jama'ah wahidiyah

JAMA'AH WAHIDIYAH

Tuesday, 6 March 2012

tidak merasa ikhlas di dalam keadaan ikhlas).


IKHLAS.
Ikhlas arti bahasanya adalah "murni" . Tidak ada campuran sedikit-pun. Maksudnya, di dalam menjalankan amal ibadah apa saja disertai dengan niat yang ikhlas tanpa pamrih apapun. Baik pamrih ukhrowi lebih-lebih pamrih duniawi, baik pamrih yang bersifat moral/batin lebih-lebih pamrih dalam bentuk material. Ibadah apa saja. Baik ibadah yang berhubungan langsung kepada Alloh Wa Rosuulihi SAW maupun yang berhubungan di dalam kehidupan bermasyarakat, terhadap sesama makhluq pada umumnya. Hal ini sudah kita bahas di bab LILLAH di muka.
Ikhlas itu di kategorikan ke dalam tiga tingkatan : 
-     “IKHLAASHUL-'AABIDIIN”
-    “IKHLAASHUZ-ZAAHIDIIN”
-    “IKHLAASHUL-'AARIFIIN”

1" IKHLAASHUL-'AABIDIIN".
Yaitu ikhlasnya golongan ahli "Ibadah. Menjalankan ibadah dengan mengharap imbalan pahala : ingin surga, takut neraka dan sebagainya.
Ibadahnya memang bersemangat, tekun dan rajin, akan tetapi didorong oleh keinginan-keinginan atau pamrih itu tadi. Ya sudah ikhlas tapi minta upah. Seandainya Alloh tidak menjadikan surga dan neraka, lalu apakah lagi yang diharapkan dan yang menjadi pendorong semangat beribadah?. Apakah lalu tidak melaksanakan ibadah, atau menjadi malas?. Di sinilah negatifnya. Bahkan di samping negatif itu ada lagi negatif lain yang lebih berat. Yaitu perasaan dan pengakuan diri mempunyai kemampuan dapat melakukan ibadah. Dengan dernikian pasti timbul 'ujub, riyak, takabbur dan sebagainya. Dan 'ujub, riyak, takabbur dan sebagainya itu adalah pertingkah hati yang merusak nilai-nilai ibadah sehingga ibadah tersebut ditolak, tidak diterima oleh Alloh SWT. jangankan mendapat pahalanya, diterima saja tidak. Rugi besar !. Bahkan di samping ditolak, ibadah yang tertolak itu kelak di akhirot dirupakan siksa untuk menyiksa yang bersangkutan !. Mari kita koreksi keikhlasan diri kita selama ini, dan mari kita tingkatkan kepada ikhlas yang lebih mulus lebih murni karcna Alloh !.

2.   "IKHLAASHUZ-ZAHIDIIN"
Yaitu ikhlasnya orang-orang ahli zuhud (orang yang bertapa). Ada yang menyebutnya "IKHLAASHUL-MUHIBBIN" yakni ikhlasnya orang-orang ahli mahabbah- Yaitu menjalankan perihal ibadah dengan ikhlas tanpa pamrih, tidak karena ingin surga dan tidak karena takut neraka. Sudah benar-benar LILLAH, semata-mata "ibtighoo-an wajhalloh" » mengharap keridloan Alloh.
Ikhlas seperti ini ya sudah baik, akan tetapi masih ada bahayanya, Yaitu masih mengaku atau merasa mempunyai kemampuan dapat melakukan ibadah sendiri. Tidak merasa BILLAH. Pengakuan seperti itu sangat berbahaya sebab otomatis di dalam hatinya lalu tumbuh cendawan-cendawan 'ujub, riyak, takabbur dan lain-lain yang merusak ibadahnya sehingga ibadahnya ditolak tidak diterima oleh Alloh SWT, sedangkan ia tidak merasa, bahkan malah mengaku ibadahnya sudah baik, paling baik, paling ikhlas, paling mulus semata-mata karena Alloh!.
Maka ikhlas seperti ini harus ditingkatkan menjadi ikhlas yang ketiga yaitu :

3.  "IKHLAASHUL - 'AARIFIIN".
Mengerjakan ibadah semata-mata menjalankan perintah Alloh,^ tidak karena menengok pahala atau ingin surga dan takut neraka. Betul-betul ikhlas LILLAHI TA'ALA tanpa pamrih suatu apapun. Dan di dalam menjalankan ibadah itu dia tidak mengaku dan tidak merasa dapat melakukannya sendiri, melainkan merasa. BILLAH. Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah. Inilah yang dimaksud kata kata :
(Yang dinamakan Ikhlas yang benar yaitu tidak merasa ikhlas (meninggalkan ikhlas) di dalam keadaan ikhlas).
"Meninggalkan   ikhlas"  artinya  tidak  merasa  dirinya  bisa  berbuat ikhlas, melainkan merasa BILLAH.
"Dalam keadaan ikhlas" artinya sungguh-sungguh LILLAH, tidak karena ingin surga atau takut neraka.
Dalil Al Qur'an yang menyebutkan keharusan ikhlas antara lain ;
Artinya kurang lebih :
"Sesungguhnya KAMI menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah (beribadahlah) kepada Alloh dengan memurnikan keta'atan (ikhlas) kepada-NYA". (39 - Az - Zumar: 2).
 dalam ayat lain...
Artinya kurang lebih :
"Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka menyembah (beribadah kepada) Alloh dengan memurnikan keta'atan (ikhlas) kepada-NYA " (98- Al Bayyinah : S).
Bersabda Rosuululloh SAW:
Artinya kurang lebih :
"Berbahagialah orang-orang yang (beramal dengan) ikhlas; mereka adalah lampu-lampu petunjuk yang segala fitnah yang diserupakan dengan kegelapan menjadi kelihatan jelas dari (karena) mereka" (Riwayat Abu Nu'em dari Tsauban).
Ikhlas itu besar sekali pengaruhnya kepada manfaat tidaknya amal-amal ibadah atau perbuatan-perbuatan apa saja. Disebutkan di dalam kitab Al-Hikam :
"Amal-amal ibadah itu (banyak) sebagai gambar hidup yang berdiri, dan jiwanya adalah wujudnya rahasia ikhlas di dalam amal-amal ibadah itu " (Al Hikam I ; 11).
Kesimpulannya, amal-amal ibadah apa saja jika tidak dijiwai dengan ikhlas berarti tidak hidup, nan bagaikan bangkai. Tidak membawa manfaat sama sekali. Malah, maaf menjijikkan seperti bangkai dan harus segera dikubur. Syekh Sahal At - Tustari berkata :
(Semua manusia akan hancur, kecuali yang berilmu; dan yang ber­ilmu juga hancur kecuali yang mengamalkan ilmunya; yang berilmu dan sudah mengamalkan ilmunya juga akan hancur, kecuali yang ikhlas didalam beramal itu; dan yang sudah ikhlaspun masih dalam teka - teki besar).
Masih teka-teki maksudnya masih tanda tanya, termasuk ikhlas yang mana di antara tiga tingkatan ikhlas tersebut dimuka.
Jadi mudahnya, jika belum L1LLAH-BILLAH. istilah Wahidiyah, belum sempurnalah ikhlas itu. Berarti masih akan mengalami kehancuran seperti dikatakan Syekh Sahal At-Tustari tersebut. Yang sudah LILLAH-BILLAH juga masih bertingkat-tingkat. Sudah betul-betul 100% kah LILLAH-BILLAH-nya, atau masih kecampuran LINNAFSI-BINNAFSI. Maka oleh sebab itu perlu senantiasa adanya koreksi dan usaha kearah peningkatan.
Insya Alloh - dan alhamdu Lillah menurut pengalaman begitu dengan lebih tekun Mujahadah Wahidiyah dan terus menerus melatih LILLAH-BILLAH  dan seterusnya serta aktif melaksanakan tugas-tugas Perjuangan  Fafirruu  Ilallohi wa Rosuulihi SAW menurut sendiri-sendiri, dikarunia peningkatan - peningkatan !.

Monday, 5 March 2012

Hati - hati...Itu Istijrot....


