Dus! ada orang yang (tapi jarang) menjadi sadar tanpa
berjuang tanpa usaha tanpa mujahadah-mujahadah. Tahu-tahu dia dijadikan budi
tarik oleh Alloh SWT. “AHKDHOMUN NAASI JADHBAN AL ANBIYA' yang paling besar
mendapat jadhbu tarikan adalah para anbiak dan Mursaluun ‘alaihimus sholaatu
wassalam Tapi itu jarang sekali Umumnya ya dengan berjuang dengan usaha dengan
mujahadah-mujahadah. Sesungguhnya berjuang atau usaha atau mujahadah itupun
ditarik oleh Alloh SWT. Ditarik dengan jalan perjuangan, usaha atau mujahadah.
Ya sama dengan soal lahiriyah. Orang kaya misalnya. Pada umunmya dari hasil
berjuang usaha, bekerja dengan gigihnya. Tapi ya mungkin ada tapi jarang sekali
tahu-tahu menjadi orang yang kaya mendadak. Entah bagaimana jalannya. Mungkin
mendapat warisan dan lain-lain. begitu juga soal kesadaran.
Maka dikatakan “titik” penghabisan dari “Salikin”
merupakan titik permulaan bagi “Majdhuubiin”. Saalik yang sudah sampai ke
tingkat bebas dari imprialis nafsunya merupakan titik, permulaan dia dijadhbu
ditarik. Atau dibalik.
نِِهَايَةُ
الْمَجْذُوْبِ بِدَايَةُ السَّالِكِ
Artinya:
Orang yang majdhub ditarik tidak melalui jalan usaha
akhirnya juga akan berjuang usaha dan mujahadah-mujahadah dan lain-lain. Yaitu
dalam rangka “Yukti Kulladhii haqqin haqqoh”. Dia usaha dan berjuang tapi
hatinya senantiasa kepada Alloh.
Tapi dikatakan ada dua macam, orang yang menuju
kesadaran kepada Alloh. Yang pertama membuat makhluk sebagai dalil kepada Alloh
dan yang kedua menjadikan Alloh sebagai petunjuk untuk menunjukkan makhluk.
Maklum yang pertama tadi belum sadar kepada Alloh SWT sehingga makhluk dianggap
mampu menunjukkan kepada KHOLIQ Ya, maklum mereka ini masih buta terhadap Alloh
SWT. yang kedua tadi, yaitu orang yang membuat KHOLIQ sebagai petunjuk
terhadap, makhluk. Dan ini yang benar yang tepat. Alloh itu asli sumber dari
segala. yang majdhub. Golongan yang kedua ini dapat menempatkan. segala sesuatu
di tempatnya. Oleh karena Alloh itu sumber asal atau Pencipta atau wujud
pertama, maka mereka itu dapat menempatkan Alloh pada kedudukan yang
sebenarnya, di tempat yang pertama pula. sebagai petunjuk yang menunjukkan
segala sesuatu. Orang yangmembuat Alloh sebagai petunjuk mereka tahu
sesungguhnya. Barang yang sesungguhnya yaitu soal yang paling pokok adalah
Alloh yang punya.
“FA ASBATAL AMRO MIN WUJUbDI ASLIHI”
(Makhluk dianggap, ada karena
dari asalnya dari Alloh SWT).
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah s.a.w melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w. wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abu bakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
Tersebutlah seorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa’labah bin
Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasalam dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam
mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah
seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang
mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menyangkut
perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur.
Dia berlari menuju ke sebuah gunung yg
berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya. Tsa’labah tinggal
disana dan senantiasa bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menangis
selama empat puluh hari. Kepergian Tsa’labah membuat Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasalam merasa kehilangan.
Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi
shalallahu ‘alaihi wasalam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu
menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang
laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan
kepada-Ku.'”
Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam
memerintahkan para sahabatnya untuk mencari Tsa’labah. Beliau shalallahu
‘alaihi wasalam berkata, “Wahai Umar (ibn Khaththab) dan Salman (al-Farisi)!
Pergilah cari Tsa’labah bin Aburrahman, lalu bawa kemari.”
Keduanya pun lalu pergi hingga sampailah
mereka menyusuri perbukitan di sekitar Madinah. Dalam pencariannya itu mereka
bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.
Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu
seorang pemuda di antara perbukitan ini?”
Penggembala itu menjawab, “Apakah yang
engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?”
“Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari
dari neraka Jahanam?” tanya Umar.
Dzaufafah menjawab, “Karena, apabila
malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan
tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku
dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan-Mu!”
“Ya, dialah yang kami maksud,” tegas
Umar.
Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.
Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara
perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata,
“Wahai Tuhan!, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan
tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan-Mu!”
Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya.
Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Apakah
Rasulullah telah mengetahui dosaku?”
“Aku tidak tahu, yg jelas kemarin beliau
menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.”, jawab
Umar.
Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau
bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan shalat”
Ketika mereka menemukan Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasalam tengah melakukan shalat, Umar dan Salman radiyalahu ‘anhuma
segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’labah mendengar bacaan ayat Allah yang dibaca
Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, dia tersungkur dan jatuh pingsan.
Setelah Nabi
shalallahu ‘alaihi wasalam mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar! Wahai Salman! Apakah yang telah kau lakukan
Tsa’labah?”
Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai
Rasulullah!”
Maka Rasulullah berdiri dan
menggerak-gerakkan Tsa’labah yg membuatnya tersadar.
Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam
mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang apat menghapus
dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?”
“Benar, wahai Rasulullah.”, jawab
Tsa’labah.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam
bersabda, “Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di
akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS al-Baqarah: 201)
Tsa’labah berkata, “Dosaku wahai
Rasulullah, sungguh sangat besar.”
Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam
bersabda, “Akan tetapi kalamullah lebih besar.”
