jama'ah wahidiyah

JAMA'AH WAHIDIYAH

Saturday, 10 March 2012

Enak di depan gak enak di belakang...(itulah ...MALES..)


AL-HIKAM I 

ِبسْمِ اللهِ الرَّحمْنَ ِالرَّحِيْمِ
{اِحَالَتُكَ اْلاَعْمَالُ عَلَى وُجُوْدِ الفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ }

(menangguhkan amal-amal ibadah, menangguhkan berbuat kebaikan, ditangguhkan, ditunda-tunda kalau sudah menganggur, kalau sudah longgar sekarang masih repot ini itu, ini adalah sifat-sifat nafsu yang kumprung, yang bodoh, yang blo'on).

            Nafsu yang kumprung, yang bodoh. Atau semua nafsu itu kumprung, dungu. Saya akan beribadah besok-besok saja kalau sudah, sudah selesai pekerjaanku ini, kalau sudah... selesai garapan sawah, kalau sudah... tidak menyusui anak, kalau sudah... tentram rumah tangga saya, kalau sudah... sehat kembali, kalau sudah pensiun... dan sebagainya dan sebagainya. Ini semua ajakan nafsu. jangan diperturutkan!. Jangan dilayani!. Ajakan nafsu pasti menyeret kepada kebinasaan dan kehancuran!. Menunda-nunda pekerjaan adalah bujukan nafsu!. Alloh SWT telah memberi peringatan dalam firman-Nya yang bernada bertanya dalam surat AL-Hadid ayat 16:

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْ بُهُمْ لِذِكْرِ الله ِوَمَا نَزَلَ مِنَ اْلحَقِّ .....الحديد
            (Belum datang waktunya bagi mereka orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka khusyu mengingat kepada Alloh SWT dan kepada kebenaran-kebenaran yang telah turun kepada mereka ? ... ).
            Sesungguhnya malah sudah jauh terlambat!. Ada lagi, itu dawuh hadist Rosululloh SAW :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابِكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفِرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَغَنَّاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ. الحديث
(Peliharalah lima macam keadaan sebelum datangnya lima macam keadaan yang lain, yaitu masa muda, sebelum datangnya masa tua, dan selagi sehat sebelum atau mumpung tidak sakit, selagi waktu longgar mumpung belum repot, dan selagi kaya mumpung belum fakir, dan selagi masih hidup mumpung belum mati).

            Jadi dalam keadaan bagaimanapun juga kita harus terus, terus memanfaatkan segala keadaan untuk ingat kepada Alloh, untuk mengabdikan diri kepada Alloh, untuk.... untuk Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW :
فَاذْكُرُوْا الله َقِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِكُمْ . النسآء:٥٣
(... ingatlah kepada Alloh di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring).
Jadi pokoknya dimana kita. berada dan apapun yang kita lakukan, harus senantiasa dzikir atau ingat kepada Alloh!. “udzurullooha” = dzikirlah kepada Tuhan!.

            Dzikir itu macam-macam pendapat. Imam Nawawi, semua, semua ibadah itu dzikir. Ubudiyah itu dzikir. LILLAH, semua apa saja yang didasari LILLAH, itu dzikir. Semua dzikir atau ibadah, “muqooribatun ilalloh” . Mendekatkan kepada Alloh! makin banyak ibadahnya, disamping BILLAH otomatis, makin dekat kepada Alloh SWT. Makin diridloi Alloh SWT Makin diridloi Alloh SWT  Makin sempurna indallohi ta'ala.

فَاِذَا كَانَ المرُِيْدُ مُشْتَغِلًا بِحَالٍ مِنْ اَحْوَالِ دُنْيَاهُ وَكَانَ ذَلِكَ يَمْنَعُهُ مِنَ اْلاعْمَالِ الَّتِى يَتَوَصَّلُ بِهَا اِلَى حَضْرَةِ َمْولَاهُ ....كَانَ ذَلِكَ دَلِيْلٌ عَلَى رُعُوْنَةِ نَفْسِهِ
Seorang murid menghendaki wusul kepada Alloh SWT. Atau “Saalik” Istilah “Saalik” dan “murid” sama maksudnya. Tapi ada sedikit perbedaan.
“murid”, masih berkehendak, dan “saalik” sudah berjalan. Sudah berada ditengan jalan. Kedua-duanya itu belum bebas dari nafsu secara keseluruhannya. Tapi sesungguhnya “murid”, karena dia sudah berkehendak, berarti sudah dapat mengalahkan nafsunya. Sekali pun baru sekian prosennya. Lebih-lebih “saalik”. sudah berjalan, sedikit atau banyak sudah dapat menguasai nafsu. Sekalipun belum seratus persen. Tapi soal BILLAH dengan sendirinya belum menguasai. Selanjutnya Syekh Pensyarakh Al-Hikam yaitu Syekh Ibnu ‘Ibad mengulas dengan kata selanjutnya :

وَقَدْلاَ يَجِدُ مُهْلَةٌ بَلْ يَحْتَطِفُهُ المَوْتُ قَبْلَ ذَلِكَ أَوْيَزْدَادُ شُغْلُهُ لأَنَ اَشْغَالَ الدُّنْيَا يَتَدَاعَى بَعْضُهَا اِلَى بَعْضٍ ... فَالْوَاجَبَ عَلَيْهِ اَلنُّهُوْضُ اِلَى مَا يُوْصِلُهُ اِلَى مَوْلاَ هُ قَبْلَ الْفَوَاتِ وَلِذَا قِيْلً الْوَقْتُ كَالسَيْفِ إِنَ اَّمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