Bismillaahirrohmaanirrohim 

(خِفْ مِنْ وُجُوْدِ اِحْسَانِهِ اِلَيْكَ وَدَوَامِ اِسَاءَتِكَ مَعَهُ اَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ اِسْتِدْرَاجًا)

BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIM.
KHIF MIN WUJUUDI IHSAANIHI ILAIKA WADAWAAMI ISAAATIKA MA’AHU AN- YAKUUNA DZAALIKA ISTIDROOJAN”

Jadi maksudnya, kita diberi sehat, diberi baik ekonominya, diberi diberi, kok tidak atau kurang taatnya kepada Tuhan, kita harus merasa bahwa pemberian ini istidroj-penglulu !. Aku diberi kesehatan yang baik, diberi rizki yang cukup, tapi mengapa ibadahku kepada Alloh kok tidak bertambah baik ?. Kita harus begitu perasaan kita jika keadaannya seperti itu. Mestinya justru sehat, justru dikaruniai kebaikan, soal moril atau materiil, atau diberi selamat, atau tidak kekurangan, atau sekalipun kekurangan tapi tidak seberapa misalnya, sebab jika ada istilah kurang, tentu ada yang lebih kurang lagi, begitu juga soal sehat misalnya, ada yang dikaruniai sehat tapi ada lagi yang lebih sempurna sehatnya, jadi pokoknya dikaruniai nikmat, atau pada pokoknya diberi hidup, kok tidak ada kurang taatnya atau kesadarannya kepada Alloh, maka harus merasa bahwa diberi kecukupan atau kesehatan ini adalah istidroj !. Penglulu !. Soalnya, kecuali memang seharusnya harus ngedoki, dengan sendirinya jika merasa seperti itu lalu ada perhatian, ada usaha agar supaya berubah menjadi yang lebih baik bagaimana. Tapi jika tidak ada tanggapan, lebih-lebih merasa baik    ya wassalam !.

Atau para hadirin hadirot, secara umum, yaitu segala kemampuan atau apa saja yang kita miliki jika tidak didasari LILLAH BILLAH istilah dalam Wahidiyah, otomatis itu istidroj !. Penglulu !. Jebakan !. Atau menyalah gunakan !. Yah, silahkan, terserah !. Segala nikmat, lahiriyah maupun batiniyah yang tidak didasari LILLAH BILLAH dengan tepat otomatis istidroj !. Sehat misalnya tidak didasari kesadaran, tidak didasari LILLAH BILLAH, artinya sadar bahwa yang memberi adalah ALLOH SWT dan kesehatan itu digunakan untuk apa yang diridloi Alloh SWT - LILLAH, jika tidak begitu, disamping LIRROSUL BIRROSUL sudah tentu, itu, itu otomatis istidroj !. Otomatis !. Penglulu atau jebakan !. Otomatis istilah penglulu, atau istidroj, atau jebakan, ini pasti ada akibat-akibat yang berbahaya!.
KHIF MIN WUJUUDI IHSAANIHI ILAIKA WADAWAAMI ISAAATIKA MA’AHU AN YAKUUNA DZAALIKA ISTIDROOJAN !.”
Takutlah, atau kuatirlah, atau lebih mantap lagi yakinlah bahwa yaitu dikaruniai, senantiasa dikaruniai nikmat soal apa saja, atau sekalipun mlarat tapi tidak lebih mlarat lagi umpamanya, dipandang dari segi tidak lebih mlarat tapi sesungguhnya adalah nikmat, begitu juga diberi sakit, sekalipun diberi sakit tapi masih tidak sakit yang lebih parah lagi, Tuhan mampu membuat sakit yang lebih parah dari ini, dipandang dari arah ini, sakit tadi adalah suatu nikmat, kok tidak atau kurang ibadahnya, ini harus yakin bahwa ini adalah istidroj !. Aku diuji sakit yang tidak lebih parah dari ini!. Harus merasa begitu!. Sebab sakitku ini saya salahgunakan, sebab aku senantiasa berlarut-larut!.

Ini setengah dari pada adab. Dan disamping itu, hikmahnya antara lain yaitu dengan merasa begitu, otomatis ada perhatian untuk memperbaiki keadaan.

Jadi disini dikatakan bahwa orang pada umumnya tidak atau kurang mensyukuri pada nikmat-nikmat. Dan nikmat pada umumnya, misalnya soal kesehatan atau soal ekonomi, sekali tidak atau kurang disyukuri, itu tidak menyebabkan hilang, atau tidak sekaligus hilang. Sekalipun begitu, jangan dikira bahwa itu tidak ada apa-apanya, tidak ada akibat-akibatnya. Ini adalah istidroj!. Lebih berat dari pada hilang begitu saja ketika disalahgunakan !. Sebab istidroj itu makin banyak makin lama makin berat !. Tapi jika lalu hilang begitu nikmat yang tidak disyukuri, ya sudah habis sampai disitu. Umpamanya orang diberi nikmat tidak disyukuri, melainkan disalahgunakan, lalu nikmat itu hilang sebab disalahgunakan, itu ya sudah cutel begitu saja. Sedang yang satu lagi diberi nikmat, disalahgunakan dan nikmat itu tidak hilang, dan tidak merasa bahwa menyalahgunakan, makin lama makin berlarut-larut. Diberi soal dunia, disalahgunakan tapi dunia itu menjadi bertambah-tambah, lha ini akan lebih berat lagi sebabnya menyalahgunakan menjadi makin banyak dan makin bertambah terus. Ini makanya dikatakan lebih berat.

Ini perlu adanya koreksi diri kepada pribadi kita masing-masing, para hadirin hadirot !. Jangan sampai terutama ketika membicarakan soal ini lalu menuduh orang lain, tapi seharusnya kita menuduh atau mencurigai kepada pribadi kita sendiri !. Dan terus kita kuatkan dengan menggali fakta-fakta yang ada pada diri kita!. Aku selalu diberi sehat, senantiasa diberi bisa jalan, senantiasa diberi dapat berfikir, dapat ingat melihat, dan sebagainya dan sebagainya, ini saya pergunakan apa !. Jika saya salah gunakan, ini berarti menyalahgunakan, tapi ternyata panggah, tetap masih bisa begitu, ini berarti istidroj !. Tidak saya sadari, tidak saya syukuri, artinya tidak saya gunakan untuk LILLAH BILLAH tapi kok masih saja bisa berfikir, masih saja bisa melihat, mendengar, merasa dan sebagainya, tidak hilang sebab saya salah gunakan, ini namanya istidroj ini !.
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَيَعْلَمُوْنَ (الاعراف:١٨٢)

“SANASTADRIJUHUM MIN HAITSU LAA YA’LAMUUN” (7 - Al A’rof 182)
(....nanti KAMI akan menarik mereka kearah kebinasaan dengan berangsur-angsur secara yang tidak mereka ketahui)
حَتىَّ إِذَافَرِحُوْا بِمآاُوْتُوآأَخَذنَهُمْ بَغْتَةً...(الانعام:٩٩)

HATTA IDZAA FARIHUU BIMAA UUTUU, AKHODZNAAHUM BAGHTATAN...” (7-Al An’aam 44)
(........sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, KAMI siksa mereka dengan sekonyong-konyong.........)
Apabila mereka sudah berlarut-larut, yaitu menyalahgunakan apa yang diberikan kepada mereka, ......”AKHODZNAAHUM BAGHTATAN”. KAMI ambil paksa, KAMI tindak dengan ketegasan !. Ini ancaman Alloh SWT !. Kita harus takut pada ancaman Alloh SWT!. Sedangkan diancam diantara kita sesama saja sudah takut, lebih-lebih yang mengancam Alloh SWT !. Alloh SWT Yang Maha Kuasa !.SYADIIDUL-‘IQOOB”. Yang Maha Menyiksa !. Yang Maha......Maha, Maha !. Kita harus lebih takut yang luar biasa !.
Didalam Wahidiyah sering dibicarakan atau disebut-sebutkan suatu
Hadits.
اِنَّ اللهَ لَيُمْلِى لِلظَّالِمِ فَاِذَااَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
INNALLOHA LAYUMLII LIZHZHDOLIM FAIDZAA AKHODZAHU LAM YUFLITHU” Alloh SWT menangguhkan kepada orang yang zholim yang berlarut-larut yang menyalahgunakan. Tapi awas, apabila Alloh mengambil ketegaan, tidak akan di, .........dilepaskan !. Pasti!.
Para hadirin hadirot, disamping hal-hal seperti tersebut kita harus meninjau sejarah secara umum !. Baik yang jauh maupun yang dekat !. Lebih-lebih akhir-akhir ini banyak kejadian-kejadian lebih-lebih bidang ekonomi. Kemarin masih mampu, tapi sekarang berubah menjadi miskin, mlarat!. Kemarin masih Honda-nan, sekarang mbecak !. Kemarin begitu, sekarang sudah didalam penjara !. Kemarin masih sehat, sekarang jadi layatan !. Dan sebagainya, dan sebagainya !. Hal-hal seperti itu harus kita manfaatkan !. Mungkin  sekali, kalau tidak dapat dikatakan pasti, dalam waktu yang tidak diketahui, kita juga akan mengalami. Terutama soal pati!. Ini harus kita manfaatkan !.
Sekali lagi kita ulangi:
“KHIFMIN WUJUUDI IHSAANIHI ILAIKA WADAWAAMI  ISAAATIKAMA’AHU AN YAKUUNA DZAALIKA ISTIDROOJAN. SANAS TADRIJUHUM MIL HAITSU LAA YA’LAMUUNA”. Takutlah atau berkeyakinanlah bahwa Alloh SWT senantiasa berbuat baik kepadamu. Senantiasa memberi sehat, memberi rizki, memberi apa saja, tetapi aku kok tidak mau menyadari, tidak mau syukur, aku harus berkeyakinan bahwa itu semuanya adalah istidroj.
وَقِيْلَ نُمِدُّهُمْ باِلنِّعَمِ وَنُنْسِيْهِمْ الشُّكْرَ عَلَيْهَا فَاِذَا رَكَنُوْااِلَى النِّعَمِ وَحُجِبُوْا عَنِ الْمُنْعِمِ اُخِذُوْا