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam
memerintahkan Tsa’labah agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama
delapan hari.
Mendengar Tsa’labah sakit, Salman pun datang
menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam lalu berkata, “Wahai
Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit
keras.”
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam datang
menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi
Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang
engkau rasakan?”
“Seperti dikerubuti semut pada tulang,
daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah.
Beliau bertanya, “Apa yang kau
inginkan?”
“Ampunan Tuhanku”, jawabnya.
Maka turunlah Jibril ‘alaihissalam dan berkata,
“Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman
kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi
kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’ (HR.
Bukhari dan Muslim)
Maka segera Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasalam membertahukan hal itu kepada Tsa’labah. Mendengar berita itu, terpekiklah
Tsa’labah dan langsung meninggal.
Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam
memerintahkan agar Tsa’labah segera dimandikan dan dikafani.
Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasalam berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai
pemakamannya, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau
berjalan sambil berjingkat-jingkat.”
Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
“Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena
banyaknya malaikat yang turun melayat Tsa’labah.”
Ini
alasan dari keterangan sebelumnya tadi. Alloh SWT terhijab oleh sesuatu, yang
terhijab manusianya. Terhijab oleh nafsunya. Sebab kalau Alloh SWT dapat
dihalang-halangi di tabir otomatis tertutup. Hijab itu sesungguhnya boleh
diartikan sebagai “penjaganya”. Seorang Bupati misalnya ada polisinya ada
penjaganya. Tapi pada zaman sahabat, tidak ada penjaga-penjaga. Waktu Sayyidina
Umar misalnya, rakyat bebas bertemu dengan beliau. Begitu juga yang lainnya,
tapi pada zaman akhir-akhir ini, karena situasi raja-raja Islam membuat “hijab”
atau penjaga. Karena waktu itu mulai timbul pembunuhan-pembunuhan dan
sebagainya, pokoknya gangguan keamanan makin menjadi-jadi, Ialu diadakan
“hijab” atau penjaga atau polisi.
Kalau
Alloh SWT kaling-kalingan ada “hijab” nya, ada penjaganya, itu berarti Alloh SWT terhalang atau kaling-kalingan
oleh tabir itu. Padahal Alloh SWT Maha Mengetahui. Tidak hanya orang yang sowan
menghadap kepada Alloh SWT. Yang diketahui. Tapi ... yaitu seperti sudah kita
maklumi, Alloh SWT Maha Mengetahui kepada segala makhluk-NYA. Bahkan jauh lebih
jelas, lebih terang dari pada pengetahuan si makhluk itu terhadap diri sendir !
Malah,
sesungguhnya makhluk itu sendiri tidak akan tahu dirinya kalau tidak diberi
tahu oleh Alloh SWT. Tahunya makhluk BILLAH. Inilah yang perlu disadari oleh
hati atau jiwa tiap manusaidisamping LILLAH.
Dan kalau Alloh SWT ada hijabnya berarti Alloh SWT
terbatas.
{وَكُلٌّ حَاصِرٍلشَىْءٍ فَهُوَ لَهُ قاَهِرٌ }
Dan jika Alloh SWT ada yang membatasi, otomatis
berarti dipaksa oleh yang membatasi itu. Dus mudahnya Alloh SWT tidak
terhalang. Yang terhalang atau terhijab adalah manusianya. Alloh SWT Maha
Mengetahui. Yang buta adalah hamba-NYA. Sebab selalu menyembah kepada nafsunya.
Senantiasa nuruti nafsunya. Senantiasa mencari-carikan buat nafsunya
Mari
para hadirin-hadirot kita koreksi diri kita masing-masing !. Kita senantiasa
mencari-carikan buat nafsu atau karep kitakah, atau mengabdikan diri kepada
Alloh SWT ?. Mari kita koreksi sendiri-sendiri !.
Alloh
SWT sama sekali tidak dapat dipaksa, tetapi Alloh SWT... “WAHUWA QOOHIRU FAUQO “IBAADIHI”. Alloh
memaksa seluruh hambanya memaksa seluruh makhluqnya. Jika Dia
menghendaki ... di cipta, dan jika Dia menghendaki ... dihancurkan sama sekali.
Tidak yang dapat menghalang-halangi.
Jika
Alloh Ta’ala menghendaki sesuatu, cukup mengatakan “KUN”beradalah … “FAYAKUUNU” … maka TERWUJUDLAH sesuatu
ini.
Mari
hadirin-hadirot kita tidak hanya terapung-apung saja. Tapi mariusaha sampai mendasar di…lautan “WAHDAH” lautan “TAUHID” KE-ESAAN TUHAN ! jangan
sampai kita istilahnya orang membakar kereta …. “magel” tidak masak
mentahpun tidak.
Jika
engkau ingin bahagia dunia akhirot terutama, jika engkau ingin inenjadi hamba
Alloh yang sejati, tidak menyembah kepada imprialis nafsu, kepada berhala
iblis, bebaskanlah dirimu, keluarlah dari nafsumu yang terkecam ! baik
lahiriyah maupun batiniyah. Kalau disebut “nafsu” dengan sendirinya mengenai
batiniyah. Sedangkan lahirnya hanya merupakan akibat atau efek dari nafsu. Di
sini disebutkan lahiriyah, tetapi sesungguhnya itu akibatnya. Mengumpat,
membicarakan orang lain, ngrasani, membunuh, merugikan dan lain sebagainya.
Akibat atau efek nafsu yang batin, merasa besar, takabur, ujub dan lain-lain
sebagainya. Takabur merasa besar, dan membanggakan diri, sombong dan congkak
lebih-lebih. Definisi dari.... ujub, adalah ;
Ujub, ialah merasa mempunyai kelebihan atau kebaikan
atau keistimewaan. Orang yang tidak dirinya jelek, berarti merasa mempunyai keistimewaan ini berarti ujub. Dan otomatis mengaku.
