dihadapi ini manusia tidak terlepas dari salah satu dianatara dua nilai, yaitu positif dan negatif atau benar dan salah, baik menurut pandangan manusia atau pun pandangan Yang Maha Kuasa.

Seseorang dapat meingkatkan keimanannya dengan menjalin ukhuwwh Islamiyah yang sering dihiasi dengan senyuman dan juga dapat meningkatkan taqarrub kepada
Rabbnya dengan sering mengis karena menyadari akan kelalaian dalam melaksanakan kewjiban dimasa lalu, dan menangis karena takut akan kekeliruan dalam memhami dan salah mengamalkan ajaran Ilahi yang mesti ditatinya demi leselamatan dan kemaslahatn dimasa mendatang.

Manangis adalah akhlaq para nabi dan kebiasaan para shalihin. Namun tentu bukan sekedar menangis, melainkan menangis yang membuktikan penghambaan diri yang muncul dari kesadaran yang sangat mendalam.

Sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah yang selalu memerlukan pertolongan; hamba yang menyadari sering lalai terhadap aturan-Nya; hamba yang sangat bodoh tapi sring menyombongkan diri dengan ilmu yang sangat sedikit; hamba yang tidak memiliki apa-apa tapi berlaga sombonga seakan-akan apa yang ada dalam dirinya adalah miliknya; sungguh semua yang ada pada diri seorang hamba baik berupa jasad kesehatan, harta, jabatan atau lainnya, semua itu adalah amanat yang mesti dipelihara dengan menggunakannya sesuai fungsinya dan mesti dipertanggungjawabakan pada saat yang tidak lama lagi akan tiba.

Para nabi menangis karena melihat ummat yang sedang mendertia kebejadan akhlaq dan penyimpangan aqidah serta kerusakan pemahaman terhadap syari’ah yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Para ulama sering menangis karena khawatir tidak dapat melanjutkan perjuangan Rasul akibat beratnya tantangan dan kurangnya kemampuan serta meluasnya kema’siatan.

Bila dibacakan kepada mereka ayat Allah yang berisi perintah, mereka menyadari belum dapat melaksanakan perintah sebagaimana mestinya. Sebaliknya bila dibacakan ayat yang mngandung larangan, mereka selalu ingat akan semua perbuatan yang menurut pandangan manusia tidak termasuk pelanggaran, padahal boleh jadi, tanpa disadari, dihadapan Allah sering sekali melakukan pelanggaran.

Bila dibacakan ayat-ayat tentang kenikmatan surga, terbayanglah orang lain sedang menikmatinya, sementara dirinya sedang dalam penderitaan menonton dari kejauhan apa yang dinikmati ahli surga, karena menyadari belum beramal sebagaimana mestinya yang memenuhi kriteria untuk menjadai mauttaqiin shalihin.

Bila sudah melaksanakan sebagain perintah-Nya, mereka yakin bahwa tiada yang dapat mengetahui apakah amalnya memenuhi syarat diterma Allah ataukah tidak. Dan bila bertaubat, dari mana diketahui bahwa taubatnya memenuhi syarat untuk diterima dihadapan Allah.

Semakin tinggi ketakwaan seseorang maka semakin mudah baginya mengetahui kesalahan dan kelalian dirinya dan semakin menyadari bahwa dirinya masih jauh untuk mencapai tingkat muttaqin.

Karenanya ketakutan kepada Allah akan semakin meningkat, demikian pula harapan akan ampunan semakin bertambah. Wallahu 'alam

Saturday, 6 April 2013

Kebahagian sejati adalah menjalani kehidupan sesuai pilihan Allah


Petunjuk Allah bagi hambaNya untuk melakukan “perjalanan”  di alam dunia, kita ketahui dan imani semua ada dalam Al-Qur’an dengan penjelasan dalam Hadits. Allah menciptakan makhlukNya sudah berikut dengan petunjuk untuk “perjalanan”, sehingga aneh sekali ada manusia dengan hawa nafsunya, ke-aku-an atau egonya mencoba membuat petunjuk sendiri atau pemahaman sendiri sehingga kehidupannya gelisah dan khawatir,  bingung dan bimbang, kecewa, kesedihan dan tidak bahagia, keimanannya turun-naik dan lain-lain persoalan hidup. Begitu pula kita temukan manusia yang bersikap pragmatis (serba kepentingan) dan bersikap permisif (serba boleh)  sehingga yang terjadinya bukan taat pada kebenaran atau menegakkan kebenaran , namun kenyataannya mereka melakukan pembenaran pada perbuatan atau pemahaman, yang pada akhirnya serba kebohongan dan ada yang larut dalam sikap munafik.
Intisari Petunjuk Allah bagi hambaNya untuk melakukan “perjalanan” di alam dunia atau bisa kita katakan sebagai “konsep menjalani kehidupan”, Alhamdulillah bisa kita temukan dalam al Qur’an pada surah Al-Fatihah khususnya ayat ke 5, yang artinya
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (Al-Fatihah : 5)
Tahukah pembaca, bahwa upaya pertama dan utama serta sungguh-sungguh yang harus dilakukan manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia adalah upaya “menyembah Allah”.
Itulah apa yang Allah inginkan (keinginan Allah)  sebagaimana firmanNya yang artinya,
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56)

