jama'ah wahidiyah

JAMA'AH WAHIDIYAH

Wednesday, 13 January 2016

KH. Mahrus Ali Bertanya Tentang Wahidiyah

TANGGAPAN KH. DJAZULI YUSUF TERHADAP SURAT 

KH. MAHRUS ALI


TANGGAPAN KH. DJAZULI YUSUF TERHADAP SURAT KH. MAHRUS ALI
            Dengan hormat perkenankan dengan surat ini saya sampaikan  kehadapan Bapak, untuk maksud sebagai ganti shilatur rohmi pribadi saya kepada Bapak. Sehubungan beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 21 April 1985 saya telah menerima kiriman selembar foto copy surat yang berkop “PENGASUH PONDOK PESANTREN LIRBOYO KEDIRI JAWA TIMUR” yang di sudut bawahsebelah kanan tertulis dengan huruf cetak “KH. Mahrus Ali” dan pada sudut kanan atas tertulis “28 Desember 1984”, surat ini saya terima dari salah seorang teman warga NU di Jawa Tengah yang ketepatan sebagai pengamal Sholawat Wahidiyah. Dan saudara tersebut meminta kepada saya supaya mau menanggapi isi foto copy surat yang dikirimkan itu dan selanjutnya supaya disampaikan kepada Bapak KH Mahrus Ali sesuai dengan bunyi kop surat dan tulisan cetak seperti saya sebut di atas.
            Setelah saya pelajari foto copy surat tersebut isinya memang cukup mengejutkan saya yang ketepatan juga sebagai warga NU yang ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah. Bahkan kalau boleh saya katakan sangat menyinggung perasaan saya.Dan isya Allah juga perasaan warga NU di manapun yang ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah. Sebab di dalam foto copy surat itu pada pokoknya menyalahkan kepada amalan Sholawat Wahidiyah bahkan dikatakan bahwa bahwa ajarannya bertentangan dengan syari’at Islam dan lain sebagainya.
            Oleh karena itu saya merasa terpanggil untuk mengabulkan permintaan saudara tersebut di atas untuk menanggapi surat yang dimaksud demi menghindarkan keresahan umat Islam pada umumnya dan khususnya dikalangan warga Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Mengingat warga NU yang ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah tidak sedikit jumlahnya baik yang berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan bahkan yang di luar Jawa sekalipun.
            Sebagai kelanjutan surat saya ini perkenankan saya ingin memetik (menukil) beberapa kalimat yang pada foto copy surat yang saya disebut di atas dan langsung saya nukil dengan menggunkan bahasa Indonesia sekalipun aslinya bahasa Jawa.
Di dalam foto copy surat itu disebut-sebut sebagai berikut :
1.      “Bahwa Sholawat Wahidiyah itu dibuat-buat oleh KH Abdoel Madjid Ma’ruf sendiri dengan  tidak ada isnad minal adillah dan Ulama-ulama Kediri khususnya Ulama NU tidak ada yang  mengamalkan”.
Sebagai tanggapan saya dalam masalah tersebut :
a.       Sholawat Wahidiyah memang betul ta’lifan (disusun) oleh Beliau KH Abdoel Madjid Ma’ruf. Dan apabila yang dikehendaki oleh Bapak dengan dibuat-buat itu dengan maksud lain  sebagai meremehkan hasil karya seseorang, itu adalah hal yang tidak terpuji untuk dilakukan atau diucapkan oleh seorang Ulama besar seperti Bapak. Hal itu sama sekali tidak mendidik, bahkan menunjukkan berkecemuknya beberapa perasaan yang bertentangan dengan diri Bapak (hasud)
b.      Pada kalimat“tidak ada isnad minal adillah”…
Apabila yang Bapak Maksudkan dengan isnad minal adillah itu silsilah yang muttashil kepada Rosulullah SAW, maka saya perlu memberikan penjelasan kepada Bapak agar Bapak lebih memahami masalah tersebut; Bahwa Sholawat itu tidak perlu dan tidak disyaratkan adanya isnad minal adillah. Karena sanadnya langsung kepada Rosulullah Saw.hal itu sebagaimana tersebut di dalam Hasyiyah Showi ‘alal Djalalaini  juz III surat Al Ahzab sebagai berikut :