            Orang yang menunda-nunda atau menangguhkan amal ibadahnya, disamping tidak tepat, mungkin  sebelum sampai pada waktu yang ditangguhkan dia sudah kedahuluan pati. Mungkin tidak kedahuluan pati, tapi semangatnya atau hasratnya menjadi semakin kendor, ditlikung oleh nafsu, dan mungkin datang acara baru yang lain lagi. Manusia selalu dikepung oleh bermacam-macam kepentingan ini itu ini itu. Satu belum selesai sudah datang perkara yang lain. Tiap-tiap waktu membuat tuntutan sendiri-sendiri. Ingin ini ingin itu, perlu ini perlu itu dan seterusnya. Maka menunda-nunda waktu untuk  melakukan suatu amal perbuatan adalah suatu penyelewengan!. Dan kalau terus menerus begitu, terus menuruti bujukan nafsu, akhirnya tidak ada satu amal perbuatanpun yang dapat dirampungkan dengan sempurna. lbarat masakan matang tidak mentahpun bukan. Magel istilah jawa.
           
            Maka yang wajib harus diperhatikan oleh setiap murid atau saalik ialah selalu menjaga waktu, mengisi segala waktunya segala kesempatannya untuk melakukan amal-amal ibadahnya kepada Alloh Ta'ala ! Untuk melaksanakan pengabdian diri kepada Alloh Ta'ala. Dikatakan diatas tadi.
الْوَقْتُ كَالسَيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ

(Waktu itu seperti pedang, jika tidak engkau menggunakan pedang itu, tentu akan memotong lehermu).
           
Kalau waktu tidak dimanfaatkan untuk “Fafirruu Ilalloh”, dia akan terbunuh oleh kesempatan itu dan akan diserahkan menjadi tawanan imperialis nafsunya. Diinjak-injak, diperkosa dan dijerumuskan oleh imperialis nafsunya ke dalam jurang kehancuran!.

            Waktu atau kesempatan adalah rohmat karunia Tuhan yang harus disyukuri. Maka siapa yang tidak mensyukuri waktu, yaitu menggunakannya untuk ibadah pengabdian diri kepada Alloh, satu-satunya jalan yang membahagiakan dirinya, otomatis waktu yang tidak dimanfaatkan begitu menjadi siksa yang menyengsarakan dirinya. Kalau tidak menjadi “tsawab” pahala, menjadi “iqob” siksa.

Terserahlah! Lha! ini para hadirin-hadirot sekalipun soal kecil atau besar, kita perlu koreksi keadaan diri kita masing-masing! Apakah sudah memanfaatkan waktu kita untuk “tsawab” ataukah kita biarkan untuk “iqob”, yaitu menunda-nunda waktu. Padahal sudah diperingatkan dan diperintah oleh Alloh SWT seperti di atas tadi “udzkurulloha qiyaaman wa qu’uudan wa 'ala junuubikum”…
Kalau tidak bisa dengan berdiri ya dengan duduk, kalau tidak bisa duduk ya dengan berbaring. Seketika itu juga. tidak usah menanti-nanti kalau bisa berdiri dan sebagainya. Kalau bisa, ya, lahir batin. Tapi kalau terpaksa ya batinnya saja!. Kalau batin tidak bisa, ya lahimya saja. Daripada sama sekali tidak ada kegiatan ubudiyah!.
           
            Jadi, dzikir atau ibadah yang sempurna harus dhohiron wa baatinan. Lahirnya ya ibadah, batinnya juga ibadah!. Tapi kalau terpaksa tidak dapat lahir batin, yah! batinnya saja. Kalau batin tidak bisa, yaa! lahirnya, daripada sama sekali tidak. Tidak bisa hudlur, umpamanya. Yah dipaksa saja sekuat-kuatnya Insya Alloh Tuhan akan memberikan pertolongan! Asal

sungguh-sungguh berkemauan lebih-lebih dengan amalan sholawat. Itu lebih mudah. Tapi umumnya ya ibadah apa saja. Sekalipun belum dapat sempurna, ya semampunya dulu. Harus kita teruskan.

            لاَتَطْلَبُ مِنْهُ اَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمَلَكَ فِيْمَا سِوَاهَا فَلَوْ اَرَادَكَ لاَسَتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ اِخْرَاجٍ

            (Engkau jangan meminta kepada Alloh supaya dipindah dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Sebab kalau Alloh menghendakinya, tentulah merubah keadaanmu tanpa merubah keadaan yang lama).

            Ini kita diperintahkan agar supaya jangan memohon kepada Tuhan atau usaha supaya keluar dari suatu keadaan dimana yang kita hadapi. Baik itu keadaan bidang dunia, bidang ekonomi maupun bidang agama. Bidang dunia misalnya seperti bertani, berdagang atau buruh dan sebagainya. Bidang agama misalnya bidang ilmu, menuntut ilmu atau mengajar dan lain-lain. Minta keluar dari keadaan-keadaan seperti diatas dengan maksud supaya bisa ubudiyah kepada Tuhan. Ini tidak tepat. Sebab ubudiyah kepada Tuhan dapat dilakukan dalam segala keadaan. Umpamanya seorang pedagang. Wah kalau saya terus berdagang begitu tidak bisa ubudiyah kepada Tuhan. Karena itu saya harus memohon dan usaha pindah kelapangan pekerjaan yang lain, jadi guru, mengajar ilmu agama, dengan begitu tentu saya bisa lebih tekun ibadah kepada Tuhan. Dan sebagainya dan sebagainya. Ini tidak benar, tidak boleh begitu. Berarti tidak ridlo kepada Tuhan! Tidak puas dijadikan Tuhan menjadi petani atau pedagang, atau pengusaha, atau pengajar dan sebagainya dan sebagainya, dengan alasan tidak bisa ibadah ini tidak wajar begitu. Justru adanya seseorang dijadikan pedagang atau petani atau tukang dan sebagainya itu, justru supaya dimanfaatkan untuk beribadah kepada Tuhan. justru bertani, berdagang dan sebagainya itu supaya dilaksanakan dalam rangka ibadah kepada Tuhan. Dalam keadaan bagaimanapun juga seseorang dapat melaksanakan ibadah