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)
Memenuhi keinginan Allah adalah tujuan hidup manusia.


Upaya yang harus dilakukan manusia adalah “menyembah Allah”, lalu apa upaya selanjutnya ?
Upaya selanjutnya adalah semua atas pertolongan Allah sesuai dengan firmanNya yang artinya “hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan
atau Laahaulaa walaaquw-wata il-laabillahil ‘aliy-yil ‘adziim, ”Tiada daya upaya dan kekuatan selain atas izin/pertolongan Allah

Kalau boleh kita simpulkan upaya manusia selanjutnya adalah Islam atau “Berserah diri” kepada Allah.
Selengkapnya mengenai “berserah diri” Allah telah memberi tahu bahwa kalau manusia bersandar(berserah) kepadaNya, berarti berada pada jalan yang lurus, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

“Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus” (QS Al Imran : 101 )
Allah mengatakan jika manusia mengikuti jalan yang lurus maka manusia merupakan bagian dari manusia yang telah diberi ni’mat sebagai contoh kebahagian dalam melakukan  perjalanan di dunia. Selengkapnya mengenai “bahagia” silahkan baca tulisan pada
Allah telah berjanji jika manusia memenuhi keinginan Allah (upaya utama manusia) yakni beribadah / menyembah pada Allah, maka Dia akan memenuhi segala kebutuhan manusia dalam perjalanannya di alam dunia.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka”. (QS Al Thalaq : 2)
Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya” (QS Al Thalaq : 3)
Jadi sebenarnya manusia tidak perlu bingung, khawatir, bimbang, gelisah akan kebutuhannya dalam perjalanan di alam dunia karena Allah yang akan mencukupinya.
Juga, manusia dalam menjalani perjalanannya di alam dunia, Allah pula yang akan mengajari atau memimpin hambaNya.
…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282).
Sedangkan ulama, pembimbing spiritual, guru,  mursyid adalah alat atau sarana yang “dipergunakan” oleh Allah untuk mengajari atau memimpin hambaNya dalam melakukan perjalanan hidup.
Selengkapnya mengenai “alat atau sarana”, silahkan baca tulisan pada
Setelah upaya kita berserah diri kepada Allah adalah upaya menjalankan “pilihan” Allah, secara  ikhlas/rido, sabar , istiqomah, profesional dan diakhiri dengan tawakal.
Sebagaimana firman Allah yang artinya “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan“. (QS Qashash : 68)
Jadi kelirulah ungkapan orang pada umumnya bahwa “hidup adalah pilihan kita (manusia)”.   Hidup bukan pilihan kita !
Pilihan kita semata-mata hanyalah “beribadah / menyembah kepada Allah”.
Kebahagian sejati adalah menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan Allah.
Lalu bagaimana kita bisa mengetahui ”pilihan” Allah, jalan satu-satunya adalah mendekat kepada Allah, mengenal Allah (ma’rifatullah) atau terhubung (wushul) dengan Allah. Syarat untuk mengenal Allah atau terhubung dengan Allah adalah manusia harus dalam keadaan suci dan bersih baik jasmani maupun ruhani, yakni harus mengetahui ”pakaian” ruhani  diantaranya mengenal diri, hawa nafsu, akhlak, seputar hati, tazkiyatun nafs sehingga manusia dapat ”bersaksi” dengan sebenar-benarnya ”bersaksi” kepada Allah.

Manusia dengan ”pakaian” ruhani yang suci dan bersih akan hidup terpuji
Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya
”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)
Dalam hal ini makna kata kiasan dari “pakaian yang baru” adalah “pakaian” ruhani yang suci dan bersih.
Akhir dari perjalanan hidup manusia di dalam dunia adalah kematian.  Manusia yang selalu menjaga “pakaian” ruhani tetap baru atau suci dan bersih akan mati dalam keadaan syahid (bersaksi).