Tidak menyadari bahwa Alloh lah yang memberi. Takabbur ialah merasa lebih besar
lebih baik lebih dari pada lainnya. Lebih berjasa, lebih kaya, lebih pandai,
lebih terhormat dari lainnya. Ini, takabbur. “Aku mujahadah sedang kawanku tidak
mujahadah”. Merasa begini, ini namanya takabbur ini ! Saya melakukan kebaikan
ini; tapi kawan saya itu tidak. Ini takabbur dobel. Ya ujub ya takabbur !
Pernahkah
kita para hadirin-hadirot, merasa seperti itu ?. Mari kita koreksi ! Kalau iya,
mari kita bertaubat ! Mari membulatkan tekad, tidak akan mengulangi lagi ila
yaumul qiyaamah ! Mudah-mudahan kita mendapat jangkungan Alloh wa. Rosuulihi
SAW yang sebanyak-banyaknya !.
Takabbur
atau ujub atau riya’, itu membatalkan amal ! Amal yang dicampuri ujub atau
takabbur atau riya’. Tidak diterima Alloh SWT. Bahkan disamping tidak diterima,
amal yang didasari ujub dan riyak lebih-lebih takabbur tadi, besok pada yaumul
qiyaamah amal itu akan dirupakan siksa untuk menyiksa orang yang beramal
bersangkutan. Kita pernah atau tidak ujub takabbur atau riya’ . Takabbur atau
ujub atau riya’ ada yang terang-terangan, ada yang samar-samar atau sindiran. Ada yang dengan bicara
lisan, ada yang dengan bicara keadaan dan bicara isyarat, semuanya itu tetap
takabbur. Sekali takabbur tetap takabbur sekalipun dengan gaya dan cara bagaimanapun juga, tetap
takabbur ! Lha ini perlu adanya senantiasa koreksi.
Disamping
BILLAH dan LILLAH didalam wahidiyah ada dua arah dari atas dan dari bawah di
samping mengutaman dari atas yaitu BILLAH , juga tidak mengurangi yang dari
bawah LILLAH termasuk dari bawah yaitu senantiasa meniti-niti kemungkinan
timbulnya ujub riya’ takabur selalu di koreksi pernah atau tidaknya kita
ngarasani atau adu-adu atau mengumpat atau merugikan lebih-lebih merugikan
orang lain, menusuk ataumerluakai
perasaan orang lain ini semua harus selalu dikoreksi dan kemudian bertobat mohon ampun kepada
Alloh SWT. Dan jika perlu juga minta maaf kepada yang bersangkutan !. Sebab
mungkin, merugikan orang lain tapi tidak merasa babwa merugikan. Mungkin !. yah
pokoknya segala sesuatu yang terkecam yang merugikan, baik merugikan dirinya
sendiri maupun dan lebih-lebih merugikan orang lain moril maupun materiil,
harus kita buang jauh-jauh, harus kita hindari jauh-jauh jika kita ingin
selamat dan bahagia, ingin senantiasa dapat mendengarkan atau bahkan menuruti “NIDAAUI
HAQQI” panggilan Tuhan Alloh SWT. Kalau ingin bahagia abadi dunia akhirot, kita
harus cancut tali wondo. Bertekad dan berjuang menghancur luluhkan sifat-sifat
nafsu yang terkecam.
Nafsu
itu sesungguhnya jiwa atau roh jiwa itu mempunyai keadaannya sendiri-sendiri.
Keadaannya yang buruk, dinamakan “NAFSU AMMAROH”. Nafsu yang selalu mengajak
menyeret kepada keburukan. Mengajak kepada perbuatan-perhuatan yang terkecam
dan merugikan. Ada
lagi “NAFSU SYAITHONIAH”. Yang baik di sebut “NAFSUL MUTMAINNAH”. Nafsu yang
tenang tentram. “NAFSUL MARDIYYAH” nafsu yang diridloi. Yang diridloi Alloh
SWT. Nafsu yang senantiasa ridlo kepada Alloh SWT. Dia senantiasa menyadari
bahwa dirinya sebagai hamba, dan Alloh SWT sebagai Tuhannya. Seperti itu yang
banyak diajarkan pada kanak-kanak .
“RODLIINA
BILLAHI ROBBAN”… saya rela saya rodlo saya puassepuas-puasnya kepada Alloh sebagai Tuhan kita saya puas sekali
mempunyai Tuhan Alloh SWT. Saya puas sekali menjadi hambanya Tuhan Alloh SWT
yang Maha Rohman-Rohim ... ini tidak hanya diucapkan atau diangan-angan, tapi
harus dirasakan dengan sungguh-sungguh !. Jika orang mau merasakan dengan
sungguh-sungguh, pasti dia ... dia menemukan syurga, bahagia dunia dan
akhiratnya. Tidak usah menunggu nanti di akhirot di dunia pun dia sudah
mengenyam
kenikmatan dan kebahagiaan yang sungguh-sungguh yang
tidak dialami oleh orang lain yang tidak merasakan “rodlina ...” seperti di
atas.Sekalipun keadaan lahiriyah Ala terutama soal ekonomi misalnya, senantiasa
kelihatan berat, selalu buntu jalan usahanya, tetapi sesungguhnya dia berada di
dalam syurga dunia. Bahagia! “JANNATUN MUAJJALAH”. itu kalau orang
sungguh-sungguh mengecakkan “RODLUNAA BILLAAHI ROBBAN WA BIL ISLAAMI DINAN”…
Puas sepuas-puasnya Islam sebagai agama kita. Menyerah bongkokan kepada Alloh
SWT ! Dengan arti sepuas-puasnya, melaksanakan apa saja yang dikehendaki Alloh
SWT. Puas sepuas-puasnya menjauhi apa saja yang dilarang oleh Alloh SWT !.