WAQIILA NUMIDDUHUM BINNI’AM WANUNSIIHIM-SYUKRO ‘ALAIHAA; FAIDZAA ROKANUU ILAN-NI ‘AMI WAHUJIBUU ‘ANIL MUN ‘IMIUKHIDZUU”
“SANASTADRIJUHUM” ada yang menafsiri disini, yaitu: “mereka Aku beri nikmat tapi mereka melupakannya tidak mau syukur. Maka jika mereka sudah begitu tertarik kepada nikmat-nikmat itu, dan lupa kepada yang memberi nikmat, “UKHIDZUU”. Mereka diambil dengan paksa. Diambil tindakan tegas !. Baik didunia maupun diakhirot. Didunia, akan dipisahkan dengan nikmat yang diberikan. Kalau tidak dunianya yang hilang, bangkrut, hancur, orangnya yang meninggalkan dunia dicabut rohnya oleh Izroil. Ini sudah otomatis !.

Akhir-akhir ini seperti maklumi dan pernah saya utarakan. Soal ekonomi terutama. Keadaan ekonomi dimasa-masa sebelumnya lebih baik dari keadaan sesudahnya. Lha ini ya maaf untuk pribadi kita pada umumnya harus merasa bahwa keadaan ekonomi saja pada waktu dulu-dulu itu saja lebih baik dari sekarang, itu adalah sebenarnya adalah istidroj. Istidroj sebab tidak saya manfaatkan untuk memperbaiki hubunganku dengan Alloh SWT. Tidak saya manfaatkan untuk LILLAH BILLAH tetapi hanya untuk berlarut-larut memuaskan nafsu belaka. Istidroj!. harus begitu perasaan kita!. Sebenarnya ini masih untung, untung kok dunianya yang meninggalkan aku, kok bukan aku yang meninggalkan dunia lebih dahulu. Ditinggalkan oleh dunia lebih dahulu itu lebih baik daripada sudah digradak oleh Izroil sedang dunianya yang senantiasa disalah gunakan itu masih menyelimuti tubuh dirinya. Ini lebih berat ketika dicabut rohnya oleh Izroil, rohnya diperebutkan antara dunianya dan Izroil, yang akhirnya pasti menang Izroil !. segala hak miliknya nggandoli !. Merintangi Izroli, mudahnya. Tapi Izroil pantang mundur sedetikpun. Izroil mencabut nyawa, rumahnya nggandoli. Sawahnya nggandoli !. Orang tua nggandoli, anak, nggandoli !. Suami, istri, nggandoli. Pacar, nggandoli!. Usahanya, tokonya, pokoknya semua dunia yang melekat pada hatinya selama hidupnya, semuanya nggandoli !. Berebut, saling berebut dengan Izroil. Ini makanya lebih berat!.

Jadi lebih ringan dunianya yang kabur lebih dahulu, daripada orangnya yang kabur. Dan lebih-lebih jika orang yang bersangkutan tadi mau bertobat, itu lebih baik lagi.
Jadi pokoknya nikmat, nikmat apa saja yang istilah Wahidiyah tidak dimanfaatkan sebagai pelaksanaan pengabdian diri kepada Alloh SWT, LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL, jelas bahwa itu istidroj !. Pasti disalah gunakan, dan merupakan suatu penglulu !. Penglulu, artinya dibiarkan untuk berlarut-larut, bahkan jika perlu diberi kesempatan !. Tapi nanti jika sudah waktunya diambil ketegasan !.
 ( AL HIKAM .KH Abdul Madjid Ma'roef Qs, Wa Ra...)


Wednesday, 29 February 2012

apakah Kita sulit menanggis.....



Menangis adalah merupakan gejala dari pada phenomena psikologis (peristiwa kejiwaan). Setiap manusia pernah mengalami menangis. Baik ketika bayi, ketika masa kanak-kanak, ketika dewasa menjadi remaja, ketika sudah menjadi orang tua bahkan sudah nenek-nenekpun bisa menangis. Makhluq lain jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan belum pernah kita mendengar tangisnya, Motivasi (dorongan) menangis itu bisa terjadi dari berbagai macam sebab. Tangisnya bayi merupakan bahasa untuk memberi tahukan keadaan dirinya dan apa yang dibutuhkan : lapar, haus, badan teras kotor terkena pipis, badan tidak enak/sakit dan sebagainya. Rosululloh SAW bersabda yang maksudnya bahwa tangis bayi sampai umur 4 tahun adalah merupakan istighfar permohonan maghfiroh atas dosa kedua orang tuanya.
Orang yang susah karena mengalami mushibah atau penderitaan yang berat seperti sakit, kematian sanak famili, kehilangan kekasih, kehilangan harta benda dan sebagainya bisa menangis. Orang yang terlalu senang dan gembira juga bisa menangis. Terlalu takut kepada sesuatu juga bisa menangis. Pokoknya, menangis dapat selalu terjadi dalam situasi dan kondisi yang bermacam-macam, selama fikiran masih normal. Orang gila atau orang yang tidak normal otaknya ti­dak bisa menangis. Kalaupun kedengaran suara dia menangis, tetapi tidak keluar air mata. Jadi tidak seperti tangisnya orang biasa yang masih normal fikirannya. Mungkin tangis yang dibuat-buat atau berpura-pura menangis.
Jelaslah bahwa dorongan menangis itu datang dari dalam diri orang yang menangis sendiri, karena adanya sentuhan jiwa atau rangsangan batin. Tangis tidak bisa diada-adakan atau dipaksakan dari luar tanpa ada sesuatu yang merangsang menyentuh ke dalam jiwa. Begitu juga kita tidak dapat menyetop memberhentikan orang yang sedang menangisi begitu saja. Bagaimanapun usaha kita, dengan kekerasan sekalipun, kita tidak dapat menahan orang jangan menangis atau supaya berhenti menangis. Tangis itu akan berhenti dengan sendirinya juga kare­na telah datang "sesuatu" yang merangsang jiwanya, yang meredakan
kegoncangan batinnya. Usaha menahan tangis dari luar diri yang sedang menangis hanya sekedar membantu proses datangnya "sesuatu" yang menentramkan kegoncangan jiwa tadi. Jadi juga ada manfaatnya. Dan memang harus diusahakan oleh orang-orang yang ada disekeliling orang yang sedang mengalami kegoncangan jiwa seperti itu.
Di dalam Mujahadah Wahidiyah banyak kita jumpai dan bahkan sering kita sendiri mengalami menangis. Dalam pada itu sering kita me­nangis tidak mengetahui sebab-sebanya. Tahu-tahu menangis begitu saja tanpa ada sebab-sebab. Tetapi pada satu tempo kita mencoba mengusahakan dan memaksa diri kita untuk bisa menangis, tetapi toh juga tidak berhasil bisa menangis, walaupun dalam keadaan Mujahadah sekalipun. Begitu juga pernah terjadi bahwa pada satu tempo ketika bermujahadah kita tidak dapat menguasai diri dari menangis, tidak mampu mengendalikan tangis sampai tercetus suara jeritan-jeritan yang keras. Mengapa begitu ?. Jawabnya yang tepat : Allohu A'lam !. Kemampuan rasio tidak mampu mengadakan pendekatan - pendekatan, lebih-lebih membuat analisa rasional.
Namun bagaimanapun keadaannya kita harus bersyukur alhamdu Lillah bahwa tangis yang terjadi di dalam Wahidiyah adalah tangis yang berorientasi (berhubungan atau berkaitan) kepada Alloh Wa Rosuulihi SAW. Tangis di dalam Wahidiyah tidak menangisi soal harta atau apa saja yang bersifat kebendaan/material. Motif tangis di dalam Wahidiyah dapat terjadi dari bermacam-macam faktor. Antara lain tangis karena ada sentuhan jiwa yang halus sehingga merasa penuh berlumuran dosa, penuh berbuat kedholiman merugikan orang lain dan masyarakat dan sebagainya. Merasa berdosa, berdosa kepada Alloh SWT berdosa kepada Rosululloh SAW, berdosa terhadap orang tua, terhadap anak dan keluarga, terhadap guru, terhadap pemimpin, terhadap bangsa dan negara, terhadap Perjuangan kesadaran FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW, terhadap makhluq lingkungan hidupnya dan sebagainya. Antaranya lagi karena sentuhan batin berupa "syauq dan mahabbah" (rindu dan cinta) yang mendalam kepada Alloh SWT dan kepada Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad Rosuululloh Shollallohu 'alaihi wasallam. Tangis karena kagum melihat Keagungan Alloh SWT, melihat sifat Jamal dan Kamal Alloh SWT, ternyuh tergores hatinya melihat kasih sayang dan jasa serta pengorbanan Junjungan kita Rosuululloh SAW kepada para ummat, terhadap dirinya yang menangis terutama.
Tangis yang ada hubungan kepada Alloh SWT adalah tangis yang banyak dilakukan oleh Nabi-Nabi mulai Kanjeng Nabi Adam 'alaihis-salaam sampai Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam. Kanjeng Nabi Adam 'alaihis-salaam setelah dikeluarkan dari surga, menangis selama seratus tahun nonstop. Menangis meratapi dosanya kepada Alloh SWT yaitu melanggar larangan Alloh agar tidak mendekati buah Kuldi waktu di surga. Menangis bertobat memohon ampunan kepada Alloh SWT.
Mari kita renungkan untuk diri kita !. Itu Kanjeng Nabi Adam, pertama Beliau adalah seorang Nabi dan kedua, Beliau hanya melakukan kesalahan satu kali saja di surga, menangis seratus tahun nonstop. Sedangkan kita?. Kita berbuat dosa tidak hanya satu, dua, tiga kali, melainkan berpuluh, beratus, beberapa ribu kali bahkan tidak dapat dihitung. Namun berapa lama kita menangis meratapi dosa bertobat memo­hon maghfiroh Alloh SWT?. Mari kita akui dengan jujur, dan mari sekarang juga kita bertobat memohon  ampunan kepada Alloh SWT !.
AL FAATIHAH ! BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM.........
YAA ROBBANALLOHUMMA SHOLLI SALLIMI.................
AL FAATIHAH !.
Mari kita perhatikan firman Alloh dalam Surat No. 19 Maryam Ayat No. 58 :