Thursday, 31 January 2013

ma'af saya yang salah


Banyak orang percaya salah satu hal tersulit untuk dilakukan adalah kerendahan hati untuk berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Secara pribadi, manusia mempunyai kecenderungan untuk membela diri dan melakukan pembenaran ketika terpojok. Mungkin lebih mudah untuk mengakui kesalahan pada atasan atau yang lebih tua dari kita, tapi pada anak, bawahan, yang lebih muda,atau murid2? sulit kan?

Padahal kalau mau jujur, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Setiap hari, disengaja atau tidak, ada saja kesalahan yang kita lakukan. Dalam pekerjaan, terhadap teman2, terhadap orang2 disekitar kita, terhadap istri atau anak. Nobody's perfect. Kesalahan adalah sebuah hal yang wajar, tapi berani mengakui kesalahan butuh kerelaan hati dan keberanian. Masalahnya, banyak orang menganggap bahwa mengaku salah sama dengan mengaku kalah. Tapi bagi Tuhan tidaklah demikian.

Tuhan ingin kita mempunyai sikap rendah hati. Kita mau membuka hati, mau diajar, mau mendengar, mengijinkan Tuhan berbicara dalam hidup kita, dan melakukan semua yang diajarkanNya. Mungkin di awal2 akan terasa berat untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf, tapi yakinlah,jika anda percaya pada Tuhan, patuh pada ajaranNya, anda akan sampai kepada tahap dimana anda akan tersenyum sangat bahagia setelah anda berani meminta maaf.

Tuesday, 29 January 2013

Diam Itu Bukan sABAR....

.................

“Kesabaran..” Ya. Sebuah kata yang sering kali kita ucapkan. Kata yang menjadi penghibur hati, saat deburan masalah dan cobaan menghampiri. Sebuah kata yang menjadi penenang jiwa, saat gundah gulana melanda. Namun, tahukah  arti “Kesabaran yang Sebenarnya.?”

Sering kita yang tidak merasakan kebahagiaan dalam menjalani hidup ini karena kurangnya rasa syukur dan sabar. Padahal, suatu kebahagiaan dibangun dengan 2 landasan, yaitu syukur dan sabar. Sabar bukanlah diam tanpa kata. Sabar bukanlah diam menunggu berlalunya sesuatu. Dan sabar bukanlah sikap pasrah dalam menghadapi sesuatu.

Namun “Kesabaran yang Sebenarnya” adalah: sifat itiqomah, disertai keimanan dan ketaqwaan saat menjalani rangkaian cobaan dalam mahligai kehidupan, baik itu kesedihan maupun kebahagiaan. Kita sering Salah memahami arti sebuah ‘Kesabaran yang Sebenarnya’, sehingga Kita mengatakan: “Kesabaran itu ada batasnya”. PADAHAL SABAR ITU TANPA BATAS. Kesabaran akan terus bertambah seiring dengan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt.

Hal ini pernah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw. Disaat beliau berjuang menyebarkan agama islam dengan kelembutan hatinya, banyak orang- orang kafir yang memusuhinya. Nabi Muhammad diancam, dicaci, diludahi, bahkan dilempar dengan kotoran sekalipun. Namun beliau tetap tersenyum dan tidak menaruh dendam sedikitpun, sehingga ia mendapatkan gelar ‘Ulul Azmi’, karena mempunyai tingkat kesabaran dan ketabahan yang luar biasa.

Bagaimana dengan keadaan kita sekarang..? Saat segelintir cobaan menerpa, kita langsung mengeluh dan putus asa. Padahal, tahukah Anda.? Bahwa cobaan yang kita hadapi ini belum ada apa- apanya, karena sesungguhnya cobaan dan ujian terberat dialami oleh para Nabi dan Rosul.

Sa'ad bin Abi Waqqash berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?" Nabi saw menjawab: "Para nabi, kemudian yang menyerupai mereka dan yang menyerupai mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Jika agamanya tipis (lemah) dia diuji dengan ringan dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus- menerus hingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa- dosa”. (HR. Bukhari)

Rosulullah pun bersabda: “Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tidak mengenaimu, dan apa yang akan mengenaimu pasti tidak akan meleset dari kamu. Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran. Kelonggaran bersamaan dengan kesusahan dan datangnya kesulitan bersamaan dengan kemudahan”. (HR. Tirmidzi)

Allah juga berfirman dalam Q.S Al Anfaal: 66, “Jika ada diantaramu 100 orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan 200 orang; dan jika diantaramu ada 1000 orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan 2000 orang, dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang- orang yang sabar”.