Seandainya disuruh bunuh diri sekalipun, dia tetap merasa puas sepuas-puasnya,
gembira seriang-riangnya !. Karena ini diperintah oleh Alloh SWT, Tuhan kita
yang rohman-rohim.
“WA BI MOHAMMADIN NABYYAN”
Puas
sepuas-puasnya Kanjeng Nabi Mohammad Rosuululloh SAW sebagai Nabi kita. Nabi
yang penghabisan. “SAYYIDDUL ANBIYAK WAL MURSALIN”. Puas sepuas-puasnya kita
dijadikan ummatnya Rosullulloh SAW !.
Begitu
seharusnya para hadirin-hadirot !. Jangan sampai hanya kita baca di bibir saja
!. Di samping kita baca, kita harus fahami benar-benar, kita rasakan benar,
para hadirin-hadirot. Sudahkah kita merasakannya para hadirin-hadirot ?. Mari
para hadirin-hadirot kita usaha sekuat mungkin !.
“UKHURUJ MIN AUSHOOFI BASYARIYYATIKA” ......
Jika engkau ingin menjadi hamba Alloh yang sejati yang
senantiasa diperkenankan sowan menghadap dihadapan Alloh SWT, ingin di ridloi
oleh Alloh SWT, ingin dikumpulkan para Kekasih Alloh SWT, ingin diselamatkan
dari godaan iblis dan nafsu yang selalu menjerumuskan kita, maka kita harus
berjuang sekuat mungkin untuk mengikis habis sifat-sifat nafsu yang senantiasa
merugikan itu !. Kita kikis habis ! kita bunuh, apabila tidak bisa kita arahkan ! kalau tidak
manfaatkan ! Harus kita kikis habis !. Tapi kalau tidak mampu untuk mengarahkan
untuk memanfaatkan harus kita manfaatkan kita arahkan untuk mengabdikan diri
kepada Alloh SWT !.
Sedangkan
sifat-sifat nafsu yang diridloi Alloh SWT harus kita pupuk kita suburkan terus
dan harus terus ditingkatkan, ditingkatkan mutunya, ditingkatkan kebaikannya !.
Itu bisa dilaksanakan oleh mereka yang sudah bebas dari nafsunya !
Alloh
SWT,... senantiasa mengundang memanggil-manggil. “Wahai hamba-KU,... wahai
hamba-KU !."
Para hadirin-hadirot, jika seandainya orang tahu,
mengerti kepada firman-Nya Alloh SWT yang tanpa huruf dan suara dan tanpa
susunan, hamba-Nya yang dipanggil yang ditimbali, jika sekiranya tahu, ... mati
seketika para hadirin-hadirot !. Saking nikmatnya, saking lezatnya, saking
terharunya, para hadirin-hadirot !. Mengapa tidak para hadirin-hadirot !. Kita
diundang oleh Kepala Desa misalnya. Undangan yang tidak merugikan, yang tidak
menakutkan ini bangga kita. Seorang rakyat desa dipanggil, ditimbali oleh
Kepala Desanya, Oleh Pak Lurahnya, diajak jagongan, ini bangga para
hadirin-hadirot. Ini baru kepala desa yang memanggil !. sudah begitu
kemaremannya lebih-lebih makin atas. Lebih-lebih para hadirin-hadirot. Alloh
SWT yang Maha Luhur para hadirin-hadirot !. Maha Sempurna !. Maha Pemurah dan
Pemberi selalu, para hadirin-hadirot. Lebih-lebih para hadirin-hadirot,
dipanggil oleh Tuhan yang, hidup kita ini tergantung hanya kepada-NYA, para
hadirin-hadirot !. Betapa para hadirin-hadirot !. Mari para hadirin-hadirot.
Sekalipun kita jauh dari pada itu, mari para hadirin-hadirot, kita sadari !.
Kalau tidak, kita sudah keterlaluan para hadirin-hadirot !.
Kalau
orang sudah bebas dari imperialis nafsu, “WA TAKUUNU MIN HADROTIHI QORIBAN”.
Dekat, dekat dari Alloh SWT. Kalau orang dekat dari Alloh SWT jangan ditanyakan
lagi kebahagiaan dan keuntungannya.
Seorang rakyat yang dekat dengan pamong, lebih-lebih
kepada Kepala Desanya, rakyat lainnya yang bermaksud berbuat jahat kepadanya
tidak berani !. Lebih-lebih makin dekat dengan pejabat yang lebih atas lagi,
makin ditakuti dan disegani oleh lainnya !. Orang lain tidak berani
sembarangan. Lebih-lebih dekat kepada Alloh SWT,... lebih-lebih para
hadirin-hadirot !.
Begitulah
nabi Ibrohim ‘alahis salam. “MAQOM IBROHIM”. Beliau, disebutkan
وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ
آمِنًا
Barang
siapa masuk kedalamnya pasti aman. Mengapa tidak para hadirin-hadirot !. Sebab
orang yang masuk kesitu otomatis menjadi Kekasih Alloh SWT yang Maha Kasih
Sayang, Maha Kuasa !. Maha Menjaga, para hadirin-hadirot !. Lha Nabi Ibrohim
‘alaihis salam kok dimasukkan api tersiksa begitu ?. Ini lain bidang lain hal
para hadirin-hadirot !.
Para hadirin-hadirot !. Mengenai soal yang merugikan.