وَبِالجُمْلَةِ فَالصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْىِ وَسَلَّمَ تُوْصِلُ إِلَى اللهِ مِنْ غَيْرِ شَيْخٍ لِأَنَّ الشَّيْخَ والسَّنَدَ فِيْها صَاحِبُهَا لِأَنَّهَا تُعْرَضُ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُوْصِلُ عَلَى المُصَلِّى بِخِلاَفِ غَيْرهَا مِنَ الأذْكَارِ فَلاَبُدَّ فَيْهَا مِنَ الشَّيْخِ العَارِفِ وَإِلاَّ دَخَلَهَا الشَّيْطَانُ فَلاَ يَنْتَفِعُ صَاحِبُهَا بِهَا. وَصِيَغُ الصَّلاةِ كَثِيْرٌ لاَتُحْصَى وَأَفْضَلُهَا مَا ذُكِرَ فَيْهَا لَفْظُ الآلِ وَالصَحْبِ فَمَنْ تَمَسَّكَ بِأَيِّ صِيْغَةٍ مِنْهَا حَصَلَ لَهُ الخَيْرُ العَظِيْمُ.
c.       Dan apabila yang Bapak maksudkan isnad minal adillah itu dasar dan qo’idah syar’iyah itu pun perlu saya berikan penjelasan; sebab semua Sholawat baik yang ma’tsuroh (Sholawat yang langsung diajarkan oleh Rosulullah SAW) maupun yang ghoiru ma’tsuroh (selain dari Rosulullah SAW) seperti yang disusun oleh para ulama As Sholihin seperti Sholawat Nariyah, Sholawat Munjiyat, Sholawat Badr, Sholawat Wahidiyah dan sebagainya. Isnad minal adillahnya langsung dari Al Qur’an dan Al Hadits seperti Firman Allah SWT dan sabda Rosulullah SAW tersebut dibawah ini :
قَالَ تَعَالَى : يَااَيُّهاالّّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوْا تَسْلِيْمًا (الأحزاب)
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا (رواه مسلم)
Atas dasar ayat Al Qur’an dan Al Hadits di atas, semua Sholawat dengan tidak terkecuali mempunyai kedudukan yang sama, sekalipun maziyah dan kegunaannya berlainan. Sebagaimana disebut dalam kitab Sa’datud Daroini halaman 373 sebagai berikut :
لِاَنَّ النّبِيِّ صَلَّى أَخْبَرَنَا بِأَنَّهُ يَسْتَحِقُّ ذَالِكَ فَاعِلُ مُطْلَقِ الصّلاَةِ وَلَمْ يُقَيِّدُ ذَالِكَ الإِسْتِحْقَاقِ بِكَوْنِ الصَّلاَةِ المَفْعُوْلَةِ هِىَ الصَّلاَةُ الَّتِى عَلَّمْنَا وَلَيْسَ مَعْنَى مُطْلَقِ الصَّلاَةِ المَذْكُوْرَةِ فِى الآيَةِ وَالأَحآدِيْثِ مُجْمَلاً حَتَّى يَتَوَقَّفُ عَلَى البَيَانِ. وَقَالَ بَعْدَمَا ذكر دلّ مَا تَقَدَّمَ عَلَى أَنَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَيِّ صِيْغَةٍ كَانَتْ مِنْ صيغ الصَّلاَةِ المَأْثُوْرَةِ أَوْ غَيْرهَا يَسْتَحَقُّ الأتى بِهَا الأجر المَوْعُوْد الوارِد فِى الأَحآدِيْثِ الصَّحِيْحَةِ
d.      Pada kalimat Ulama-ulama Kediri khususnya Ulama NU tidak ada yang mengamalkan”
Bapak hendaknya sadar, bahwa Kediri warga NU yang ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah tidak sedikit jumlahnya bisa juga sampai ribuan bahkan puluhan ribu. Apakah diantaranya sekian ribu itu tidak mungkin terdapat Ulamanya ?
Di samping itu Bapak perlu mengingat kembali tokoh dan Ulama  besar NU seperti beliau Al Mukarrom Bapak KH. Wahab Hasbullah dimana pada waktu diadakan peringatan hari ulang tahun Sholawat Wahidiyah yang pertama di Pondok Kedunglo Kodya Kediri, beliau dalam pidato sambutannya antara lain menyebutkan :قَبِلْتُ إِجَازَتَكَkepada bapak Al Mukarrom KH. Abdoel Madjid Ma’ruf. Berarti Belaiu menerima ijazah Sholawat Wahidiyah dari Al Mukarrom KH. Abdoel Madjid Ma’ruf dan beliau menyetujui Sholawat Wahidiyah dijadikan amalan disamping amalan-amalan yang lain. Perlu Bapak Ketahui juga bahwa Beliau Al Mukarrom Al Marhum KH.Jazuly Pengasuh Pondok Pesantren Ploso Mojo Kediri Jatim.Beliau juga menerima Sholawat Wahidiyah dan semasa hidupnya juga ikut mengamalkanSholawat Wahidiyah bahkan beliau menganjurkan kepada para santrinya untuk ikut mengamalkan bukankah beliau-beliau itu Ulama-Ulama NU.