Allah bahkan memberikan penghargaan yang luar biasa kepada orang- orang yang sabar dalam firmannya: "Salamun 'alaikum bima shabartum" (Selamat atasmu karena kesabaranmu), maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Q.S Ar Ra’d: 24).  
Sabar telah menjadi kunci kesuksesan dalam mengarungi deburan ombak kehidupan. Karena sabar menjadi senjata kita untuk meraih datangnya pertolongan Allah swt.
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang- orang yang sabar”. (Q.S Al Baqarah: 153). Bagaimana dengan Anda..??

Masihkah Anda mengatakan bahwa ‘Kesabaran itu ada batasnya.?’ Dan sudahkah Anda menjadi manusia- manusia tangguh yang mempunyai ‘Kesabaran yang Sebenarnya..? Waktu masih panjang, dan jalan yang harus ditempuh masih jauh. Jadi masih ada waktu untuk berbenah diri, dan mencari serta melakukan apa yang terbaik di Dunia ini, ‘hidup ini tidak hanya sekali’. Maka janganlah kita menyesal di kemudian hari. Amiin…

Friday, 30 November 2012

Kalau Cinta Jangan Marah...

Banyak hal yang terjadi, sebagaimana roda selalu berputar. Ada sedih, bahagia, kaya, miskin itulah keadaan dunia dan semua adalah kehendakNya. Pertanyaan besar siapkah kita menghadapi kedua kondisi yang di berikan Alloh SWT tersebut ?.....
Dikatakan siap, tapi sering kita tidak terima, menggerutu (istilah jawa) dengan keadaan yang tidak mengenakkan (musibah/balak) yang kita terima.

Ada contoh ringan yang di alami oleh muda-mudi yang sedang di landa gelora muda asmara atau jatuh cinta. Ketika dua orang sejoli sedang pacaran kemudian berniat untuk pergi keluar rumah untuk sekedar makan diluar atau ke tempat wisata, namun ketika di perjalanan menghadapi semua kondisi yang tidak biasannya semisal tiba-tiba pada waktu itu turun hujan sementara tempat yang dituju masih jauh,,,,apa yang terjadi kira-kira..?

Iya...benar ? Kondisi hujan yang merupakan sesuatu yang datang tiba-tiba dan tidak mengenakkan atau bisa dikatakan balak/musibah, tapi justru musibah hujan dapat dirasakan anugrah karena muda-mudi tersebut bisa lebih dekat (red) berteduh bedua saling menjaga (silahkan di asumsikan sendiri-sendiri). Namun Intinya karena mereka sedang dalam kondisi di buai asmara (CINTA) hujan yang membuat perjalan mereka tertunda  atau menjadikan mereka basah kuyup justru memunculkan hal baru yang itu tambah mengasikkan bagi orang yang sedang diliputi gelora CINTA....

Maka,,, bagaimana dengan kehidupan kita, kita sering mendapat bahkan silih berganti mendapat sesuatu yang tidak menyenangkan / musibah/ balak dari Tuhan yang harusnya paling kita cintai lebih dari segalanya.  Musibah yang kita dapat, sering tidak kita rasakan sebagai anugrah yang akan memunculkan hal baru yang justru itu lebih asyik, justru kita anggap bahwa Tuhan tidak sayang kepada kita.. maka perlu di petanyakan seberapa kadar CINTA kita kepada Tuhan kalau setiap kita mendapat musibah kita selalu menggerutu tidak terima dengan kondisi tersebut,,,,inilah maka bolehlah kalau kita tulis di sini "Kalau Cinta Jangan Marah"

bersambung....

Saturday, 17 November 2012

ing renungan----




Sebenarnya Tuhan menurunkan Keajaiban dan mukjizat setiap waktu bagi kita yang mau berpikir dan berusaha, yaitu "Kesempatan".

Kebiasaan melemparkan kesalahan kepada orang lain,  selain akan 
menambah masalah, juga akan menjatuhkan kredibilitas, dan menghilangkan kepercayaan

Thursday, 15 November 2012

hARUS kAU bUKTIKAN!!!!!!

Sabda Nabi SAW:

"Seorang hamba tidaklah beriman sampai aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia."

Cinta yang disebutkan dalam hadits tersebut bukanlah cinta yang telah menjadi karakteristik manusia sebagai makhluk pencinta, melainkan cinta yang diusahakan. Contoh dari cinta tabiati (karakteristik) ialah kecintaaan manusia pada dirinya sendiri, siapapun secara naluriah pasti akan mencintai diri sendiri, demikianlah menurut Abu Sulaiman al-Khoththobi. 