Tidak selalu hal yang enak itu menguntungkan. Tapi banyak soal yang enak dan
kepenak malah merugikan, ... banyak, para hadirin-hadirot !.. Sebaliknya soal
yang tidak mengenakkan itu kok mesti merugikan, belum tentu para
hadirin-hadirot!. Banyak soal-soal yang tidak enak tapi menguntuhkan !. Seorang
petani, mencangkul, rekoso, payah, tapi menguntungkan baginya !. Seorang yang
bekerja berat, tapi menguntungkan pada mereka !. Malah disamping itu mereka
puas !. Puas menjalankan apa yang nampaknya sengsara dan berat itu !. Kanjeng
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dimasukkan api yang mulat-mulat,itu menguntungkan
sekali kepada beliau para hadirin-hadirot !.Dan toh ketika beliau dimasukkan
kedalam api itu sama sekali tidak merasa panassedikitpun !. terasa dingin nikmat hadirin-hadirat ! tidak terasa panas
sedikitpun !. Terasa disyurga parahadirin-hadirot makin dekat sekali kepada Alloh SWT !. Ya mudah-mudahan
para hadirin-hadirot di samping syafaat dari Rosululloh SAW , kita mendapatkan
barokahnya dari Nabi Ibrohim ‘alaihis salam yang
“WAMAN BAKHOLAHUKAANA AAMINAN” !. Amiin !
Jadi
kalau kita sungguh-sungguh ingin hidup yang semestinya, kita harus .... yang
seperti itu tadi !. istilah lain kita harus senantiasa menghancurkan, mengusir,
membongkar ... soal negatif yang tidak semestinya itu tadi ! Kita isi soal-soal
yang semestinya, yang menguntungkan !. senantiasa “TAKHOLLI”, ... yaitu
mengosongkan, menggempur yang negatif dan senantiasa membangun !.
Bangunan-bangunan yang negatif harus kita gempur !. Selanjutnya kita harus
senantiasa membangunan bangunan-bangunan yang diridloi Alloh wa Rosuulihi SAW
Bangunan-bangunan yang diridloi Alloh SWT kita suburkan, kita sempurnakan, kita
up grade istilah sekarang !. Yaitu bangunan “ikhlas”, bangunan “ridlo”,
bangunan “tawakkal”, bangunan -bangunan yang diridloi Alloh SWT !.
Bangunan-bangunan
yang merugikan harus kita buldoser, kita hancurkan !. Bangunan “Linnafsi
binnafsi” serta takabbur, ujub riya' dan sebagainya harus kita hancur
leburkan!.
Para hadirin-hadirot, kalau kita memang sungguh-sungguh
ada kemauan, otomatis senantiasa usaha !. Senantiasa menggali, senantiasa
berinisiatif !. Mari para hadirin-hadirot kita koreksi Dan mari kemampuan yang
ada pada kita ini kita laksanakan Para hadirin-hadirot, sekalipun sudah maklum,
dan saya sendiri mengobrolkan disamping uraian-uraian dari Pusat, mari para
hadirin-hadirot, kesempatan yang kita milili ini kita gunakan untuk itu para
hadirin-hadirot !
Para hadirin-hadirot!. Sesugguhnya kemampuan yang kita
miliki ini adalah justru untuk itu mari hadirin-hadirot !. Kalau tidak untuk
itu, namanya kaki dibuat kepalakepala
di buat kaki. Kaki mestinya di bawahkita balik diatas. Kepala seharusnya diatas, kok kita taruh, di bawah jadi
kaki para hadirin-hadirot!. Kita akan, tahu benar-benar, nanti kalu sudah mati,
para hadirin-hadirot !. Kalau kita memang ragu-ragu, silakan teruskan
ragu-ragu, tapi nanti awas ! Kalau sudah datang saatnya, tidak bisa diundur lagi sekalipun setengah detik, para
hadirin-hadirot !..
Mari
para hadirin-hadirot !. Ya mudah-mudahan pengajian pagi ini benar-benar
mendapat fadlol dari Alloh SWT yang sebanyak-banykanya ! Dari, Rosuulillahi SAW
yang sebanyak-banyaknya, dari Ghousi Hadhaz-Zamani Ra yang sebanyak-banyaknya,
dari ... seluruh Kekasih Alloh ta’ala yang sebanyak-banyaknya ! Amiin ! Amiin !
Amiin ! Yaa Robbal Alammin !
Ya
maaf, mohon maaf yang sebanyak-banyak ! Dan kiranya cukup sekian dulu pengajian
Minggu pagi ini, selanjutnya soal waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau
dari pusat
Pelaksanaan Mujahadah Miladiyyah Kubro akan dilaksanakan pada Hari Kamis malam jum'at Wage Tanggal 9 Januari 20014, Kepada seluruh pengamal Sholawat wahidiyah Dimana pun Berada untuk mempersipkan diri dhohiron wa bathinan guna menghadiri acara tersebut dan dimohon untuk mengadakan/ mengikuti mujahadah penyongsongan yang dilaksanakan di lokasi Miladiyyah bagi yang berada di karisidenan Kediri mulai tanggal 6 Januari 2014 jam 21.00 WIB, atau di daerah masing-masing sesuai dengan jadwal yang telah di sampaikan dari Pusat.
Kepada Seluruh Pengamal Sholawat Wahidiyah Di Manapun Berada
di Sampaikan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1434 H,
Dan Di Himbau untuk Melaksanakan Mujahadah Maqom/ Kubur
Tempat : di pemakaman umum di daerahnya masing-masing
Waktu : Sesuai kondisi masing-masing (boleh Pagi , siang, sore, malam) selama 7 Hari , apabila tidak dilaksanakan di pemakaman umum dapat dilaksanakan di rumah masing-2 tetapi waktu pelaksanaan menjadi 15 Hari
di anjurkan dengan Berjama'ah
Semoga Arwah Para Ahli kubur Di ampuni Dosa nya Oleh Alloh SWT
(Setengah
dari pada tanda-tandanya hati yang mati, yaitu dia tidak merasa menyesal atau
susah prihatin atas keglonjomannya melalaikan kewajiban-kewajiban tho’at atau
atas berlarut-larutnya menjalankan maksiat).