2.      Disebut juga dalam foto copy surat tersebut di atas “bahwa di Pondok Pesantren Lirboyo para santri diharamkan mengamalkan Sholawat Wahidiyah sebab ajarannya bertentangan dengan syari’at yaitu KH.Abdoel Madjid Ma’ruf telah menanggung, barang siapa yang mengamalkan Sholawat Wahidiyah selama 41 hari ditanggung besuk hari Qiyamat masuk surga sampai anak keturunannya. Ini namanya ujub bil amal dan itu termasuk minal kabaair”.
Kalimat-kalimat di atas perlu saya berikan beberapa tanggapan :
a.       Pada kalimat “Ajarannya bertentangan dengan syari’at, yaitu KH. Abdoel Madjid Ma’ruf …… dst”.
Di sini Bapak menuduh seseorang dengan tanpa menunjukkan bukti. Dari mana Bapak dapatkan, sehingga Bapak berani berfatwa seperti itu ? Tuduhan kepada seseorang tanpa menunjukkan bukti adalah fitnah والفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ القَتْلِ . Hal yang demikian mestinya tidak boleh terjadi pada seorang muslim, lebih-lebih yang bertitel Ulama besar yang berpengaruh.
b.      Sedang ajaran Wahidiyah pada intinya adalah LILLAH dan BILLAH yang dimaksud adalah SYARI’AT dan HAKIKAT (periksa dalam lembaran Wahidiyah). Dan masalah ini bukan masalah baru dalam Islam. Sebab dalam  kitab Kifatul Atqiya’ halaman 9 sebagai berikut :
الشَّرِيْعَةُ وُجُوْدَ الأَفْعَالِ لِلَهِ وَالحَقِيْقَةُ شُهُوْدَ الأَفْعَالِ بِاللهِ
Padahal orang yang beramal dengan tidak menerapkan LILLAH dan BILLAH terkecam dan amalnya tidak diterima di sisi Allah SWT. Hal ini sesuai denga keterangan dalam kitab Hikam Lil Ibni ‘Ibad Juz II sebagai berikut :
كُلُّ عَمَلٍ لاَ إِخْلاَصَ فِيْهِ لَيْسَ بِاللهِ وَلاَ لِلّهِ مَرْدُوْدٌ عَلَى صَاحِبِهِ وَمَضْرُوْبٌ بِهِ وجْهِهِ وَبِهذا يَتَبَيَّنَ لَكَ غُرُوْر اكْثرِ الخَلْقِ فَى عُلُوْمِهِمْ وَاَعْمَالِهِمْ إِلاَّ مَنْ رَحِمَهُ اللهُ
c.       Seterusnya Bapak menyebut-nyebut dengan kalimat “zaman  41 hari” …….
Dari sini menunjukkan bahwa Bapak belum pernah tahu Sholawat Wahidiyah. Sebab sepanjang yang saya ketahui selama 21 tahun saya ikut mengamalkan Sholawat Wahidiyah, belum pernah saya menenui bilangan hari pengamalan 41 hari seperti yang Bapak sebut itu. Yang ada ialah 40 hari.Pada hal di dalam lembaran-lembaran Sholawat Wahidiyah yang berear di masyarakat luas bilangan itu tetap dicantumkan. Berarti Bapak hanya menerima berita kata orang (قِيْلَ وَقَالَ) . Sabda Rosulullah SAW sebagai berikut :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ... وكره قيل وقال (رواه البخارى)
Tapi aneh sebelum Bapak mengetahui permasalahan secara detail, Bapak telah berani menjatuhkan fonis hukumnya, yaitu dengan kalimat “malah santri Lirboyo ……. Diharamkan mengamalkan Sholawat Wahidiyah.”. Padahal menurut Kitab Sullam Taufiq mengharamkan sesuatu yang tidak haram menjadi MURTAD. Bapak mengharamkan pengamalan Sholawat Wahidiyah seperti tersebut di atas, jelas tidak berdasar kepada data yang konkrit, yang bisa dipertanggung jawabkan dan dengan dasar dalil syar’I dan hujjah yang wadlihah. Semata-mata hanya dengan khobar qila waqola(قيل وقال) dan ditunjang dengan rokyu Bapak. Alangkah bahayanya ?seperti disebut dalam Hadits berikut ini :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَالَ فِى الدِّيْنِ بالرأي فَقَدْ اتهمنى. (رواه أبو نعيم عن جابر بن عبد الله) .قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَعْمَلُ هَذِهِ الأُمَّةَ بُرْهَنَةُ بِكِتَابِ اللهِ ثُمَّ تَعْمَلُ بِسُنَّةِرَسُوْلِ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تَعْمَلُ بِالرَّأْيِ فَإِذَا عَمِلُوْا بِالرَّأْيِ فَقَدْ ضَّلُوْا وَأَضَلُّوْا (رواه أبو نعيم عن أبى هريرة)