Tuesday, 6 March 2012

tidak merasa ikhlas di dalam keadaan ikhlas).


IKHLAS.
Ikhlas arti bahasanya adalah "murni" . Tidak ada campuran sedikit-pun. Maksudnya, di dalam menjalankan amal ibadah apa saja disertai dengan niat yang ikhlas tanpa pamrih apapun. Baik pamrih ukhrowi lebih-lebih pamrih duniawi, baik pamrih yang bersifat moral/batin lebih-lebih pamrih dalam bentuk material. Ibadah apa saja. Baik ibadah yang berhubungan langsung kepada Alloh Wa Rosuulihi SAW maupun yang berhubungan di dalam kehidupan bermasyarakat, terhadap sesama makhluq pada umumnya. Hal ini sudah kita bahas di bab LILLAH di muka.
Ikhlas itu di kategorikan ke dalam tiga tingkatan : 
-     “IKHLAASHUL-'AABIDIIN”
-    “IKHLAASHUZ-ZAAHIDIIN”
-    “IKHLAASHUL-'AARIFIIN”

1" IKHLAASHUL-'AABIDIIN".
Yaitu ikhlasnya golongan ahli "Ibadah. Menjalankan ibadah dengan mengharap imbalan pahala : ingin surga, takut neraka dan sebagainya.
Ibadahnya memang bersemangat, tekun dan rajin, akan tetapi didorong oleh keinginan-keinginan atau pamrih itu tadi. Ya sudah ikhlas tapi minta upah. Seandainya Alloh tidak menjadikan surga dan neraka, lalu apakah lagi yang diharapkan dan yang menjadi pendorong semangat beribadah?. Apakah lalu tidak melaksanakan ibadah, atau menjadi malas?. Di sinilah negatifnya. Bahkan di samping negatif itu ada lagi negatif lain yang lebih berat. Yaitu perasaan dan pengakuan diri mempunyai kemampuan dapat melakukan ibadah. Dengan dernikian pasti timbul 'ujub, riyak, takabbur dan sebagainya. Dan 'ujub, riyak, takabbur dan sebagainya itu adalah pertingkah hati yang merusak nilai-nilai ibadah sehingga ibadah tersebut ditolak, tidak diterima oleh Alloh SWT. jangankan mendapat pahalanya, diterima saja tidak. Rugi besar !. Bahkan di samping ditolak, ibadah yang tertolak itu kelak di akhirot dirupakan siksa untuk menyiksa yang bersangkutan !. Mari kita koreksi keikhlasan diri kita selama ini, dan mari kita tingkatkan kepada ikhlas yang lebih mulus lebih murni karcna Alloh !.

2.   "IKHLAASHUZ-ZAHIDIIN"
Yaitu ikhlasnya orang-orang ahli zuhud (orang yang bertapa). Ada yang menyebutnya "IKHLAASHUL-MUHIBBIN" yakni ikhlasnya orang-orang ahli mahabbah- Yaitu menjalankan perihal ibadah dengan ikhlas tanpa pamrih, tidak karena ingin surga dan tidak karena takut neraka. Sudah benar-benar LILLAH, semata-mata "ibtighoo-an wajhalloh" » mengharap keridloan Alloh.
Ikhlas seperti ini ya sudah baik, akan tetapi masih ada bahayanya, Yaitu masih mengaku atau merasa mempunyai kemampuan dapat melakukan ibadah sendiri. Tidak merasa BILLAH. Pengakuan seperti itu sangat berbahaya sebab otomatis di dalam hatinya lalu tumbuh cendawan-cendawan 'ujub, riyak, takabbur dan lain-lain yang merusak ibadahnya sehingga ibadahnya ditolak tidak diterima oleh Alloh SWT, sedangkan ia tidak merasa, bahkan malah mengaku ibadahnya sudah baik, paling baik, paling ikhlas, paling mulus semata-mata karena Alloh!.
Maka ikhlas seperti ini harus ditingkatkan menjadi ikhlas yang ketiga yaitu :