Artinya kurang lebih :
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Alloh yaitu para Nabi dan keturunan Adam, dan dan orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dan keturunan Ibrobim dan Isroil, dan dan orang-orang yang telah KAMI beri petunjuk dan telah KAMI pilih. Apabila telah dtbacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis". (19-Maryam : 58).
 Dalam ayat yang lain.....
Artinya kurang lebih :
"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'".(17:Al isrok : 109).

Yang dimaksud "mereka" dalam ayat tersebut menurut ayat sebelumnya adalah "Alladziina uutul - 'ilma" = orang-orang yang didatangkan ilmu kepadanya. Dan mereka menangis apabila dibacakan Al -Qur'an kepada mereka. Mari kita lihat diri kita sendiri ketika mendengar bacaan Al Qur'an dapat menangiskah, atau bahkan tertawa, atau tidak ambil pusing . Terserah masing-masing kita !.
Kita perhatikan sabda Rosululloh SAW :
Artinya kurang lebih :
"Wahai para manusia, menangislah kamu sekalian; maka jika kamu sekalian  tidak bisa menangis, berusahalah agar bisa menangis!".(Riwaayat Abu Dawud).
 Dalam hadist lain....
Artinya kurang lebih :
"Dua jenis mata yang tidak akan menyentuh api neraka, satu, ma­ta yang menangis dari sebab takut kepada Alloh, dan dua, mata yang karipan (semalaman tidak tidur) di dalam sabillah "
Orang yang tidak menangis terhadap Alloh SWT adalah terkecam dan tidak bisa memperoleh fadlol dari Alloh SWT. Yaitu berdasar fir­man Alloh  :
Artinya kurang lebih :
"Maka apakah kamu merasa heran terbadap pemberitaan ini ?" "Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?", "Sedangkan kamu melengahkan ?". "Maka bersujudlah kepada Alloh dan sembahlah (53 - An - Najmu : 59-60- 61).

 Sabda Rosululloh SAW :
Artinya kurang lebih :
"Barang siapa berbuat dosa dan dia tertawa, maka dia masuk nera­ka sambil menangis ". (Riwayat Abu Nu 'em dari Ibnu Abbas).

Di dalam kitab Taqriibul Ushuul dituliskan :

"Fadlolnya Alloh SWT tidak diberikan melainkan kepada hati yang meratapi dosa yang menghadang sangat membutuhkan pertolongan ilahiyah ".(Taqribul Ushul: 217).

Mudah-mudahan kita dikaruniai hati yang lunak, yang peka (gampang merasa) terhadap "sesuatu" yang menyentuh jiwa kita sehingga kita cepat merasa dan mengakui dosa-dosa kita, kemudian tergores hati kita untuk menangis bersujud bersungkur memohon maghfiroh ampunan dari Alloh SWT !. Amiin !.

Yang dimaksud dengan "sesuatu" tersebut di atas adalah sebagaimana istilah di dalam kitab Al Hikam yaitu "waaridun Ilaahiyyun" yakni suatu suasana dan kondisi batiniyyah yang didatangkan oleh Alloh SWT ke dalam hati hamba yang dikehendaki-NYA. Dan Alhamdu Lillah dengan lebih tekun Mujahadah Wahidiyah, kita dikaruniai apa yang kita mohon tersebut. Dan semua itu harus senantiasa kita tingkatkan !. Kita tingkatkan demi untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !.

Tuesday, 28 February 2012

Beruntunglah Engkau Hari ini...jika engkau...


Bagaimana dikatakan berutung ??????? mari kita perhatikan Al Qur'an Surat no. 51 Adz-Dzaariyaat Ayat 56  :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ (51-الذاريات:56)
Artinya kurang lebih ;
"Dan tiada AKU menciptakan jin dan manusia melainkan agar supaya mereka beribadah mengabdikan diri kepada-KU". (51-Adz-Dzaariyaat: 56).

Jadi segala perbuatan dan tingkah laku manusia dalam segala keadaan, situasi dan kondisi yang bagaimanapun hidup di dunia ini harus diirahkan untuk mengabdikan diri beribadah kepada Alloh SWT, harus menjadikan sebagai pelaksanaan dari pada '"LIYA'BUDUUNI". Jadi ibadah itu tidak hanya terbatas pada menjalankan syahadat, sholat, zakat, nuasa dan haji yang menjadi rukun Islam itu saja, juga tidak hanya teratas pada menjalankan ibadah-ibadah sunnah seperti membaca Al-Qur'an, membaca Dzikir, membaca sholawat dan sebagainya, akan tetapi di samping itu semua, segala gerak gerik manusia, segala tingkah laku. dan perbuatannya, sepanjang tidak melanggar larangan Alloh, harus dijadikan sebagai pelaksanaan ibadah kepada Alloh, Jika hidup manusia ini tidak selalu diarahkan untuk pengabdian diri ibadah kepada Alloh, ini berarti manusia telah menyimpang dari haluan hidup yang telah digariskan Alloh SWT dalam Ayat tersebut di atas. Suatu penyelewengan suatu penyalahgunaan mandat, suatu dosa besar yang harus segera ditobati !.
Shohabat Ibnu Abbas rodiyallohu 'anhu seorang mufassir Al Qur'an yang terkenal pada zaman Kanjeng Nabi SAW menafsirkan kata "liya' buduuni'' dalam Ayat tersebut yakni "liya' rifuuni". Artinya agar supaya mereka jin dan manusia ma'rifat, mengenal atau sadar kepada-KU (Alloh). Jadi segala hidup dan kehidupan manusia (dan jin) menurut tafsir ini harus sepenuhnya diarahkan atau sebagai sarana untuk ma'rifat atau mengenal Alloh SWT Tuhan Yang Mana Pencipta.
Setengah dari pada syarat yang prinsip di dalam menjalankan iba­dah yalah harus disertai adanya niat di dalam pelaksanaan perbuatan ibadah tadi. Disertai niat, niat ibadah!. Jika tidak disertai niat ibadah, apapun macamnya perbuatan, perbuatan taat sekalipun, amal perbuat­an tersebut tidak dicatat sebagai ibadah. Dan jika tidak dicatat sebagai ibadah, rupa sholat sekalipun, adalah menjadi maksiat, merupakan dosa. Sabda Rosululloh SAW menegaskan hal niat ini sebagai berikut:

إِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّياَّتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى… الحديث (رواه البخارى ومسلم وغيرهم عن عمر رضى الله عنه)
Artinya kurang lebih :
"Sesunggubnya segala amal perbuatan itu ditentukan (tergantung/dinilai) menurut niatnya, dan sesungguhnya bagi seseorang itu ter­gantung pada apa yang ia niatkan..."(Riwayat Bukhori dan Muslim dan lainnya dari Umar Ibnul-Khottob rodiyallu 'anhumaa).
Niat itu letaknya di dalam hati. Kelihatannya seperti perkara sepele akan tetapi menentukan sekali. Jika tidak kebetulan, artinya kurang mendapat perhatian, bisa menghancurkan bangunan ibadah keseluruhannya.
Bertitik tolak dari firman Alloh dalam Surat Adz-Dzaariyat Ayat 56 dan Hadits shoheh tersebut di atas, beliau Al Mukarrom Romo K.H, Abdoel Madjid Ma'roef Muallif Sholawat Wahidiyah memberikan bimbingan praktis di dalam pelaksanaan niat ibadah sebagai realisasi dari pada "liya'abuduuni" tersebut, yaitu dengan melatih dan membiasakan hati mengetrapkan "LILLAH".