3.      Selanjutnya dalam surat tersebut Bapak menuliskan duabuah Hadits untuk dasar bahwa Rosulullah SAW tidak bertanggung jawab kepada keluarganya, lebih-lebih selain Rosulullah SAW. baiklah disini untuk lebih jelasnya hadits itu saya tulis kembali :
وَفِى الحَدِيْثِ : لَنْ يجنى أحدكم عمله قَالُوْا وَلاَ أَنْتَ يَارَسُوْلُ اللهِ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ تَغَمَّدَنَى اللهُ بِرَحْمَتِهِ . وَفِى الصَحِيْحَيْنِ قَامَ رَسُوْلُ اللهِ حِيْنَ أَنْزَلَ عَلَيْهِ وَأَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الأَقْرَبِيْنَ. فَقَالَ يَامعشر قُرَيْشٍ اشْتَرَوْا أَنْفُسَكُمْ مِنَ اللهِ لاَأَغْنَى عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا يَا بَنِى عَبْدِ مَنَاف لاَأَغْنَى عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا يَاعَبَّاس عَمَّ رَسُوْلِ اللهِ لاَأَغْنَى عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا يَاصَفيَّة عَمَّة رَسُوْلِ اللهِ لاَأَغْنَى عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا يَافَاطِمَة بِنْت رَسُوْلِ اللهِ سَلِيْنِى من مالى ما شِئْتِ لاَأَغْنِى عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا (إرشاد العباد : 116)
Pengertian Bapakseperti tersebut diatas, perlu saya berikan tanggapan yaitu pada  Hadits yang pertama dan kedua adalah dasar untuk HAQIQOTUL AMRI, bukan seperti rokyu Bapak tersebut diatas. Adapun masalah syari’at atau lahiriyah seseorang tetap akan menerima balasan amalnya. Hal ini banyak disebutkan dalam Al Qur’an sebagai berikut :
فَمْنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَاه وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَراه (الزلزلة : 7-8)
إِنَّ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيْمِ (لقمان : 8)
Pada hadits kedua, kalau hanya sekedar kita baca leterleknya (lafadz-maknanya) seperti pemahaman Bapak itulah jadinya.Untuk itu marilah kita telaah kembali beberapa kitab yang mengupas makna hadits tersebut. Seperti di dalam Kitab Syawahidul Haq oleh Syaikh Yusuf Bin Ismail an Nabhani pada hal 496 beliau memberikan penjelasan sebagai berikut :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلّ نَسَبٍ وَسَبَبٍ يَنْقَطِعُ يَوْمَ القِيَامَةِ إلاَّ نَسَبِى وَسَبَبِى (رواه بن عساكر عن ابن عمر وَقَدْ قَالَ تَعالَى (وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى) ولايرضيه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الا سعادة اقاربه الأَقْرب فالأقْرب وَإِنَّمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ "لاَأَغْنَى عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا" تَعْظِيْمًا لِجَانِبِ الحَقِّ تَعَالَى.
Dan di dalam Tafsir Syowi dijelaskan mengenai Hadits tersebut sebagai berikut :
وَأَمَّا مَا مَرَّ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةِ بِنْتِهِ أَنَا أَغْنِى عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا فَهُوْ تَحْذِيْرٌ لَهَا مِنَ الكُفْرِ الَّذِى بِهِ تَنْقَطِعُ الأَنْسَابُ (حاشية لصاوى على الجلالين ثالث, لقمان)
Pada dasarnya Rosulullah SAW tetap bertanggung jawab dan mensyafa’ati kepada umatnya, lebih-lebih kepada keluarganya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits sebagai berikut :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : شَفَاعَتِى لأَهْلِ الكَبائرِ مِنْ أُمَّتِى (رواه احمد ونساء وابن حبان فى صحيحه والحاكم عن جابر)
Pengarangan Kitab Syawahidul Haq memberikan penjelasan dalam masalah tersebut sebagai berikut :
كَيْفَ وَهُوَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَعْطَى الشَّفَاعَةَ فِى سَائِر النَّاسِ فَيَشْفَعُ فِى الأَبْعَدِيْنَ وَيَتْرُكُ قرباءه المؤْمِنِيْنَ ؟ هَذا مِمَّا لاَيَكُوْنُ وَلاَيَتَصَوَّرُهُ عَاقِل (شواهد الحق ص 497)
Sedang selain Rosulullah SAW dapat mensyafa’ati kepada selainnya. Seperti tersebut dalam hadits di bawah ini :
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيَدْخُلُ الجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى أَكْثَرُ مِنْ بَنِى تَمِيْم (رواه احمد ونسائى وابن حبان فى صحيحه والحاكم عن عبد الله )
Lebih-lebih Rosulullah SAW sebagai Sayyidul Anbiya’ wal mursalin wa Sayyidul kholqi ajma’in, apakah masih perlu diragukan syafa’at beliau ?na’udzubillahi min dzalik.
Untuk kalimat selanjtnya dalam foto copy itu saya tidak akan menanggapi,  sebab pada dasarnya hanya merupakan kaitan dari kesimpulan yang Bapak dari ambil dari beberapa keterangan di atas. Ketidak ketelitian Bapak dalam menganalisa sesuatu permasalahan dan kurang cermatnya Bapak dalam menerapkan dalil terjadilah kesimpulan yang tidaktepat itu.