Jika orang hatinya mati, dengan sendirinya dikecam oleh Alloh SWT. Hati
yang mati, dengan sendirinya tidak dapat melihat hidayah dari Alloh SWT !.
Gelap baginya !. Dia tidak dapat membedakan mana yang haq yang benar, dan mana
yang bathil, tidak tahu mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan !.
Sebaliknya, tanda-tandanya hati yang hidup, disini dikatakan :
Tanda-tandanya hati yang hidup, atau alamatnya diridhoi oleh Alloh SWT,
alamatnya diampuni oleh Alloh SWT, yaitu ketika sedang tledor sedang glonjom,
dia secepat kilat sudah tobat dan prihatin. Prihatin karena tledor atau
glonjom, lebih-lebih sampai berlarut-larut kedalam maksiat. Dan diwaktu dapat
menjalankan tho’at dan bertobat, dia menjadi bungah gembira. Gembira bukan
gembira yang menyombongkan dada, tapi bungah gembira karena ditolong oleh Alloh
SWT. Bungah karena mendapat ridho Alloh. Jadi boleh dikatakan bahwa orang
menjalankan tho’at, melakukan perbuatan-perbuatan yang membuahkan manfaat bagi
ummat dan masyarakat, itu tandanya dia diridhoi oleh Alloh SWT. Justru itu dia
menjadi gembira mendapat ridho dari Alloh SWT. Dia berbuat perbuatan yang
diridhoi Alloh SWT yang memberi manfaat dari ummat dan masyarakat, baik lahiriyah
maupun batiniyah. Ketika sedang berlarut-larut menjerumus kedalam maksiat, dia
susah prihatin, sebab merasa dibendu oleh Alloh SWT. Merugikan ummat dan
masyarakat, sekalipun wujud lahirnya seperti memberi manfaat. Malah, sekalipun
lahirnya kelihatan menguntungkan, tapi karena berbuat yang tidak diridhoi Alloh
SWT, itu sesungguhnya merugikan masyarakat!. Jika hatinya hidup dia cepat susah
prihatin dan tobat karena melakukan hal-hal yang dibendu oleh Alloh SWT!.
Para hadirin hadirot, mari ditinjau pengalaman kita bagaimana !. Kita tidak
lepas berbuat baik atau berbuat buruk, tidak lepas dari perbuatan-perbuatan
yang diridhoi Alloh dan menguntungkan dan dari perbuatan-perbuatan yang dikecam
Alloh dan merugikan. Perbuatan yang tidak baik dan tidak buruk, dalam suatu
segi dapat dikatakan baik. Tapi dari segi lain juga dapat dipandang buruk, jika
dipandang dari yang baik. Ringkasnya, perbuatan hanya ada dua macam. Diridhoi
Alloh SWT, atau dikecam dibendu Alloh SWT.
Oleh karena itu mari kita periksa diri kita masing-masing, diridhoi Alloh
SWT-kah atau dibendu dikecam Alloh SWT, ini kita masing-masing bisa mengetahui
berdasarkan alamat-alamat tersebut diatas!. Hati kita masing-masing ini hidup
atau mati, para hadirin hadirot ?. Jika mati, hati kita mati, alangkah rugi
kita terutama besok pada yaumul qiyaamah. Akibat matinya hati didunia, akan
dirasakan diakhirot sak jeg jumbleg selama-lamanya, para hadirin hadirot !.
Sebaliknya, hati yang hidup ketika didunianya, dia akan memetik buah diakhirot
untuk selama-lamanya, para hadirin hadirot, mari diri kita masing-masing kita
tinjau!. Dan mari para hadirin hadirot, kita di beri akal, dan sedikit banyak
menyadari bahwa kita semua ini adalah hamba Alloh yang senantiasa diberi suatu
pemberian nikmat fadhol yang sebanyak-banyaknya setiap detik dalam segala segi.
Mari para hadirin
hadirot, kita senantiasa cancut tali wondo untuk berbuat perbuatan yang
diridhoi Alloh SWT wa Rosuulihi saw !. Yang menghasilkan manfaat bagi ummat dan
masyarakat!. Terutama dalam bidang kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw!.
segala perbuatan apa saja jika tidak dilandasi kesadaran, akan mengakibatkan
kerugian yang sangat besar..bersambung
Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang.
Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”.
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid.
Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah. Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu.
Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya,
“Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata,
“Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”. Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa- llah (Tiada tuhan selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”
Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”
Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi.
Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah.”
Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhoan Allah Robbul Alamin.”
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”
Sahabat………..
Apakah kita pengikut ajaran beliau?
Tetapi sejauh mana kita bisa memaafkan kesalahan orang? Seberapa besar kita mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita pengikut beliau…
Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna, Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan bahwa Beliau adalah teladan yang sempurna.
Semoga Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, junjungan dan teladan kita yang oleh Allah telah diciptakan sebagai contoh manusia yang sempurna…
Al Fathihah..x1
Yaasyafial kholqissholatuwassalaa...x1
Yaa Sayiidii Yaa Rasuulalloh ...x3
Yaa Ayyuhal Ghoutsu.....x1
Al fathihah...x1
Semoga Bermanfaat….
sumber: Kisah penuh hikmah
Jangan
sekali-kali niatmu, himmahmu atau maksudmu engkau tujukan kepada selain TUHAN,
menjagakan kepada selain TUHAN, artinya orang lain, atau dirinya sendiri,
usahannya, kekayaannya, sawahnya, pasarnya, perusahannya, ilmunya, keahliannya
dan sebagainya dan sebagainya, jangan sekalli-kali engkau jadikan pegangan!.