3.  "IKHLAASHUL - 'AARIFIIN".
Mengerjakan ibadah semata-mata menjalankan perintah Alloh,^ tidak karena menengok pahala atau ingin surga dan takut neraka. Betul-betul ikhlas LILLAHI TA'ALA tanpa pamrih suatu apapun. Dan di dalam menjalankan ibadah itu dia tidak mengaku dan tidak merasa dapat melakukannya sendiri, melainkan merasa. BILLAH. Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah. Inilah yang dimaksud kata kata :
(Yang dinamakan Ikhlas yang benar yaitu tidak merasa ikhlas (meninggalkan ikhlas) di dalam keadaan ikhlas).
"Meninggalkan   ikhlas"  artinya  tidak  merasa  dirinya  bisa  berbuat ikhlas, melainkan merasa BILLAH.
"Dalam keadaan ikhlas" artinya sungguh-sungguh LILLAH, tidak karena ingin surga atau takut neraka.
Dalil Al Qur'an yang menyebutkan keharusan ikhlas antara lain ;
Artinya kurang lebih :
"Sesungguhnya KAMI menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah (beribadahlah) kepada Alloh dengan memurnikan keta'atan (ikhlas) kepada-NYA". (39 - Az - Zumar: 2).
 dalam ayat lain...
Artinya kurang lebih :
"Pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya mereka menyembah (beribadah kepada) Alloh dengan memurnikan keta'atan (ikhlas) kepada-NYA " (98- Al Bayyinah : S).
Bersabda Rosuululloh SAW:
Artinya kurang lebih :
"Berbahagialah orang-orang yang (beramal dengan) ikhlas; mereka adalah lampu-lampu petunjuk yang segala fitnah yang diserupakan dengan kegelapan menjadi kelihatan jelas dari (karena) mereka" (Riwayat Abu Nu'em dari Tsauban).
Ikhlas itu besar sekali pengaruhnya kepada manfaat tidaknya amal-amal ibadah atau perbuatan-perbuatan apa saja. Disebutkan di dalam kitab Al-Hikam :
"Amal-amal ibadah itu (banyak) sebagai gambar hidup yang berdiri, dan jiwanya adalah wujudnya rahasia ikhlas di dalam amal-amal ibadah itu " (Al Hikam I ; 11).
Kesimpulannya, amal-amal ibadah apa saja jika tidak dijiwai dengan ikhlas berarti tidak hidup, nan bagaikan bangkai. Tidak membawa manfaat sama sekali. Malah, maaf menjijikkan seperti bangkai dan harus segera dikubur. Syekh Sahal At - Tustari berkata :
(Semua manusia akan hancur, kecuali yang berilmu; dan yang ber­ilmu juga hancur kecuali yang mengamalkan ilmunya; yang berilmu dan sudah mengamalkan ilmunya juga akan hancur, kecuali yang ikhlas didalam beramal itu; dan yang sudah ikhlaspun masih dalam teka - teki besar).
Masih teka-teki maksudnya masih tanda tanya, termasuk ikhlas yang mana di antara tiga tingkatan ikhlas tersebut dimuka.
Jadi mudahnya, jika belum L1LLAH-BILLAH. istilah Wahidiyah, belum sempurnalah ikhlas itu. Berarti masih akan mengalami kehancuran seperti dikatakan Syekh Sahal At-Tustari tersebut. Yang sudah LILLAH-BILLAH juga masih bertingkat-tingkat. Sudah betul-betul 100% kah LILLAH-BILLAH-nya, atau masih kecampuran LINNAFSI-BINNAFSI. Maka oleh sebab itu perlu senantiasa adanya koreksi dan usaha kearah peningkatan.
Insya Alloh - dan alhamdu Lillah menurut pengalaman begitu dengan lebih tekun Mujahadah Wahidiyah dan terus menerus melatih LILLAH-BILLAH  dan seterusnya serta aktif melaksanakan tugas-tugas Perjuangan  Fafirruu  Ilallohi wa Rosuulihi SAW menurut sendiri-sendiri, dikarunia peningkatan - peningkatan !.

Monday, 5 March 2012

Hati - hati...Itu Istijrot....


Bismillaahirrohmaanirrohim 

(خِفْ مِنْ وُجُوْدِ اِحْسَانِهِ اِلَيْكَ وَدَوَامِ اِسَاءَتِكَ مَعَهُ اَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ اِسْتِدْرَاجًا)

BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIM.
KHIF MIN WUJUUDI IHSAANIHI ILAIKA WADAWAAMI ISAAATIKA MA’AHU AN- YAKUUNA DZAALIKA ISTIDROOJAN”

Jadi maksudnya, kita diberi sehat, diberi baik ekonominya, diberi diberi, kok tidak atau kurang taatnya kepada Tuhan, kita harus merasa bahwa pemberian ini istidroj-penglulu !. Aku diberi kesehatan yang baik, diberi rizki yang cukup, tapi mengapa ibadahku kepada Alloh kok tidak bertambah baik ?. Kita harus begitu perasaan kita jika keadaannya seperti itu. Mestinya justru sehat, justru dikaruniai kebaikan, soal moril atau materiil, atau diberi selamat, atau tidak kekurangan, atau sekalipun kekurangan tapi tidak seberapa misalnya, sebab jika ada istilah kurang, tentu ada yang lebih kurang lagi, begitu juga soal sehat misalnya, ada yang dikaruniai sehat tapi ada lagi yang lebih sempurna sehatnya, jadi pokoknya dikaruniai nikmat, atau pada pokoknya diberi hidup, kok tidak ada kurang taatnya atau kesadarannya kepada Alloh, maka harus merasa bahwa diberi kecukupan atau kesehatan ini adalah istidroj !. Penglulu !. Soalnya, kecuali memang seharusnya harus ngedoki, dengan sendirinya jika merasa seperti itu lalu ada perhatian, ada usaha agar supaya berubah menjadi yang lebih baik bagaimana. Tapi jika tidak ada tanggapan, lebih-lebih merasa baik    ya wassalam !.