Artinya, segala amal perbuatan apa saja, perbuatan lahir dan perbuatan batin baik yang wajib, yang sunnah dan yang mubah, lebih lebih yang berhubungan langsung kepada Alloh wa Rosuulihi SAW seperti sholat, puasa, haji, baca Qur’an, baca sholawat dan sebagainya, maupun yang hubungan di dalam masyarakat di dalam kehidupan sehai-hari seperti makan, minum, tidur, istirahat, mandi, bekerja dan sebagainya, asal bukan perbuatan yang terlarang, asal bukan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, asal bukan perbuatan yang melanggar syari'at dan undang-undang, pokoknya asal bukan perbuatan yang merugikan, melaksanakannya supaya di sertai niat beribadah kepada Alloh dengan ikhlas LILLAHI TA'ALA tanpa pamrih suatu apapun. Baik pamrih duniawi maupun pamrih ukhrowi !.
Dengan menyertakan niat ibadah LILLAH (dalam hati terutama) di dalam segala perbuatan yang tidak terlarang seperti itu, menurut Hadits tersebut diatas maka perbuatan-perbuatan apa saja yang kita lakukan dapat mempunyai nilai ibadah. Dicatat dan dinilai sebagai ibadah. Dan dengan demikian maka telah bersesuaian dengan kehendak Alloh yang di gariskan didalam ayat 56 Surat Adz-Dzaariyat tersebut. Sekali lagi harus diingat bahwa yang boleh dan bahkan harus disertai niat ibadah LILLAH adalah terbatas. Terbatas pada perbuatan-perbuatan yang tidak terlarang.
Adapun perbuatan - perbuatan yang melanggar syari'at, perbuatan perbuatan yang melanggar undang-undang, perbuatan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, yaitu pokoknya perbuatan perbuatan yang merugikan, baik merugikan diri sendiri maupun dan lebih-lebih merugikan orang lain, sama sekali tidak boleh disertai niat ibadah LILLAH!. Maknanya harus dijauhi dan ditinggalkan!. Betapapun kecil dan remehnya!. Harus berusaha sekuat mungkin untuk menjauhkan dan meninggalkan!.
Dan di dalam menjauhi atau meninggalkan itulah yang harus disertai niat ibadah LILLAH!. jangan sampai di dalam kita menjauhi atau me­ninggalkan mungkarot itu di dorong oleh kemauan nafsu!. Harus LILLAH  ibadah kepada Alloh!. Menjalankan printah Alloh!. Titik !. Tidak ingin begini begitul. Demikian seterusnya di dalam kita menja­lankan amar ma'ruf nahi mungkar, harus dengan niat ibadah kepada Alloh dengan ikhlas LILLAH !. Jangan karena terdorong oleh nafsu supaya begini dan begitu !. Akan merusak dan menghancurkan nilai bangunan amal yang kita kerjakan.
Masalah pamrih atau berkeinginan, ingin kepada. hal yang menggembirakan yang menyenangkan, ingin kepada kebaikan-kebaikan seperti ingin pahala, surga dan sebagainya, atau takut dari perkara yang menakutkan seperti kesusahan, penderitaan, siksa, neraka dan sebagai­nya, itu diperbolehkan. Bahkan sewajarnya harus begitu!. Sebab manusia tidak lepas dari sifat basyariah, yang mempunyai keinginan-keinginan dan harapan-harapan serta kemauan-kemauan yang semuanya bersumber dari nafsu, dan nafsu itupun adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia sehingga menjadi makhluq yang lebih lengkap dan paling sempurna di antara makhluq-makhluq lainnya. Maka nafsu seperti itulah yang harus diarahkan!. Diarahkan menurut arah yang telah digariskan Tuhan yaitu "liya'buduuni" tersebut. Di­arahkan untuk ibadah kepada Alloh!. Jika tidak diarahkan, pasti akan terjadi himpunan hawa nafsu yang serakah dan mengakibatkan penyelewengan dan penyalahgunaan!. Akhirnya menghancurkan manusia itu sendiri bahkan bisa menghancurkan ummat dan masyarakat.
Maka di dalam berkeinginan atau pamrih seperti di atas harus di­sertai niat ibadah kepada Alloh dengan ikhlas LILLAH !.
Jadi jelasnya, kita bersembahyang, kita berpuasa, kita mengeluarkan zakat, kita menunaikan ibadah haji, kita membaca Qur'an, membaca dzikir, membaca sholawat dan sebagainya itu supaya disertai niat ibadah yang sungguh-sungguh ikhlas LILLAH !. Jangan sampai kita melakukan semuanya tadi karena ingin surga, ingin pahala, takut nera­ka, ingin terhormat, ingin terpuji, ingin kaya dan sebagainya!. Begitu juga di dalam kita bekerja, di dalam kita belajar, di dalam kita berjuang untuk bangsa agama dan negara, di dalam kita mengurus dan mengatur rumah tangga, kita ke sawah kepasar kekantor ke toko, dan ketika kita makan minum tidur istirahat mandi dan sebagainya dan sebagainya supaya dengan niat ibadah kepada Alloh dengan ikhlas semata-mata LILLAH tanpa pamrih !. Begitu Juga kita berkeinginan, berkemauan, berangan-angan berpikir dan sebagainya harus disertai niat ibadah kepada Alloh - LILLAH !. Jadi benar-benar melaksanakan pernyataan yang kita baca pada setiap sholat yaitu :
اِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِىْ وَمَحْحَايَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعٰالَمِيْنَ

"Sesunggubnya sholatku, ibadahku, bidup dan matiku adalah untuk Alloh Robbul 'Alamin".
Dan mengetrapkan di dalam hati apa yang sering kita baca di dalam Surat Al Fatihah":
اِيَّاكَ نَعْبُدُ

"Hanya kepada-MU yaa Alloh aku mengabdikan diri."..
Dengan demikian boleh dikatakan hati kita senantiasa bertahlil:
لآاِلَهَ اِلاَّالله
"Tiada Tuhan melainkan Alloh,"
Ilmiah dan pengertian mudah dipelajari mudah dihafal. Akan tetapi disamping ilmiah disamping pengertian, perlu diusahakan penerapan dan pelaksanaan ilmiah yang sudah kita miliki. Orang mempunyai ilmu akan tetapi ilmunya tidak diterapkan tidak diamalkan, dia sangat terkecam sekali dan akan mengalami bahaya yang sangat berat. Di dalam kitab Az-Zubad dikatakan :
فَعَالِمْ بِعِلْمِهِ لَمْ يَعْمَلَنْ * مُعَذَّبٌ مِنْ قَبْلِ عُبَّادِ الْوَثَنْ

"Orang yang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya besok akan disiksa lebih dahulu dari pada penyiksaan para penyembab brabala”

Itu suatu kecaman yang berat. Jadi jelasnya, amal perbuatan apa saja, berupa sholat sekalipun jika tidak disertai niat ibadah LILLAH otomatis disalah gunakan oleh nafsu. Atau LINNAFSI, nuruti keinginan nafsu!. Dan nafsu adalah menjadi sarang iblis dan setan !. . Kelak di neraka tempatnya !.
Di dalam Wahidiyah = alhamdu Lillah dengan memperbanyak Mujahadah Wahidiyah di samping terus menerus melatih hati dengan niat LILLAH seperti di atas, alhamdu Lillah dikarunia banyak kemajuan dan peningkatan dalam hal beribadah kepada Alloh dengan niat ikhlas LILLAH tersebut.
Sekali lagi, amal perbuatan apa saja, atau ibadah apa saja, sekalipun rupa sholat, zakat puasa naik haji, membaca Qur’an membaca dzikir membaca tahlil membaca sholawat, menolong orang lain, memberikan shodaqoh dan amal-amal kebajikan lainnya, jika tidak disertai niat iba­dah LILLAH ikhlas karena Alloh, tidak dlcatat sebagai ibadah kepada Alloh. Dan jika tidak dicatat sebagai badah kepada Alloh berarti ibadah kepada selain Alloh. Menyembah selain Alloh !. Kepada siapa ?. Kepada nafsunya sendiri. Menyembah dirinya sendiri dengan memperalat sholat, zakat, dan seterusnya tadi. Sholatnya, zakatnya, hajinya, membaca Qur-an membaca sholawat dan sebagainya dikerjakan hanya sebagai kedok untuk nuruti keinginan nafsunya. Ingin begini ingin begitu, pamrih begini pamrih begitu dan sebagainya !. Suatu pendorhakaan terhadap Alloh yang sangat keterlaluan !. Harus cepat-cepat bertobat dan mengadakan perbaikan, atau membiarkan dirinya dibakar oleh api neraka akibat amal-amal ibadah yang tidak ikhlas LILLAH itu !. "
Mari kita mengadakan koreksi kepada diri kita masing-masing ! AL FATIHAH !........