Tuesday, 12 January 2016

musibah atau cobaan atau azab

Surat Al-Baqarah [2:156]
[Kala terkena musibah, hendaklah ucapkan : “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”]

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

alladziina idzaa ashaabat-hum mushiibatun qaaluu innaa lillaahi wa-innaa ilayhi raaji’uuna
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.
* * *
makna dari kalimat “innalillahi wa inna ilaihi rajiun”
inna lilahi wa inna ilaihi rojiun dalam kehidupan kita sehari hari sering kita gunakan ayat diatas hanya dibacakan ketika kita mendapatkan berita buruk atau musibah saja.lebih jelasnya ketika kita mendengarkan ada orang dekat kita, orang tua, atau sanak saudara yang meninggal dunia. tidak salah penggunaan bacaan diatas. yang mana arti dari kalimat diatas kurang lebih “datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. arti diatas bisa bermakna bahwa kita bisa hadir dan hidup didunia ini adalah karena ijin Allah, karena kehendak Allah. maka kita kelak akan kembali lagi ke hadapat Allah dalam bentuk apapun.
apakah hanya sampai disini penggunaan ayat diatas???
apakah gak ada makna lain yang bisa digali??
apakah hanya itu hakekat dari ayat inna lillahi wa inalillahi rojiun…
banyak makna yang bisa digali
banyak arti yang bisa timbul dari ayat diatas
hakekatnya sangat luas bila kita lebih memahami dan tidak hanya sekedar membaca dan ikut ikutan saja.
biar dianggap sok alim gitu..
sebenarnya, apakah yang datangnya dari Allah???……buanyakkk men.. kalo kita cermati semua yang ada didunia ini datangnya dari Allah. kalo kita sadari , semua rizki dan anugrah yang telah kita terima selama ini adalah dari Allah. apa yang kita miliki sekarang ini datangnya tidak lain dari Allah. sampe duit, posisi, jabatan, kepandaian, ilmu, perhiasan, baju, motor, rumah, mobil, anak, istri, dan deposito kita datangnya dari Allah, baik itu secara langsung maupun tidak.
hubungannya dengan ayat ini …bingung lhoh… he ..he..
inna lilahi wa inna ilaihi rojiun
“datangnya dari Allah dan kembali kepada Allah”.
maksudnya ……jika ada diantara milik kita seperti yang disebutkan diatas ternyata diambil oleh Allah ya diiklaskan…..gimana gak iklas, yang minta adalah yang memberi ke kita.
bila ada diantara yang disebutkan diatas diminta oleh Allah ya kita harus memberikannya. embel embelnya harus diiklaskan. jangan digandoli, jangan dieman eman. jangan pelit sama yang telah memberikan segalanya kekita tanpa pamrih.
masa, Allah meminta minta ke kita ?
masa, Allah doyan sama barang milik kita ?
masa, Allah suka sama perhiasan kita, uang kita, jabatan kita…?
Allah tidak butuh semua itu. Allah tidak matre ..jangan pikir Allah kedonyan.
tidak begitu, Allah maha Kuasa, Allah maha Halus, Allah maha bijaksana, Allah maha kaya.
Allah tidak menampakkan wujud seperti yang kita bayangkan.