Atau para hadirin hadirot, secara umum, yaitu segala kemampuan atau apa saja yang kita miliki jika tidak didasari LILLAH BILLAH istilah dalam Wahidiyah, otomatis itu istidroj !. Penglulu !. Jebakan !. Atau menyalah gunakan !. Yah, silahkan, terserah !. Segala nikmat, lahiriyah maupun batiniyah yang tidak didasari LILLAH BILLAH dengan tepat otomatis istidroj !. Sehat misalnya tidak didasari kesadaran, tidak didasari LILLAH BILLAH, artinya sadar bahwa yang memberi adalah ALLOH SWT dan kesehatan itu digunakan untuk apa yang diridloi Alloh SWT - LILLAH, jika tidak begitu, disamping LIRROSUL BIRROSUL sudah tentu, itu, itu otomatis istidroj !. Otomatis !. Penglulu atau jebakan !. Otomatis istilah penglulu, atau istidroj, atau jebakan, ini pasti ada akibat-akibat yang berbahaya!.
KHIF MIN WUJUUDI IHSAANIHI ILAIKA WADAWAAMI ISAAATIKA MA’AHU AN YAKUUNA DZAALIKA ISTIDROOJAN !.”
Takutlah, atau kuatirlah, atau lebih mantap lagi yakinlah bahwa yaitu dikaruniai, senantiasa dikaruniai nikmat soal apa saja, atau sekalipun mlarat tapi tidak lebih mlarat lagi umpamanya, dipandang dari segi tidak lebih mlarat tapi sesungguhnya adalah nikmat, begitu juga diberi sakit, sekalipun diberi sakit tapi masih tidak sakit yang lebih parah lagi, Tuhan mampu membuat sakit yang lebih parah dari ini, dipandang dari arah ini, sakit tadi adalah suatu nikmat, kok tidak atau kurang ibadahnya, ini harus yakin bahwa ini adalah istidroj !. Aku diuji sakit yang tidak lebih parah dari ini!. Harus merasa begitu!. Sebab sakitku ini saya salahgunakan, sebab aku senantiasa berlarut-larut!.

Ini setengah dari pada adab. Dan disamping itu, hikmahnya antara lain yaitu dengan merasa begitu, otomatis ada perhatian untuk memperbaiki keadaan.

Jadi disini dikatakan bahwa orang pada umumnya tidak atau kurang mensyukuri pada nikmat-nikmat. Dan nikmat pada umumnya, misalnya soal kesehatan atau soal ekonomi, sekali tidak atau kurang disyukuri, itu tidak menyebabkan hilang, atau tidak sekaligus hilang. Sekalipun begitu, jangan dikira bahwa itu tidak ada apa-apanya, tidak ada akibat-akibatnya. Ini adalah istidroj!. Lebih berat dari pada hilang begitu saja ketika disalahgunakan !. Sebab istidroj itu makin banyak makin lama makin berat !. Tapi jika lalu hilang begitu nikmat yang tidak disyukuri, ya sudah habis sampai disitu. Umpamanya orang diberi nikmat tidak disyukuri, melainkan disalahgunakan, lalu nikmat itu hilang sebab disalahgunakan, itu ya sudah cutel begitu saja. Sedang yang satu lagi diberi nikmat, disalahgunakan dan nikmat itu tidak hilang, dan tidak merasa bahwa menyalahgunakan, makin lama makin berlarut-larut. Diberi soal dunia, disalahgunakan tapi dunia itu menjadi bertambah-tambah, lha ini akan lebih berat lagi sebabnya menyalahgunakan menjadi makin banyak dan makin bertambah terus. Ini makanya dikatakan lebih berat.

Ini perlu adanya koreksi diri kepada pribadi kita masing-masing, para hadirin hadirot !. Jangan sampai terutama ketika membicarakan soal ini lalu menuduh orang lain, tapi seharusnya kita menuduh atau mencurigai kepada pribadi kita sendiri !. Dan terus kita kuatkan dengan menggali fakta-fakta yang ada pada diri kita!. Aku selalu diberi sehat, senantiasa diberi bisa jalan, senantiasa diberi dapat berfikir, dapat ingat melihat, dan sebagainya dan sebagainya, ini saya pergunakan apa !. Jika saya salah gunakan, ini berarti menyalahgunakan, tapi ternyata panggah, tetap masih bisa begitu, ini berarti istidroj !. Tidak saya sadari, tidak saya syukuri, artinya tidak saya gunakan untuk LILLAH BILLAH tapi kok masih saja bisa berfikir, masih saja bisa melihat, mendengar, merasa dan sebagainya, tidak hilang sebab saya salah gunakan, ini namanya istidroj ini !.
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَيَعْلَمُوْنَ (الاعراف:١٨٢)

“SANASTADRIJUHUM MIN HAITSU LAA YA’LAMUUN” (7 - Al A’rof 182)
(....nanti KAMI akan menarik mereka kearah kebinasaan dengan berangsur-angsur secara yang tidak mereka ketahui)
حَتىَّ إِذَافَرِحُوْا بِمآاُوْتُوآأَخَذنَهُمْ بَغْتَةً...(الانعام:٩٩)