Sebab apa saja selain TUHAN itu tidak bisa dibuat pegangan, tidak bisa
dijagakan,. Sekalipun wujudnya kelihatannya bisa, bisa menjagakan sawahnya,
pasarnya, usahanya dan lain-lain sebagainya itu, tetapi sesungguhnya kesemuanya
itu tergantung pada Alloh SWT. Jadi dalam segi hakikot kita tidak boleh
menjagakan selain Tuhan. Tidak boleh menuju selain Tuhan. Sebab, ya itu tadi,
tidak semestinya dan apa saja selain Tuhan itu sesungguhnya tergantung pada
Tuhan. Dibuat berhasil ya berhasil, dibuat hancur ya hancur, tidak ya tidak.
Itu
tadi dalam bidang haqiqot harus begitu perasaan kita adapun dalam bidang
syariat kita harus usaha, harus ikhtiar begini begitu, dan harus ada
perhitungen dan sebagainya dam sebagainya.
Cuplikan Dawuh Mbah KH Abdul Madjid Ma'roef Qs Wa Ra
Para hadirin hadirot, ya kalau soal materi atau duniawi sepi lintas-lintas saja. Sak lapan. Sekalipun kerugian yang bagaimanapun juga, hanya sak lapan, sekejap waktu, atau hari, atau bulan, atau tahun paling-paling, tetapi kerugian diakhirot para hadirin hadirot, sak jeg jumbleg !. selama-lamanya !. kalau ya teruuus sakit !.-didunia pada umumnya sehat dan sakit, jauuuuh lebih lama sehatnya dari pada sakitnya !. tapi di akhirot sak jeg jumbleg !. kalau sakit terus sakit, kalau rugi terus rugi!.
//cuplikan Al Hikam , KH Abdul Madjid Ma'rof Qs Wa Ra
Perubahan
antara senang dan sedih, suka dan duka, sehat dan sakit. Sebagaimana biasa
mengalami lapang dan sempit, harap dan takut, tertawa dan menangis. Semua ini
adalah aturan Allah yang sangat bermanfaat bagi setiap mukmin demi meningkatkan
ketakwaan.
Dan akan menjadi bencana bagi yang tidak beriman, karena dia tidak sadar bahwa semua itu adalah bekal yang sangat bermanfaat bagi peningkatan derajat dalam
kehidupan. Karena itu, dalam menyikapi semua kondisi yang dihadapi ini manusia
tidak terlepas dari salah satu dianatara dua nilai, yaitu positif dan negatif
atau benar dan salah, baik menurut pandangan manusia atau pun pandangan Yang
Maha Kuasa.
Seseorang dapat meingkatkan keimanannya dengan menjalin ukhuwwh Islamiyah
yang sering dihiasi dengan senyuman dan juga dapat meningkatkan taqarrub kepada
Rabbnya dengan sering mengis karena menyadari akan kelalaian dalam melaksanakan
kewjiban dimasa lalu, dan menangis karena takut akan kekeliruan dalam memhami
dan salah mengamalkan ajaran Ilahi yang mesti ditatinya demi leselamatan dan
kemaslahatn dimasa mendatang.
Manangis adalah akhlaq para nabi dan kebiasaan para shalihin. Namun tentu bukan
sekedar menangis, melainkan menangis yang membuktikan penghambaan diri yang
muncul dari kesadaran yang sangat mendalam.
Sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah yang selalu memerlukan
pertolongan; hamba yang menyadari sering lalai terhadap aturan-Nya; hamba yang
sangat bodoh tapi sring menyombongkan diri dengan ilmu yang sangat sedikit;
hamba yang tidak memiliki apa-apa tapi berlaga sombonga seakan-akan apa yang
ada dalam dirinya adalah miliknya; sungguh semua yang ada pada diri seorang
hamba baik berupa jasad kesehatan, harta, jabatan atau lainnya, semua itu
adalah amanat yang mesti dipelihara dengan menggunakannya sesuai fungsinya dan
mesti dipertanggungjawabakan pada saat yang tidak lama lagi akan tiba.
Para nabi menangis karena melihat ummat yang sedang mendertia kebejadan akhlaq
dan penyimpangan aqidah serta kerusakan pemahaman terhadap syari’ah yang telah
Allah tetapkan bagi mereka. Para ulama sering menangis karena khawatir tidak
dapat melanjutkan perjuangan Rasul akibat beratnya tantangan dan kurangnya kemampuan
serta meluasnya kema’siatan.
Bila dibacakan kepada mereka ayat Allah yang berisi perintah, mereka menyadari
belum dapat melaksanakan perintah sebagaimana mestinya. Sebaliknya bila
dibacakan ayat yang mngandung larangan, mereka selalu ingat akan semua
perbuatan yang menurut pandangan manusia tidak termasuk pelanggaran, padahal
boleh jadi, tanpa disadari, dihadapan Allah sering sekali melakukan
pelanggaran.
Bila dibacakan ayat-ayat tentang kenikmatan surga, terbayanglah orang lain
sedang menikmatinya, sementara dirinya sedang dalam penderitaan menonton dari
kejauhan apa yang dinikmati ahli surga, karena menyadari belum beramal
sebagaimana mestinya yang memenuhi kriteria untuk menjadai mauttaqiin shalihin.
Bila sudah melaksanakan sebagain perintah-Nya, mereka yakin bahwa tiada yang
dapat mengetahui apakah amalnya memenuhi syarat diterma Allah ataukah tidak.
Dan bila bertaubat, dari mana diketahui bahwa taubatnya memenuhi syarat untuk
diterima dihadapan Allah.
Semakin tinggi ketakwaan seseorang maka semakin mudah baginya mengetahui
kesalahan dan kelalian dirinya dan semakin menyadari bahwa dirinya masih jauh
untuk mencapai tingkat muttaqin.