Allah akan menampakkan wujudnya ketika ada orang meminta minta kepada kita
Allah akan menampakkan wujudnya ketika ada musibah menimpa kita
Allah akan menampakkan wujudnya ketika ada anak, tetangga atau saudara yang kelaparan.
Allah akan menampakkan wujudnya ada orang datang meminta sumbangan untuk anak yatim, untuk pembangunan masjid, untuk operasional pondok pesantren.
itulah mujud Allah yang sering kita tolak, yang sering kita remehkan, yang sering kita maki. subhanallah. kita telah salah menilai mereka selama ini.
entah itu orang mo menipu, atau bener bener, orang kelaparan atau bohong, untuk bangun masjid atau untuk sendiri, itu artinya Allah sedang menguji kita, Allah sedang mengambil haknya. kembali kepada kita, bagaimana kita merawat barang milik kita selama ini, bagaimana cara kita mendapatkannya, bagaimana kita mensyukuri pemberian dari yang maha kuasa ( Allah swt.)
kembali ketopik ” bahwa Allah berhak mengambil atau meminta apa saja milik kita yang datangnya dari allah”
DATANGNYA DARI ALLAH DAN AKAN KEMBALI KE PADA ALLAH.
jadi banyak sekali penerapan yang bisa kita gunakan dari sekedar ayat
inna lilahi wa inna ilaihi rojiun
gak cuma dibaca kalo kita mendengar ada berita orang meninggal saja.
ihhhh serem dengernya, sapa yang meninggal…??? tentu itu yang kita ucapkan ketika mendengar kalimat tersebut, padahal setiap kehilangan, kematian, sakit, gak ada salahnya kita ucapkan kalimat inna lilahi wa inna ilaihi rojiun……

Saturday, 9 January 2016

Miladiyyah Kubro

Jangan Lupa ............
14 Januari 2016

Mujahadah Miladiyyah Kubro

dilokasi Miladiyyah 
Tempat Lahirnya Sholawat Wahidiyah 
Kedunglo Kediri Jawa Timur

Saturday, 17 October 2015

Mujahadah Kubro

MARI KITA IKUTI 
22-26 Oktober 2015

MUJAHADAH KUBRO

JAMAAH WAHIDIYAH PUSAT 
DI TEMPAT LAHIRNYA SHOLAWAT WAHIDIYAH 
KEDUNGLO MILADIYYAH 
KEDIRI JAWA TIMUR

jadwal Mujahadah Penyongsongan




Saturday, 4 October 2014

Semua dari Alloh...termasuk ikhtiar juga dari Alloh

Dus! ada orang yang (tapi jarang) menjadi sadar tanpa berjuang tanpa usaha tanpa mujahadah-mujahadah. Tahu-tahu dia dijadikan budi tarik oleh Alloh SWT. “AHKDHOMUN NAASI JADHBAN AL ANBIYA' yang paling besar mendapat jadhbu tarikan adalah para anbiak dan Mursaluun ‘alaihimus sholaatu wassalam Tapi itu jarang sekali Umumnya ya dengan berjuang dengan usaha dengan mujahadah-mujahadah. Sesungguhnya berjuang atau usaha atau mujahadah itupun ditarik oleh Alloh SWT. Ditarik dengan jalan perjuangan, usaha atau mujahadah. Ya sama dengan soal lahiriyah. Orang kaya misalnya. Pada umunmya dari hasil berjuang usaha, bekerja dengan gigihnya. Tapi ya mungkin ada tapi jarang sekali tahu-tahu menjadi orang yang kaya mendadak. Entah bagaimana jalannya. Mungkin mendapat warisan dan lain-lain. begitu juga soal kesadaran.