Sekali lagi mari kita perhatikan dan kita terapkan firman Alloh
Artinya kurang lebih :
"Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya menyembah (beribadah/mengabdikan diri kepada ) Alloh dengan ikhlas karena Alloh LILLAH dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka menjalankan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang tegak.".
(98-Al Bayyinah : 5).

Di dalam "Al Qur'an dan Terjemahannya" Departemen Agama RI diterangkan bahwa yang dimaksud "menjalankan agama dengan lurus" artinya terbebas dari syirik dan dari kesesatan. Untuk menyelamatkan dari bahaya "syirik" dan kesesatan, Ajaran Wahidiyah memberikan bimbingan yaitu penerapan "BILLAH".

"BILLAH"
BILLAH artinya, di dalam segala perbuatan dan gerak gerik lahir maupun batin, dimanapun dan kapan saja, supaya hati senantiasa merasa bahwa yang menciptakan dan merintahkan itu semua adalah ALLOH SWT Tuhan Maha Pencipta. Jangan sekali-kali mengaku atau merasa mempunyai kekuatan dan kemampuan sendiri!. Jadi mudahnya, menerapkan di dalam hati makna dari : LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH
"Tiada daya dan kekuatan melainkan atas titah Alloh - Billah ".
Menerapkan firman Alloh :

1. "Dan Allohlah yang menciptakan kamu sekalian dan apa-apa yang kamu sekalian perbuat". (37 - As-Shoffaat -96).

2. "Dan kamu sekalian tidak dapat menghendaki (tidak dapat berkehendak) melainkan apabila dikebendaki Alloh Tuhan semesta alam". (81 - At-Takwir- 29).

Jadi jelasnya, di dalam kita melihat, mendengar, merasa, menemukan, bergerak, berdiam, berangan-angan, berpikir dan sebagainya, supaya hati selain sadar dan merasa bahwa yang menggerakkan yang menitahkan itu semua adalah Alloh!. Merasa BILLAH !. Semuanya BILLAH !. Tidak ada sesuatu yang tidak BILLAH !. Ini harus kita rasa di dalam hati !. Tidak hanya cukup pengertian dan keyakinan dalam otak !. Bukan sekedar pengertian ilmiah saja !. Kita membaca buku" ini, kita memahami buku ini - BILLAH !. Buku yang anda baca inipun BILLAH. Diri kitapun BILLAH !. Mari terus merasa begitu !. Merasa BILLAH!.
Sumber dari segala kehancuran, kebobrokan moral, penyelewengan dan penyalahgunaan, pertengkaran, permusuhan, kekacauan dan seba­gainya adalah berada di dalam nafsu. Nafsu yang mempunyai ciri khas yaitu pamrih. Maka sifat pamrihnya nafsu ini harus diarahkan. Diarahkan dengan sistim penerapan niat LILLAH dan sadar BILLAH seperti diatas.
Jika sifat pamrih itu dibiarkan tidak diarahkan dengan niat LILLAH maka akan makin menjadi-jadi dan bercokol dengan lekat sekali di dalam hati. Makin lama makin tebal, makin lama makin besar dan makin kokoh kemudian muncul satu "kerajaan" di dalam hati. Yaitu "KERAJAAN ANANIYAH" atau rasa ke-AKU-AKUAN atau egosentris. Aku yang usaha, aku yang mengerjakan, aku yang berkuasa, aku yang menentukan. Kalau tidak karena aku   ............   dstnya.
Orang yang hatinya sudah dijajah oleh imprialis nafsu seperti itu segala langkah dan amal perbuatannya disetir oleh nafsunya, dan diarah­kan kepada apa yang menjadi kepuasan nafsu. Segala amalnya, tindakannya, perbuatannya, semata-mata hanya untuk nuruti kemauan nafsunya. Tanpa memandang benar atau salah, tidak perduli haq atau batal diterjangnya. Tidak perduli, sekalipun orang lain menderita. Yang penting puas !. Itu lah sifat nafsu.. Selakah, dengki dan membabi buta. Hanya ingin enak dan kepenak, senang dan puas tanpa memperhitungkan akibatnya. Pada hal akibatnya pasti menjeromos kepada kehancuran, kebinasaan dan kesengsaraan sebab tidak mengikur tuntunan Alloh Maha Pencipta Maha Kuasa !. Bahkan tidak mau tahu kepada Tuhan-nya.
Baru setelah mengalami kesengsaraan dan kehancuran baru merasa bahwa telah diombang ambingkan oleh nafsunya sendiri. Dan jika terus mendapat pertolongan Alloh barulah dia menyadari menginsafi dosa perbuatan dan tindakannya kemudian baru mau prihatin dan bertobat. Akan tetapi jika tidak memperoleh pertolongan dari Alloh, dia akan makin terus berlarut-larut di dalam kesengsaraan dan di dalam kegelapan penyesalan yang merongrong jiwanya. Penyesalan di dunia masih ada kesempatan untuk memperbaiki, masih ada harapan bisa tertolong. Akan tetapi penyesalan di akhirot sudah tidak berarti, tidak ada kesem­patan untuk memperbaiki. Pintu tobat sudah tutup. Sudah terlambat. Tinggal. merasakan kepedihan siksa dahsyat buat selama-lamanya. !.
Oleh karena itu selagi masih ada kesempatan di dunia ini, mumpung masih hidup belum pindah ke alam kubur, harus usaha sekuat mungkin untuk membebaskan diri dari imprialis nafsu tersebut ! . Untuk berperang melawan nafsu, melepaskan diri dari blenggu imprialis nafsu !. "Jihaadun-nafsi", memerangi nafsu!. Mulai sekarang juga !. Jangan ditunda-tunda !. Nafsu harus kita kuasai harus kita arahkan !. Cara yang paling praktis dan tanpa risiko untuk menguasai dan mengarahkan nafsu yalah terus menerus menerapkan sadar BILLAH disamping niat LILLAH seperti di atas dan sambil dipupuk dengan Mujahadah Sholawat Wahidiyah. Sadar BILLAH adalah masalah yang paling pokok !. Ini soal iman, soal tauhid yang menentukan bahagia atau tidaknya seseorang !. Harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. !.
"Jihaadun-nafsi" adalah perang besar-besaran yang tidak mudah. Mungkin kalah mungkin menang. Sekalipun bagaimana beratnya ji­haadun-nafsi akan tetapi setiap orang yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirot harus meiakukannya !. Kalau tidak berbuat berarti kalah!. Kalah dan dikuasai oleh imprialis nafsunya !. Menjadi budak dari pada nafsunya!. Maju mungkin tatu, akan tetapi mundur jauh lebih hancur!. Mandeg,kejiret !. Maka dari itu lebih baik harus terus maju !. Maju melawan, menguasai dan mengarahkan nafsu !.
Sekembalinya pasukan islam dari perang Badar Rosuululloh SAW bersabda:

رَجَعْناَ مِنَ الْجِهَادِ اْلاَصْغَرِى اِلَى الْجِهَادِ اْلاَكْبَرِ. قِيْلَ يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا الجِهَادُ اْلاَكْبَرِ قَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم: جِهَادُ النَّافْسِ (رواه البيهقى)