Karenanya ketakutan kepada Allah akan semakin meningkat, demikian pula harapan
akan ampunan semakin bertambah. Wallahu 'alam
Petunjuk Allah bagi hambaNya untuk melakukan “perjalanan” di alam dunia, kita ketahui dan imani semua ada dalam Al-Qur’an dengan penjelasan dalam Hadits. Allah menciptakan makhlukNya sudah berikut dengan petunjuk untuk “perjalanan”, sehingga aneh sekali ada manusia dengan hawa nafsunya, ke-aku-an atau egonya mencoba membuat petunjuk sendiri atau pemahaman sendiri sehingga kehidupannya gelisah dan khawatir, bingung dan bimbang, kecewa, kesedihan dan tidak bahagia, keimanannya turun-naik dan lain-lain persoalan hidup. Begitu pula kita temukan manusia yang bersikap pragmatis (serba kepentingan) dan bersikap permisif (serba boleh) sehingga yang terjadinya bukan taat pada kebenaran atau menegakkan kebenaran , namun kenyataannya mereka melakukan pembenaran pada perbuatan atau pemahaman, yang pada akhirnya serba kebohongan dan ada yang larut dalam sikap munafik.
Intisari Petunjuk Allah bagi hambaNya untuk melakukan “perjalanan” di alam dunia atau bisa kita katakan sebagai “konsep menjalani kehidupan”, Alhamdulillah bisa kita temukan dalam al Qur’an pada surah Al-Fatihah khususnya ayat ke 5, yang artinya
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (Al-Fatihah : 5)
Tahukah pembaca, bahwa upaya pertama dan utama serta sungguh-sungguh yang harus dilakukan manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia adalah upaya “menyembah Allah”.
Itulah apa yang Allah inginkan (keinginan Allah) sebagaimana firmanNya yang artinya,
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Az Zariyat : 56)
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu” (al Hijr: 99)
Memenuhi keinginan Allah adalah tujuan hidup manusia.
Upaya yang harus dilakukan manusia adalah “menyembah Allah”, lalu apa upaya selanjutnya ?
Upaya selanjutnya adalah semua atas pertolongan Allah sesuai dengan firmanNya yang artinya “hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan“
atau Laahaulaa walaaquw-wata il-laabillahil ‘aliy-yil ‘adziim, ”Tiada daya upaya dan kekuatan selain atas izin/pertolongan Allah”
Kalau boleh kita simpulkan upaya manusia selanjutnya adalah Islam atau “Berserah diri” kepada Allah.
Selengkapnya mengenai “berserah diri” Allah telah memberi tahu bahwa kalau manusia bersandar(berserah) kepadaNya, berarti berada pada jalan yang lurus, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
“Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus” (QS Al Imran : 101 )
Allah mengatakan jika manusia mengikuti jalan yang lurus maka manusia merupakan bagian dari manusia yang telah diberi ni’mat sebagai contoh kebahagian dalam melakukan perjalanan di dunia. Selengkapnya mengenai “bahagia” silahkan baca tulisan pada
Allah telah berjanji jika manusia memenuhi keinginan Allah (upaya utama manusia) yakni beribadah / menyembah pada Allah, maka Dia akan memenuhi segala kebutuhan manusia dalam perjalanannya di alam dunia.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka”. (QS Al Thalaq : 2)
“Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya” (QS Al Thalaq : 3)
Jadi sebenarnya manusia tidak perlu bingung, khawatir, bimbang, gelisah akan kebutuhannya dalam perjalanan di alam dunia karena Allah yang akan mencukupinya.
Juga, manusia dalam menjalani perjalanannya di alam dunia, Allah pula yang akan mengajari atau memimpin hambaNya.
“…Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu (memimpinmu); dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS al Baqarah, 2: 282).
Sedangkan ulama, pembimbing spiritual, guru, mursyid adalah alat atau sarana yang “dipergunakan” oleh Allah untuk mengajari atau memimpin hambaNya dalam melakukan perjalanan hidup.
Selengkapnya mengenai “alat atau sarana”, silahkan baca tulisan pada
Setelah upaya kita berserah diri kepada Allah adalah upaya menjalankan “pilihan” Allah, secara ikhlas/rido, sabar , istiqomah, profesional dan diakhiri dengan tawakal.
Sebagaimana firman Allah yang artinya “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan“. (QS Qashash : 68)
Jadi kelirulah ungkapan orang pada umumnya bahwa “hidup adalah pilihan kita (manusia)”. Hidup bukan pilihan kita !
Pilihan kita semata-mata hanyalah “beribadah / menyembah kepada Allah”.
Kebahagian sejati adalah menjalani kehidupan sesuai dengan pilihan Allah.
Lalu bagaimana kita bisa mengetahui ”pilihan” Allah, jalan satu-satunya adalah mendekat kepada Allah, mengenal Allah (ma’rifatullah) atau terhubung (wushul) dengan Allah. Syarat untuk mengenal Allah atau terhubung dengan Allah adalah manusia harus dalam keadaan suci dan bersih baik jasmani maupun ruhani, yakni harus mengetahui ”pakaian” ruhani diantaranya mengenal diri, hawa nafsu, akhlak, seputar hati, tazkiyatun nafs sehingga manusia dapat ”bersaksi” dengan sebenar-benarnya ”bersaksi” kepada Allah.
Manusia dengan ”pakaian” ruhani yang suci dan bersih akan hidup terpuji
Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya
”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)
Dalam hal ini makna kata kiasan dari “pakaian yang baru” adalah “pakaian” ruhani yang suci dan bersih.
Akhir dari perjalanan hidup manusia di dalam dunia adalah kematian. Manusia yang selalu menjaga “pakaian” ruhani tetap baru atau suci dan bersih akan mati dalam keadaan syahid (bersaksi).