Selanjutnya al-Khoththobi mengatakan, "cintamu kepadaku (Muhammad saw) adalah palsu sampai dirimu sirna, tenggelam dalam ketaatanmu kepadaku, sampai engkau lebih mementingkan keridlaanku daripada kesenangan pribadimu, walaupun untuk itu kau harus mengorbankan nyawamu".10

Ibnu Baththol dan al-Qodli 'Iyadh mengatakan, "Cinta dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian.

Pertama, cinta mengagungkan seperti rasa cinta anak pada kedua orangtuanya.
Kedua, cinta kasih sayang seperti kecintaan pada anak-anak kita.
Ketiga, cinta karena ada kesesuaian rasa dan karena pesona seperti kecintaan manusia pada umumnya.
Ketiga jenis cinta ini dapat kita asimilasikan dalam kecintaan pada Rasul".

Selanjutnya Ibnu Baththol mengatakan, "Makna dari hadits di atas ialah seseorang yang memiliki keimanan sempurna maka dia akan tahu bahwa hak Nabi lebih kuat dibandingkan dengan hak orangtua, anak, bahkan seluruh manusia. Sebab dengan lantaran nabi saw kita bisa selamat dari neraka dan mendapatkan secercah petunjuk dari jalan yang sesat". Kemudian al-Qodli 'Iyadl mengatakan, "di antara bukti kecintaan kita pada Nabi adalah ketika kita mau memperjuangkan sunnah-sunnah Nabi dan membela syariat beliau".11

Dalam sebuah riwayat Umar ra juga pernah mengungkapkan perasaan cintanya pada Nabi, "Wahai Nabi! Engkau lebih aku cintai dari segalanya, kecuali cintaku pada diriku sendiri". Nabi kemudian menolak cinta Umar ra, "Tidak wahai Umar! Sampai aku lebih Engkau cintai daripada dirmu sendiri". Umar ra kemudian mengatakan, "Demi Allah! Sekarang Engkau lebih Aku cintai daripada diriku sendiri". Nabi lantas bersabda, "Sekarang Engkau baru mencintaiku". Kecintaan kita pada diri sendiri, apalagi pada orang lain tidak boleh sampai mengalahkan kecintaan Kita pada Allah dan Rasul.

Setiap cinta harus ada pembuktian, cinta yang tidak disertai dengan bukti adalah bohong. Jika mengaku sebagai pecinta Rasul, lalu apa bukti kecintaan kita? Jangan sampai kita memiliki anggapan kosong, mengira mencintai Nabi, tapi sebenarnya itu tipuan setan belaka, karena ekspresi cinta dalam hati pasti akan tampak dalam perilaku. Oleh karenanya kita harus mengenal dan menguji kecintaan kita dengan memperhatikan beberapa indikasi dan bukti, lalu kembali bertanya, benarkan kita telah mencintai Nabi dengan sepenuh hati? Tanda-tanda cinta ini bisa kita ketahui dari ekspresi lahiriyah karena cinta adalah pohon yang abik, akarnya teguh, dan cabangnya menjulang ke langit, kemudian buahnya akan tampak dalam hati, lisan dan anggota tubuh. Oleh karenanya, perasaan cinta pasti dapat terbaca dari perilaku seseorang. Perilaku merupakan indikator, sebagaimana asap yang menunjukkan keberadaan api, ada asap pasti ada api

ngati-ati lek kekancan...

KH Abdoel Madjid Ma'roef Qs Wa Ra . cuplikan  Al Hikam


“ WA LAANTASHAB JAAHILAN LA YARDLO 'AN NAFSIHI KHOIRUN MIN AN TASHAB ‘AALIMAN   YARDLO 'AN NAFSIHI’'. Berkawan dengan orang bodoh, yang buta huruf yang tidak dikuasai nafsunya malah dapat menguasai mengarahkan nafsunya, itu lebih baik dari pada berkawan dengan orang alim orang pandai tetapi masih dikuasai oleh nafsunya, yang senantiasa nuruti nafsunya. Yang senantiasa LINNAFSI BINNAFSI yang senantiasa berbuat perbuatan yang dikecam oleh Alloh SWT, perbuatan yang merugikan pada umat dan masyarkat sekalipun alim, tapi ilmunya itu berbahaya, tidak manfaat !.
كُلُّ عَالِمٍ لاَ يَنْفَعُ بِعِلْمِهِ هُوَ وَإِبْلِيْسُ سَوَآءٌ

            Semua orang alim, orang yang tahu, tapi tidak memanfaatkan ilmunya, tidak memanfaatkan apa yang dia ketahui, itu sama dengan iblis. Diantara kita para hadirin-hadirot, sudah tahu LILLAH BILLAH itu apa. Sampai di manakah konsekwensinya kita para hadirin-hadirot terhadap apa yang kita ketahui itu mari para hadirin-hadirot, kita koreksi. Kita tahu ilmu LILLAH  BILLAH LIROSUUL BIRROSUL, tahu LINNAFSI BINNAFSI.apa sudah konsekwen!. Semua orang alim orang yang berilmu yang tidak konsekwen dengan ilmunya, itu sama dengan iblis bahkan lebih sesat dan lebih menyesatkan  dari pada iblis!.