Artinya kurang lebih. :
"Kita baru kembali dari perang kecil dan akan menghadapi perang besar". Ditanyakan oleh para shohabat : yaa Rosuulalloh, perang besar yang mana lagi ?. Menjawablah Rosuululloh saw. "Jihaadun-nafsi" - memerangi nafsu ". (Riwayat Baihaqi).
Jadi tiap manusia pasti berhadapan dengan nafsunya sendiri-sendiri. Dan oleh karena itu harus memerangi nafsunya itu !. Nafsu harus dikuasai dan diarahkan oleh manusia !. Jangan sebaliknya, manusia yang dikuasai dan dikendalikan oleh nafsu !.
Cara yang paling praktis untuk menguasai dan mengarahkan nafsu yalah dengan :
a.    Melatih  hati   dengan  niat  LILLAH  dan sadar BILLAH,  dan
b.    Bersungguh-sungguh   di   dalam    bermujahadah   berdepe-depe memohon ampunan, perlindungan dan petunjuk Alloh SWT,
Asal sungguh-sungguh, pasti diberi petunjuk dan pertolongan oleh Alloh, sebagaimana firrnan-NYA :
فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا(29-العنكبوت-69) وَالَّذِينَ جَاهَدُوا
Artinya kurang lebih  :
"Dan orang-orang yang berjihad bersungguh-sungguh di dalam menuju kepada Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami". (29 - Al Ankabut - 69).
Sekali lagi, orang yang tidak mau jihaadunnafsi, tidak mau memerangi dan mengarahkan nafsunya, tidak atau kurang Mujahadahnya istilah Wahidiyah, dia tidak bisa bebas dari cengkeraman imprialis naf­sunya. Otomatis dia jauh dari Alloh !. Makin lama makin jauh, makin lama makin berlarut-larut. ngujo (melampiaskan) nafsunya. Dan dia tidak merasa bahwa diperbudak nafsunya. Makin banyak amal-amal ibadahnya makin dalam dia terjeromos di dalam lumpur dosa. Dia tidak merasa. Sekalipun kelihatan lahiriahnya menjalankan ta'at menjalankan ibadah begini begitu, akan tetapi sesungguhnya bukan ibadah kepada Alloh melainkan menyembah kepada nafsunya sebab tidak disertai niat yang ikhlas LILLAH. Ada pamrih yaitu nuruti keinginan nafsu. Pamrih ingin pahala, ingin surga agar selamat dari neraka, ingin terhormat ingin terpuji ingin mulya dan sebagainya dan sebagainya.
Ibadah yang tidak ikhlas karena Alloh, tidak LILLAH, tidak akan diterima, oleh Alloh. Dan kalau ibadah tidak diterima, bukan ibadah lagi namanya melainkan maksiat. Berat akibatnya lebih-lebih besok di akhirot.
Lebih berat lagi dari pada itu yalah kalau disamping ibadahnya yang sudah tidak ikhlas itu dia mengaku atau merasa mempunyai kemampuan sendiri. Merasa mampu menjalankan ibadah. Dia tidak sadar bahwa dapatnya melakukan ibadah itu adalah karena mendapat fadlol pertolongan dari Alloh swt. Dia ingkar terhadap pemberian Alloh. Dia tidak sadar BILLAH.
Orang yang tidak merasa BILLAH otomatis ujub, riyak dan takabbur sekalipun dalam kadar yang sangat halus sekali.
"Yang disebut 'ujub yalah merasa atau mengaku dirinya mempunyai kelebiban atau mempunyai kemampuan ".
Apabila rasa berkemampuan itu diperlihatkan kepada orang lain, diperlihatkan dengan lisanul-hal atau dengan lisanul-maqol lebih-lebih dengan keduanya namanya "riyak". Dan apabila merasa dirinya lebih baik dari pada orang lain, namanya takabbur.
Pertingkah hati seperti 'ujub, riyak takabbur dan sebagainya adalah perbuatan yang merusak menghancurkan ama-amal ibadah yang dikerjakan pada saat itu oleh karena termasuk syirik mempersekutukan Alloh. Syirik khofi - syirik mempersekutukan Alloh secara samar-samar. Sekalipun syirik khofi itu tidak sampai merusakkan iman akan tetapi tetap syirik dan justru berat sekali akibatnya. Justru merupakan sumber segala penyelewengan dan penyalah gunaan, sumber dari segala kedholiman. Dan umumnya orang tidak merasa, saking halusnya. Karuan se­kali kalau syirik jali - mempersekutukan Tuhan secara terang-terangan. Dia jelas-jelas ingkar terhadap Alloh, dia kafir tidak punya iman. Sedangkan kalau syirik khofi dia masih mempunyai iman masih percaya kepada Alloh, akan tetapi dengan diam-diam dia mengimbangi menandingi Alloh. Dia merampas atau menggasap hak-haknya Alloh, merong-rong kekuasaan Alloh, mengekup kekuasaan Alloh !. Mengapa tidak ?. Allohuqoodirun - Alloh yang berkuasa. Ini percaya. Akan tetapi di samping itu dia juga merasa kuasa merasa mempunyai kemampuan. Buktinya bisa berusaha bisa bekerja   bisa menjalankan. ibadah. Kalau tidak
karena usahaku.....dapatkah rizki jatuh sendiri dari langit?........
dan sebagainya.
Dosa syirik, sekalipun syirik khofi berat sekali siksa dan akibatnya. Firman Alloh  :
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِك بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (4-النساء:48)
Artinya kurang lebih  ;
"Sesungguhnya Alloh tidak memberi ampun jika dipersekutukan dan Alloh mengampuni dosa-dosa selain dosa syirik bagi orang yang IA kehendaki; dan barang siapa syirik Billah maka sungguh ia telah melahirkan dosa besar". (4 -An-Nisaak -48).
Dengan dasar firman Alloh itulah disamping pengamalan dzauqiyyah maka beliau SYekh Abi! Hasan Asy - Syadzali Ghoutsu Zamanihi rodiyallohu 'anhu memberikan peringatan :
مَنْ لَمْ يَتَغَلْغَلْ فِى عِلْمِنَا هٰذَا كَانَ (وَفِى رِوَايَةٍ مَاتَ) مُصِرًّا عَلَى الْكَبآئِرِ وَاِنْ عَمِلَ مَا عَلِمَ وَهُوَ لاَيَعْلَمْ
"Barang siapa tidak mencicipi ilmuku ini (sadar BILLAH) maka dia tetap membawa dosa besar sekalipun betapa banyak ibadahnya dan dia tidak menyadarinya".
Berat sekali akibat dan siksanya dosa syirik. Jangankan seperti kita-kita para ummat yang penuh berlumuran dosa, sedangkan Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW yang Habiibulloh nomer satu, juga para Nabi dan para Rosul sebelum Kanjeng Nabi 'ala Nabiyyina wa 'alaihimus-sholaatu wassallam, yang beliau beliau tersebut sudah dijamin ma'shuum terpelihara dari dosa-dosa, masih juga diberi peringatan oleh Alloh SWT tentang syirik. Firman Alloh. ;
وَلَقَدْ اُوْحِىَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰاسِرِيْنَ.
Artinya kurang lebih :
"Dan sungguh telah diwahyukan kepada-Mu dan kepeda orang-orang (Nabi-Nabi) sebelum Engkau, jika Engkau melakukan syirik pasti amal-amal-Mu menjadi lebur. dan (oleh karenanya) Engkau termasuk golongan orang-orang yang mengalami kerugian besar". (39 - Az-Zumar - 65).
Begitu beratnya ancaman Alloh terhadap orang yang melakukan dosa syirik. Dosa tidak merasakan makna "LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH". Makin banyak ibadahnya makin besar dosanya, makin berat siksanya. Amal-amal yang baikpun ikut hancur lebur tiada gunanya tidak ada manfaatnya. Malah di samping tidak ada manfaatnya, besok di akhirot dirupakan siksa untuk menyiksa yang bersangkutan.
Maka dari itu mujaahadatun-nafsi harus senantiasa terus menerus ditingkatkan di dalam tiap gerak dan laku!. Antara lain dengan terus menerus melatih hati LILLAH BILLAH. Dan jangan sampai berhenti karena merasa sudah bisa LILLAH BILLAH !. Dapatnya mengetrapkan LILLAH BILLAH itu juga harus merasa BILLAH !. Jangan merasa dapat LILLAH BILLAH sendiri. Dan dapatnya BILLAH yang kedua juga BILLAH !. Dan seterusnya.
Nafsu itu pandai sekali menggoda hati. Tidak hanya di dalam keadaan maksiat saja hati digoda dirayu oleh nafsu, akan tetapi justru di dalam keadaan tho'at pun makin kuat usaha dan tipu daya nafsu untuk menggelincirkan agar tho'atnya menjadi rusak menjadi ternoda. Buktinya ketika orang sedang di dalam sembahyang misalnya, nafsu menggoda dengan mengajak hati ingat ini ingat itu, bahkan mengakui itu bisa sembahyang; sembahyangku paling khusyu', orang-orang pada melihat aku, aku lebih baik lebih rajin lebih khusyuu' dari pada si Anu si Anu dan sebagainya. Maka timbullah 'ujub riyak takabbur ketika sedang sembahyang. Pokoknya, nafsu senantiasa mengintip mencari kesempatan dan siap siaga untuk mencaplok hati yang lengah, hati yang tidak ingat kepada Alloh, hati yang tidak merasa BILLAH !. Sekejap saja hati lengah, secepat kilat nafsu menguasai dan memerintah hati menyelewengkan arah tujuan pokok.. Jika hati menjadi sadar BILLAH kembali, nafsupun melarikan diri dengan sendirinya. Akan tetapi selalu siap untuk mengadakan serangan penggodaan berikutnya dengan cara yang lebih halus lagi. Maka dari itu kita harus senantiasa waspada dengan terus meningkatkan penerapan LILLAH BILLAH dan dibantu dengan Mujahadah - Mujahadah Sholawat Wahidiyah !.
Beliau Al Mukarrom Romo K.H. Abdoel Madjid Ma'roef Muallif Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah menganjur-amanatkan ke­pada kita agar supaya lebih memperbanyak membaca kalimah nidak :
يَاسَيِّدِى يَارَسُوْلَ الله
kapan dan dimanapun- kita berada dan ada kesempatan, di samping Mu­jahadah Wahidiyah pada waktu tertentu. Kita baca dengan lisan atau
dalam batin melihat situasi dan kondisi. Alhamdu Lillah besar sekali manfaatnya bagi hati di dalam menerapkan LILLAH BILLAH.
Kita bahas lagi tentang BILLAH. Sebab ini masalah pokok, masalah TAUHID, masalah IMAN yang paling menentukan. Ada perbedaan di dalam pengetrapan LILLAH dan BILLAH.
Pengetrapan niat LILLAH adalah terbatas. Terbatas pada hal-hal yang tidak dilarang syari'at. Perbuatan atau tindakan yang dilarang syari'at, baik perbuatan lahir ataupun perbuatan batin sama sekali tidak boleh disertai niat LILLAH !.Seperti maksiat misalnya, sama sekali ti­dak boleh diniati sebagai ibadah LILLAH !. Maknanya tidak boleh di-kerjakan !.
Adapun kesadaran rasa BILLAH itu mutlak. Tidak terbatas melainkan menyeluruh. Menyeluruh dalam segala keadaan, situasi dan konsisi, dalam segala tingkah laku lahir maupun batin, harus . ... harus merasa BILLAH !. Tanpa kecuali. Tidak membe da - bedakan tho'at atau maksiat. Sekalipun di dalam keadaan maksiat (baik yang tidak disengaja ataupun yang disengaja), harus merasa BILLAH !.
لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِالله
"Tiada daya dan kekuatan melainkan atas titah Alloh - Billah",
قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللهِ  (4-النساء:78)