HATTA IDZAA FARIHUU BIMAA UUTUU, AKHODZNAAHUM BAGHTATAN...” (7-Al An’aam 44)
(........sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, KAMI siksa mereka dengan sekonyong-konyong.........)
Apabila mereka sudah berlarut-larut, yaitu menyalahgunakan apa yang diberikan kepada mereka, ......”AKHODZNAAHUM BAGHTATAN”. KAMI ambil paksa, KAMI tindak dengan ketegasan !. Ini ancaman Alloh SWT !. Kita harus takut pada ancaman Alloh SWT!. Sedangkan diancam diantara kita sesama saja sudah takut, lebih-lebih yang mengancam Alloh SWT !. Alloh SWT Yang Maha Kuasa !.SYADIIDUL-‘IQOOB”. Yang Maha Menyiksa !. Yang Maha......Maha, Maha !. Kita harus lebih takut yang luar biasa !.
Didalam Wahidiyah sering dibicarakan atau disebut-sebutkan suatu
Hadits.
اِنَّ اللهَ لَيُمْلِى لِلظَّالِمِ فَاِذَااَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
INNALLOHA LAYUMLII LIZHZHDOLIM FAIDZAA AKHODZAHU LAM YUFLITHU” Alloh SWT menangguhkan kepada orang yang zholim yang berlarut-larut yang menyalahgunakan. Tapi awas, apabila Alloh mengambil ketegaan, tidak akan di, .........dilepaskan !. Pasti!.
Para hadirin hadirot, disamping hal-hal seperti tersebut kita harus meninjau sejarah secara umum !. Baik yang jauh maupun yang dekat !. Lebih-lebih akhir-akhir ini banyak kejadian-kejadian lebih-lebih bidang ekonomi. Kemarin masih mampu, tapi sekarang berubah menjadi miskin, mlarat!. Kemarin masih Honda-nan, sekarang mbecak !. Kemarin begitu, sekarang sudah didalam penjara !. Kemarin masih sehat, sekarang jadi layatan !. Dan sebagainya, dan sebagainya !. Hal-hal seperti itu harus kita manfaatkan !. Mungkin  sekali, kalau tidak dapat dikatakan pasti, dalam waktu yang tidak diketahui, kita juga akan mengalami. Terutama soal pati!. Ini harus kita manfaatkan !.
Sekali lagi kita ulangi:
“KHIFMIN WUJUUDI IHSAANIHI ILAIKA WADAWAAMI  ISAAATIKAMA’AHU AN YAKUUNA DZAALIKA ISTIDROOJAN. SANAS TADRIJUHUM MIL HAITSU LAA YA’LAMUUNA”. Takutlah atau berkeyakinanlah bahwa Alloh SWT senantiasa berbuat baik kepadamu. Senantiasa memberi sehat, memberi rizki, memberi apa saja, tetapi aku kok tidak mau menyadari, tidak mau syukur, aku harus berkeyakinan bahwa itu semuanya adalah istidroj.
وَقِيْلَ نُمِدُّهُمْ باِلنِّعَمِ وَنُنْسِيْهِمْ الشُّكْرَ عَلَيْهَا فَاِذَا رَكَنُوْااِلَى النِّعَمِ وَحُجِبُوْا عَنِ الْمُنْعِمِ اُخِذُوْا

WAQIILA NUMIDDUHUM BINNI’AM WANUNSIIHIM-SYUKRO ‘ALAIHAA; FAIDZAA ROKANUU ILAN-NI ‘AMI WAHUJIBUU ‘ANIL MUN ‘IMIUKHIDZUU”
“SANASTADRIJUHUM” ada yang menafsiri disini, yaitu: “mereka Aku beri nikmat tapi mereka melupakannya tidak mau syukur. Maka jika mereka sudah begitu tertarik kepada nikmat-nikmat itu, dan lupa kepada yang memberi nikmat, “UKHIDZUU”. Mereka diambil dengan paksa. Diambil tindakan tegas !. Baik didunia maupun diakhirot. Didunia, akan dipisahkan dengan nikmat yang diberikan. Kalau tidak dunianya yang hilang, bangkrut, hancur, orangnya yang meninggalkan dunia dicabut rohnya oleh Izroil. Ini sudah otomatis !.

Akhir-akhir ini seperti maklumi dan pernah saya utarakan. Soal ekonomi terutama. Keadaan ekonomi dimasa-masa sebelumnya lebih baik dari keadaan sesudahnya. Lha ini ya maaf untuk pribadi kita pada umumnya harus merasa bahwa keadaan ekonomi saja pada waktu dulu-dulu itu saja lebih baik dari sekarang, itu adalah sebenarnya adalah istidroj. Istidroj sebab tidak saya manfaatkan untuk memperbaiki hubunganku dengan Alloh SWT. Tidak saya manfaatkan untuk LILLAH BILLAH tetapi hanya untuk berlarut-larut memuaskan nafsu belaka. Istidroj!. harus begitu perasaan kita!. Sebenarnya ini masih untung, untung kok dunianya yang meninggalkan aku, kok bukan aku yang meninggalkan dunia lebih dahulu. Ditinggalkan oleh dunia lebih dahulu itu lebih baik daripada sudah digradak oleh Izroil sedang dunianya yang senantiasa disalah gunakan itu masih menyelimuti tubuh dirinya. Ini lebih berat ketika dicabut rohnya oleh Izroil, rohnya diperebutkan antara dunianya dan Izroil, yang akhirnya pasti menang Izroil !. segala hak miliknya nggandoli !. Merintangi Izroli, mudahnya. Tapi Izroil pantang mundur sedetikpun. Izroil mencabut nyawa, rumahnya nggandoli. Sawahnya nggandoli !. Orang tua nggandoli, anak, nggandoli !. Suami, istri, nggandoli. Pacar, nggandoli!. Usahanya, tokonya, pokoknya semua dunia yang melekat pada hatinya selama hidupnya, semuanya nggandoli !. Berebut, saling berebut dengan Izroil. Ini makanya lebih berat!.