Thursday, 26 July 2012

Kenapa GALAU.....



Ada yang menarik saat membahas ayat-ayat tentang puasa ini (QS. 2:183-188). Ayat-ayatnya diawali dengan perintah untuk melaksanakan puasa agar menjadi orang bertakwa (QS.2:183). Setelah itu pada akhir rangkaian ayat, Allah berfirman: “Dan janganlah sebagian diantara kamu memakan harta sebagian diantara kamu dengan cara yang bathil” (QS.2:186). Hal ini mengindikasikan bahwa ibadah puasa seseorang seharusnya dapat membuat orang tersebut tidak memakan harta yang bukan haknya. Jadi bohong kalau setiap tahun puasa, tapi korupsi, suap menyuap dan mark-up tidak berhenti. Ada yang salah dengan puasa orang tersebut. Hal ini logis, dalam ibadah puasa, kita dilatih untuk menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami istri. Tentunya makanan dan minuman yan ada di rumah kita merupakan harta yang halal. Lalu pasangan pun adalah sesuatu yang halal karena telah diikat dengan ikatan yang sah. Logikanya, yang halal saja tidak boleh dinikmati karena puasa, apalagi yang haram. Oleh karenanya orang yang lulus dalam training atau perkaderan Ramadhan seharusnya bisa lebih sensitif mana yang halal dan mana yang haram. Maka kalau saya boleh usul ke KPK, saya akan usulkan bulan Ramadhan menjadi bulan anti-korupsi.
Lalu mari kita lihat pertengahan ayat, Allah swt. berfirman : “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentangKu, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku akan menjawab doa orang yang berdoa kepadaKu, maka tunaikanlah kewajiban dan yakinlah, agar mereka mendapat petunjuk” (QS.2:186). Kalau kita melihat ayat ini secara sekilas, maka kita tidak akan menyangka bahwa ayat ini berada di tengah-tengah perbincangan puasa. Hal ini jelas karena tidak ada satu kata pun yang mengindikasikan keterkaitannya dengan puasa. Tapi biar bagaimanapun ayat ini terselip diantara perbincangan puasa. Maka pasti ada hikmah dan makna mengapa Allah swt. meletakan ayat ini di tengah-tengah rangkaian ayat puasa. Kalau kita coba kaitkan, hal ini berarti puasa bisa membuat manusia lebih dekat dengan Allah swt. Lalu setelah dekat dengan Allah, maka doa atau permintaan orang tersebut akan dijawab oleh Allah. Lantas, bagaimana puasa dapat membuat seseorang dekat dengan Allah? Mari sejenak kita memahami hakikat diri kita terlebih dahulu. Siapa kita? Kita ini adalah makhluk Allah berjenis manusia. Imam Al Ghazali mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari 2 unsur, yakni jasad dan ruh. Unsur jasad atau jasmani ini diciptakan Allah dari saripati yang berasal dari tanah (QS.23:12). Dalam ayat lain bahwa jasad ini berasal dari air mani yang bercampur (QS.76:2). Intinya jasad ini diciptakan dari sesuatu yang hina dan rendah. Lain lagi dengan unsur yan satunya yaitu ruh. Ruh ini berasal dari zat Allah yang ditiupkan ke dalam jasad tadi (QS.15:29)(QS.38:72). Jasad dan ruh ini tidak dapat dipisahkan namun dapat dibedakan. Kalau jasad saja tanpa ruh, namanya mayyit. Kalau ruh saja tanpa jasad, wallahu a’lam apa namanya. Namun dapat dibedakan karena asalnya berbeda seperti yang telah disebutkan.