"Katakanlah   (wahai Muhammad)  segala sesuatu itu datang dari Alloh". ( 4 - An-Nisaak - 78).
Orang maksiat yang tidak merasa BILLAH dosanya dobel. Pertama dosa maksiat itu sendiri, dosa melanggar syari'at, dosa melanggar larangan Alloh dan kedua dosa tidak sadar BILLAH. Bahkan dosa yang kedua ini yang lebih berat. sebab termasuk dosa syirik sekalipun syirik khofi, syirik secara samar-samar. Bidang TAUHID harus begitu. Harus BILLAH !.
Hal tersebut tidak boleh diartikan bahwa kita diperboleh melakukan maksiat asal sudah bisa BILLAH. Tidak, tidak berarti begitu. Perkara boleh atau tidak, itu bidang syari'at bidang LILLAH !. Sedang BILLAH adalah bidang iman, bidang TAUHID !. Kita harus mengisi segala bidang !. Kita isi sepenuh mungkin !. Di dalam bidang syari'at, maksiat tetap maksiat, dilarang menjalankannya. Harus dicegah dan dihindari sekuat mungkin !. Apabila terpaksa menjalankan maksiat harus diakui itu terlarang tidak boleh dikerjakan. Maka harus cepat-cepat menghindar dan bertobat. Di dalam kita menghindarkan diri dari maksiat dan bertobat itulah yang harus disertai niat LILLAH disamping sadar BILLAH senantiasa ! . Begitu seterusnya !.
Ayat berikutnya yakni Ayat nomer 79 An - Nisak berbunyi  :
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ (4-النساء:79)

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Alloh, dan apa saja bencana yang menimpa dirimu adalah dari kesalahan dirimu sendiri." (4 - An-Nisak - 79).
Ini contoh bagaimana kita mengisi bidang syari'at dan bidang adab. Apa yang kita rasakan baik harus kita sadari itu dari pemberian Alloh, maka kita harus meningkatkan syukur kita kepada Alloh. Dan apa yang kita rasakan tidak baik harus kita akui dengan jujur bahwa itu adalah akibat perbuatan dan kesalahan kita. Akibat
dosa-dosa kita. Maka harus secepatnya bertobat memohon ampun dan memperbaiki hal-hal yang kurang baik. Harus merobah sikap atas perbuatan yang kurang baik tadi !.
Begitu pengetrapan segi LILLAH segi syari'atnya. Adapun segi B1LLAH, segi Tauhid, harus kita sadari kita rasakan bahwa semua itu BILLAH.
LAA HAULA WALAAQUWWATA ILLA BILLAH. "QUL KULLUM-MIN 'INDILLAH" seperti diatas.
Alhamdu Lillah !. Bifadillahi wa rohmatih, wabisyafaa'ati Rosuulil-
lahi SAW wa tarbiyatih, wa bibarokati wa nadhroti wa karomati Ghoutsi Haadzaz-Zaman wa A'waanihi wa saairi Auliyaai - Ahbaabillahi rodiyallohu Ta'ala 'anhum, alhamdu Lillah kita para Pengamal Wahidiyah dengan memperbanyak Mujahadah Wahidiyah di karuniai bertambah kuat daya tahan mental hati kita dari godaan-godaan dan pengaruh jahadnya nafsu sehingga di karuniai lebih mudah dan bertambah-tambah di dalam mengetrapkan LILLAH —BILLAH, sekalipun masih harus senantiasa usaha kearah peningkatan yang lebih baik lagi !.
ALHAMDU LILLAH, HAADZA MIN FADLI ROBBI !.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّىْ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى اَتاَناَ * بِالْوَاحِدِيَّةِ بِفَضْلِ رَبِّناَ
(Segala puji bagi Allob yang telh mendatangkan kepada kami Sholawat Wabidiyah dan Ajaran Wabidiyah dengan fadlol Tuhan kami).
يَاسَيِّدِى الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ * عَلَيْكَ يَارَءُوْفُ يَارَحِيْمُ
(Duhai Pemimpin kami, sholawat dan salam semoga tercurah ke pangkuan-Mu duhai Kanjeng Nabi yang bersifat rouf, duhai Kanjeng Nabi yang bersifat kasih sayang).

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (9-التوبة:128)
"Sesungguhnya telah datang kepadamu sekalian seorang Rosul dari kalangan kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terbadap orang-orang mukmin".
وَالآلِ قَدْ اُسْرِعَتْ الْحَوَآئِجُ * بِكَ الْهُدَى الرِّضَا الْفُتُوْحُ الْفَرَجُ
(Dan begitu juga (sbolawat serta salam semoga tercurah) kepada Keluarga-Mu duhai Kanjeng Nabi. Sungguh, berhasilnya bermacam-macam hajat, datangnya berbagai petunjuk dan keridloan Alloh dan terbukanya hati (serta jalan) sehingga bisa keluar dari bermacam - macam kesulitan dan kesempitan, semua itu telah dipercepat (bagi kami), sebab memperoleh jasa-jasa baik dari Engkau duhai Kanjeng Nabi).

اَنْتَ الْمُشَفَّعُ الشَّفِيْعُ اشْفَعْ لَناَ * عِنْدَ الْكَرِيْمِ عَبَدًا وَرَبِّناَ
(Engkau duhai Kanjeng Nabi yang dapat mensyafa'ati dan diterima syafa'atnya; syafa'atilah kami disisi Tuhan Maha Mulya, dan didik serta bimbinglah kami selama-lamanya !).
Begitulah pada hakekatnya, sebab yang mutlak dari segala fadlol dan robmat Alloh SWT itu, bahkan sebab diciptakannya seluruh makhluq ini, tidak lain adalah Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad shollallohu ‘alaihi wassallam. Oleh sebab itu kita wajib syukur dan sadar atau ma'rifat atau mengenal lahir batin kepada Kan­jeng Nabi SAW.
Cara bersyukur terima kasih kepada Kanjeng Nabi SAW yang praktis dan meliputi yalah dengan mengetrapkan dalam hati "LIRROSUL— BIRROSUL" disamping merasa "Bihaqiiqotil Muhammadiyyah"