Jadi lebih ringan dunianya yang kabur lebih dahulu, daripada orangnya yang kabur. Dan lebih-lebih jika orang yang bersangkutan tadi mau bertobat, itu lebih baik lagi.
Jadi pokoknya nikmat, nikmat apa saja yang istilah Wahidiyah tidak dimanfaatkan sebagai pelaksanaan pengabdian diri kepada Alloh SWT, LILLAH BILLAH dan LIRROSUL BIRROSUL, jelas bahwa itu istidroj !. Pasti disalah gunakan, dan merupakan suatu penglulu !. Penglulu, artinya dibiarkan untuk berlarut-larut, bahkan jika perlu diberi kesempatan !. Tapi nanti jika sudah waktunya diambil ketegasan !.
 ( AL HIKAM .KH Abdul Madjid Ma'roef Qs, Wa Ra...)


Wednesday, 29 February 2012

apakah Kita sulit menanggis.....



Menangis adalah merupakan gejala dari pada phenomena psikologis (peristiwa kejiwaan). Setiap manusia pernah mengalami menangis. Baik ketika bayi, ketika masa kanak-kanak, ketika dewasa menjadi remaja, ketika sudah menjadi orang tua bahkan sudah nenek-nenekpun bisa menangis. Makhluq lain jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan belum pernah kita mendengar tangisnya, Motivasi (dorongan) menangis itu bisa terjadi dari berbagai macam sebab. Tangisnya bayi merupakan bahasa untuk memberi tahukan keadaan dirinya dan apa yang dibutuhkan : lapar, haus, badan teras kotor terkena pipis, badan tidak enak/sakit dan sebagainya. Rosululloh SAW bersabda yang maksudnya bahwa tangis bayi sampai umur 4 tahun adalah merupakan istighfar permohonan maghfiroh atas dosa kedua orang tuanya.
Orang yang susah karena mengalami mushibah atau penderitaan yang berat seperti sakit, kematian sanak famili, kehilangan kekasih, kehilangan harta benda dan sebagainya bisa menangis. Orang yang terlalu senang dan gembira juga bisa menangis. Terlalu takut kepada sesuatu juga bisa menangis. Pokoknya, menangis dapat selalu terjadi dalam situasi dan kondisi yang bermacam-macam, selama fikiran masih normal. Orang gila atau orang yang tidak normal otaknya ti­dak bisa menangis. Kalaupun kedengaran suara dia menangis, tetapi tidak keluar air mata. Jadi tidak seperti tangisnya orang biasa yang masih normal fikirannya. Mungkin tangis yang dibuat-buat atau berpura-pura menangis.
Jelaslah bahwa dorongan menangis itu datang dari dalam diri orang yang menangis sendiri, karena adanya sentuhan jiwa atau rangsangan batin. Tangis tidak bisa diada-adakan atau dipaksakan dari luar tanpa ada sesuatu yang merangsang menyentuh ke dalam jiwa. Begitu juga kita tidak dapat menyetop memberhentikan orang yang sedang menangisi begitu saja. Bagaimanapun usaha kita, dengan kekerasan sekalipun, kita tidak dapat menahan orang jangan menangis atau supaya berhenti menangis. Tangis itu akan berhenti dengan sendirinya juga kare­na telah datang "sesuatu" yang merangsang jiwanya, yang meredakan
kegoncangan batinnya. Usaha menahan tangis dari luar diri yang sedang menangis hanya sekedar membantu proses datangnya "sesuatu" yang menentramkan kegoncangan jiwa tadi. Jadi juga ada manfaatnya. Dan memang harus diusahakan oleh orang-orang yang ada disekeliling orang yang sedang mengalami kegoncangan jiwa seperti itu.
Di dalam Mujahadah Wahidiyah banyak kita jumpai dan bahkan sering kita sendiri mengalami menangis. Dalam pada itu sering kita me­nangis tidak mengetahui sebab-sebanya. Tahu-tahu menangis begitu saja tanpa ada sebab-sebab. Tetapi pada satu tempo kita mencoba mengusahakan dan memaksa diri kita untuk bisa menangis, tetapi toh juga tidak berhasil bisa menangis, walaupun dalam keadaan Mujahadah sekalipun. Begitu juga pernah terjadi bahwa pada satu tempo ketika bermujahadah kita tidak dapat menguasai diri dari menangis, tidak mampu mengendalikan tangis sampai tercetus suara jeritan-jeritan yang keras. Mengapa begitu ?. Jawabnya yang tepat : Allohu A'lam !. Kemampuan rasio tidak mampu mengadakan pendekatan - pendekatan, lebih-lebih membuat analisa rasional.
Namun bagaimanapun keadaannya kita harus bersyukur alhamdu Lillah bahwa tangis yang terjadi di dalam Wahidiyah adalah tangis yang berorientasi (berhubungan atau berkaitan) kepada Alloh Wa Rosuulihi SAW. Tangis di dalam Wahidiyah tidak menangisi soal harta atau apa saja yang bersifat kebendaan/material. Motif tangis di dalam Wahidiyah dapat terjadi dari bermacam-macam faktor. Antara lain tangis karena ada sentuhan jiwa yang halus sehingga merasa penuh berlumuran dosa, penuh berbuat kedholiman merugikan orang lain dan masyarakat dan sebagainya. Merasa berdosa, berdosa kepada Alloh SWT berdosa kepada Rosululloh SAW, berdosa terhadap orang tua, terhadap anak dan keluarga, terhadap guru, terhadap pemimpin, terhadap bangsa dan negara, terhadap Perjuangan kesadaran FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW, terhadap makhluq lingkungan hidupnya dan sebagainya. Antaranya lagi karena sentuhan batin berupa "syauq dan mahabbah" (rindu dan cinta) yang mendalam kepada Alloh SWT dan kepada Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad Rosuululloh Shollallohu 'alaihi wasallam. Tangis karena kagum melihat Keagungan Alloh SWT, melihat sifat Jamal dan Kamal Alloh SWT, ternyuh tergores hatinya melihat kasih sayang dan jasa serta pengorbanan Junjungan kita Rosuululloh SAW kepada para ummat, terhadap dirinya yang menangis terutama.
Tangis yang ada hubungan kepada Alloh SWT adalah tangis yang banyak dilakukan oleh Nabi-Nabi mulai Kanjeng Nabi Adam 'alaihis-salaam sampai Junjungan kita Kanjeng Nabi Besar Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam. Kanjeng Nabi Adam 'alaihis-salaam setelah dikeluarkan dari surga, menangis selama seratus tahun nonstop. Menangis meratapi dosanya kepada Alloh SWT yaitu melanggar larangan Alloh agar tidak mendekati buah Kuldi waktu di surga. Menangis bertobat memohon ampunan kepada Alloh SWT.
Mari kita renungkan untuk diri kita !. Itu Kanjeng Nabi Adam, pertama Beliau adalah seorang Nabi dan kedua, Beliau hanya melakukan kesalahan satu kali saja di surga, menangis seratus tahun nonstop. Sedangkan kita?. Kita berbuat dosa tidak hanya satu, dua, tiga kali, melainkan berpuluh, beratus, beberapa ribu kali bahkan tidak dapat dihitung. Namun berapa lama kita menangis meratapi dosa bertobat memo­hon maghfiroh Alloh SWT?. Mari kita akui dengan jujur, dan mari sekarang juga kita bertobat memohon  ampunan kepada Alloh SWT !.
AL FAATIHAH ! BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM.........
YAA ROBBANALLOHUMMA SHOLLI SALLIMI.................
AL FAATIHAH !.
Mari kita perhatikan firman Alloh dalam Surat No. 19 Maryam Ayat No. 58 :