Kalau Isaac Newton berhasil menemukan teori gravitasi, maka ini pun berlaku terhadap ruh dan jasad tadi. Jasad yang asalnya dari tanah, kecenderungannya adalah kembali ke tanah. Sehingga jasad kita inilah yang membuat kita menyukai hal-hal yang bersifat tanah. Kita suka makan dan minum, asal keduanya dari tanah. Kita menyukai lawan jenis, lawan jenis terbuat dari tanah. Ibu-ibu menyukai perhiasan, perhiasan tersebut ditambang dari tanah. Benda-benda yang asal dari tanah ini, oleh kita sering disebut hal-hal duniawi. Hasrat kita untuk kembali ke tanah ini, oleh kita sering disebut hawa nafsu. Sebaliknya, ruh karena asalnya datang dari Allah Yang Maha Suci, maka kecenderungannya ingin kembali ke asalnya. Oleh karena asalnya dari Tuhan, maka kecenderungan ruh ini ingin dekat dengan Tuhan. Unsur ruh ini dalam keseharian sering kita sebut hati nurani atau fithrah. Permasalahan yang timbul adalah kita lebih sering memenuhi keinginan-keinginan rendah atau hawa nafsu kita. Hal ini menyebabkan si ruh terpenjara dalam jasad sehingga tidak bisa dekat dengan asalnya. Sehingga ada istilah “lubuk hati yang paling dalam”, inilah perilaku sebagian besar manusia, menenggelamkan ruh ke dasar hati yang paling dalam. Padahal seharusnya ruh lah yang mengendalikan hawa nafsu. Nah karena ruh ini ingin kembali mendekati Allah, namun gagal, maka menjeritlah ia. Inilah sebenarnya penyebab utama dari sindrom galau. Galau terjadi saat nurani kita terkurung oleh hawa nafsu dan belum bisa mendekati asalnya yaitu Tuhan. Maka orang yang dekat dengan Tuhan sudah pasti anti-galau.
Barulah nyambung dengan pembahasan tentang puasa. Puasa ini adalah sarana untuk memperlemah hawa nafsu kita. Dalam puasa kita tidak boleh makan, minum dan berhubungan badan supaya jasad kita lemah. Kalau jasad kita sudah lemah, maka ruh akan bebas bergerak untuk mendekati asalnya yaitu Tuhan. Kalau tidak percaya, coba tanyakan ke orang-orang yang sudah lanjut usia. Lebih kuat mana keinginan untuk beribadah saat sudah 60 tahun, atau 17 tahun? Biasanya orang tersebut menjawab lebih kuat saat sudah 60 tahun. Hal ini karena fisiknya sudah lemah, sehingga ruh nya lebih longgar untuk bergerak. Lantas bagaimana kalau kita sudah dekat dengan Allah? Seperti kata ayat tadi, Allah akan menjawab semua permintaan kita. Tapi ingat, cara menjawab Allah tuh bermacam-macam. Allah bisa menjawab dengan kontan mengabulkannya karena Allah tahu kita sanggup menerimanya. Allah bisa menjawab tidak mengabulkan langsung apa yang kita minta melainkan menggantinya dengan yang lebih baik. Hal ini karena Allah lebih tahu mana yang kita lebih sanggup dan menjadi kebaikan untuk kita. Allah bisa saja menjawab tidak mengabulkannya di dunia, tapi jadi tabungan yang akan meringankan kita di akhirat. Intinya jawaban Allah terhadap doa orang-orang yang dekat denganNya bisa bermacam-macam, namun semua itu pasti baik di mata Allah. Sehingga tidak ada alas an bagi orang beriman (yang sudah dekat dengan Allah) untuk galau, karena apabila dia dianugerahi nikmat dia bersyukur, apabila ditimpa musibah dia bersabar. Syukur dan sabar adalah suatu kebaikan bagi pelakunya. Maka kalau tidak syukur, ya sabar, tidak ada tuh kata galau dalam hidup kita.