Artinya kurang lebih :
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Alloh yaitu para Nabi dan keturunan Adam, dan dan orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dan keturunan Ibrobim dan Isroil, dan dan orang-orang yang telah KAMI beri petunjuk dan telah KAMI pilih. Apabila telah dtbacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis". (19-Maryam : 58).
 Dalam ayat yang lain.....
Artinya kurang lebih :
"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'".(17:Al isrok : 109).

Yang dimaksud "mereka" dalam ayat tersebut menurut ayat sebelumnya adalah "Alladziina uutul - 'ilma" = orang-orang yang didatangkan ilmu kepadanya. Dan mereka menangis apabila dibacakan Al -Qur'an kepada mereka. Mari kita lihat diri kita sendiri ketika mendengar bacaan Al Qur'an dapat menangiskah, atau bahkan tertawa, atau tidak ambil pusing . Terserah masing-masing kita !.
Kita perhatikan sabda Rosululloh SAW :
Artinya kurang lebih :
"Wahai para manusia, menangislah kamu sekalian; maka jika kamu sekalian  tidak bisa menangis, berusahalah agar bisa menangis!".(Riwaayat Abu Dawud).
 Dalam hadist lain....
Artinya kurang lebih :
"Dua jenis mata yang tidak akan menyentuh api neraka, satu, ma­ta yang menangis dari sebab takut kepada Alloh, dan dua, mata yang karipan (semalaman tidak tidur) di dalam sabillah "
Orang yang tidak menangis terhadap Alloh SWT adalah terkecam dan tidak bisa memperoleh fadlol dari Alloh SWT. Yaitu berdasar fir­man Alloh  :
Artinya kurang lebih :
"Maka apakah kamu merasa heran terbadap pemberitaan ini ?" "Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?", "Sedangkan kamu melengahkan ?". "Maka bersujudlah kepada Alloh dan sembahlah (53 - An - Najmu : 59-60- 61).

 Sabda Rosululloh SAW :
Artinya kurang lebih :
"Barang siapa berbuat dosa dan dia tertawa, maka dia masuk nera­ka sambil menangis ". (Riwayat Abu Nu 'em dari Ibnu Abbas).

Di dalam kitab Taqriibul Ushuul dituliskan :

"Fadlolnya Alloh SWT tidak diberikan melainkan kepada hati yang meratapi dosa yang menghadang sangat membutuhkan pertolongan ilahiyah ".(Taqribul Ushul: 217).

Mudah-mudahan kita dikaruniai hati yang lunak, yang peka (gampang merasa) terhadap "sesuatu" yang menyentuh jiwa kita sehingga kita cepat merasa dan mengakui dosa-dosa kita, kemudian tergores hati kita untuk menangis bersujud bersungkur memohon maghfiroh ampunan dari Alloh SWT !. Amiin !.

Yang dimaksud dengan "sesuatu" tersebut di atas adalah sebagaimana istilah di dalam kitab Al Hikam yaitu "waaridun Ilaahiyyun" yakni suatu suasana dan kondisi batiniyyah yang didatangkan oleh Alloh SWT ke dalam hati hamba yang dikehendaki-NYA. Dan Alhamdu Lillah dengan lebih tekun Mujahadah Wahidiyah, kita dikaruniai apa yang kita mohon tersebut. Dan semua itu harus senantiasa kita tingkatkan !. Kita tingkatkan demi untuk FAFIRRUU ILALLOHI WA ROSUULIHI SAW !.