Thursday, 28 June 2012

Kepada Seluruh Pengamal Sholawat Wahidiyah dan Mu'minin mu'minat Untuk melaksanakan Mujahadah Nisfus Sa'ban, yaitu Rabu Malam Kamis 4 Juli 2012,
yaitu sehabis sholat magrib membaca surat yasin 3 kali Hataman dan di lanjutkan Mujahadah Bilangan 717 x3 rambahan
Demikian atas perhatiannya di sampaikan Jaza Kumullohu Khoiroti Wasa'adatiddunya wal akhiroh amin ya robbal 'Aalamin

sangat di anjurakan dengan berjama'ah

Wednesday, 27 June 2012

Hati-hati dengan KAROMAH....




Hadrlotul Mukarrom KH Abdul Madjid Ma'ruf Qs wa Ra
AL-HIKAM I HaL 21

ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ


{مَا اَرَادَتَ هِمّةُ سَالِكِ اَنْ تَقِفَ عِنْدَ مَا كَشِفَ لهَاَ إِلاّ وَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيْقَةِ : فَإِنَّ الَّذِي تَطْلُبُهُ اَمَامَكَ, وَلاَ تَبَرّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوِّنَاتِ إِلاَ وَنَادَتْكَ حَقَآئِقُهَا : إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرٌ}
Seorang saalik, orang yang sedang Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW kalau terpengaruh oleh adanya pengalaman-pengalaman yang manis yang lezat yang menyenangkan, pengalaman-pengalaman rohani atau dzauqon atau mukasyafah yang menjadikan orang terpengaruh, terpengaruh kepada pengalaman ini, tahu atau merasa atau lain-lain kok! menjadi terpengaruh, ibarat orang yang berjalan terpengaruh soal-soal di sekeliling jalan, otomatis menjadi lambat perjalanan itu, atau sama sekali mandeg. Maka dalam keadaan yang demikian selalu diingatkan
oleh “hawaatiful haqiqot”. “Hawaatif” suara ghoib dari Tuhan.

سِرْوَجِدّ فِىالسَّيْرِ لاَ تَقِفْ !

“ayo terus, jangan berhenti”!.
فَإِنَّ الَّذِي تَطْلُبُهُ اَمَامَكَ

“Apa yang kamu tuju berada didepanmu, masih juga”!.

وَهْوَ وُصُوْلَكَ اِلَى الْمَوْلَى وَعَدَمُ رُكُوْنِكَ اِلَىشَئٍ سَوَاهُ

“Yaitu wusulmu kepada Tuhan, dan tidak cenderungnya hatimu kepada sesuatu selain Dia Tuhan “.

            Dus! pokoknya jangan sampai kita terpengaruh oleh segala sesuatu lahiriyah maupun batiniyah!. semua harus kita gunakan untuk Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW!. Bahkan sekalipun kita sudah berada dalam tingkat kesadaran, sudah menguasai LILLAH atau BILLAH, jangan sampai terpengaruh oleh soal-soal yang mempengaruhi, harus terus maju dan meningkatkan kesadaran!. Terus disempumakan! kalau mandeg / berhenti, merasa sudah LILLAH BILLAH, sudah mujahadah, sudah merasa tepat, itu namanya terpengaruh! Tidak boleh!.

وَلاَ تَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمُكَوِّنَاتِ إِلاَّ وَنَادَتْكَ حَقَآئِقُهَا : إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرٌ
            Begitu juga kalau ada pengalaman yang selalu memikat hatinya, seperti umpamanya dihormati orang lain, soal-soal ekonominya menjadi mudah, apa yang diusahakan berhasil dengan sukses, atau umpamanya lagi diberi keistimewaan-keistimewaan khoriqul 'adah, mudah memperoleh alamat-alamat dan berita-berita sirri, atau macam-macam khoriqul 'adah yang lain-lain, bisa menghilang, bisa berjalan di atas air, bisa lap!. sampai jagad sana tahu keadaan hati atau kehendak kawannya, tahu apa-apa pada jarak jauh, atau... yah! pokoknya macam-macam pengalaman atau keistimewaan-keistimewaan yang diperolehnya. Harus terus maju dan meningkat Fafirruu Ilallohi wa Rosulihi SAW. Jangan sampai mandeg kena pengaruh-pengaruh!. Dan sesungguhnya keadaan-keadaan atau pengalaman-pengalaman itu sendiri selalu memperingatkan :

إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرٌ
“Aku ini hanya ujian. Maka kamu jangan terpengaruh kepada-KU”!.

            Kalau kamu terpengaruh kepada-KU, berarti kamu mengabdikan diri kepada-KU. Berarti mengabdikan diri kepada nafsu! berarti kufur kepada Tuhan. Faala Takfur!.

            Para hadirin-hadirot, ini soal peningkatan dan penyempurnaan, kita harus senantiasa meningkat dan menyempurnakan, jangan sampai merasa puas begitu saja! harus terus, terus meningkat dan menyempurnakan!. Bidang-bidang yang belum kita isi, atau sudah diisi tapi belum sempurna, harus selekas mungkin kita isi dan kita sempurnakan! Perlu para hadirin hadirot, kita mengoreksi, kita dan keluarga, dan perjuangan, apakah semua sudah terisi atau belumdan kalau sudah terisi apa sudah sempurna artinya sudah tidak ada negatifnyakah, atau masih banyak kekurangannya?. Ini perlu sekali kita koreksi!. Dalam rangka peningkatan dari penyempurnaan ini.