وَلِذَا قِيْلَ نِِهَايَةُ السَّالِكِ بِدَايَةُ الْمَجْذُوْبِ


Maka dikatakan “titik” penghabisan dari “Salikin” merupakan titik permulaan bagi “Majdhuubiin”. Saalik yang sudah sampai ke tingkat bebas dari imprialis nafsunya merupakan titik, permulaan dia dijadhbu ditarik. Atau dibalik.

نِِهَايَةُ الْمَجْذُوْبِ بِدَايَةُ السَّالِكِ

Artinya:
Orang yang majdhub ditarik tidak melalui jalan usaha akhirnya juga akan berjuang usaha dan mujahadah-mujahadah dan lain-lain. Yaitu dalam rangka “Yukti Kulladhii haqqin haqqoh”. Dia usaha dan berjuang tapi hatinya senantiasa kepada Alloh.

وَوَرَدَ اَعْظَمُ النَّاسِ جَذَابًا اْلاَنْبِيَاءِ

Yang paling besar ditariknya adalah para anbiya' wal mursalin otomatis makin tinggi kedudukannya, makin besar menariknya.

وَذَالِكَ أَنَّ الْمُسْتَدِلُ بِهِ عَرَفَ الْحَقِّ فَأَثْبَتَ الاَمْرَ مِنْ وُجُوْدِ اَصْلِهِ ,وَاْلاِ سْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُوْلِ اِلَيْهِ وَاِلاَّفَمَتَى حَتَّى يَسْتَدِِلَّ عَلَيْهِ وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُوْنَ الآثَارُ هِىَ الَّتِى تُوْصِلُ اِلَيْهِ

Tapi dikatakan ada dua macam, orang yang menuju kesadaran kepada Alloh. Yang pertama membuat makhluk sebagai dalil kepada Alloh dan yang kedua menjadikan Alloh sebagai petunjuk untuk menunjukkan makhluk. Maklum yang pertama tadi belum sadar kepada Alloh SWT sehingga makhluk dianggap mampu menunjukkan kepada KHOLIQ Ya, maklum mereka ini masih buta terhadap Alloh SWT. yang kedua tadi, yaitu orang yang membuat KHOLIQ sebagai petunjuk terhadap, makhluk. Dan ini yang benar yang tepat. Alloh itu asli sumber dari segala. yang majdhub. Golongan yang kedua ini dapat menempatkan. segala sesuatu di tempatnya. Oleh karena Alloh itu sumber asal atau Pencipta atau wujud pertama, maka mereka itu dapat menempatkan Alloh pada kedudukan yang sebenarnya, di tempat yang pertama pula. sebagai petunjuk yang menunjukkan segala sesuatu. Orang yang membuat Alloh sebagai petunjuk mereka tahu sesungguhnya. Barang yang sesungguhnya yaitu soal yang paling pokok adalah Alloh yang punya.
“FA ASBATAL AMRO MIN WUJUbDI ASLIHI”

(Makhluk dianggap, ada karena dari asalnya dari Alloh SWT).

Bisakah .....Kita

RASULULLAH S.A.W. DAN PENGEMIS YAHUDI BUTA
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama MuhammadRasulullah s.a.w  melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w.  wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. 

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha. 

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abu bakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya. 

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a. 
Selamat ari Raya Iedul Adha 1435 H

Wednesday, 6 August 2014

Apakah Kita Pernah Malu....seperti pemuda Tsa’labah bin Abdurrahman Radiyallahu ‘anhu



Tsa’labah bin Abdurrahman Radiyallahu ‘anhu

 Tersebutlah seorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur.
 Dia berlari menuju ke sebuah gunung yg berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya. Tsa’labah tinggal disana dan senantiasa bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menangis selama empat puluh hari. Kepergian Tsa’labah membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam merasa kehilangan.
Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.'”
Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari Tsa’labah. Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam berkata, “Wahai Umar (ibn Khaththab) dan Salman (al-Farisi)! Pergilah cari Tsa’labah bin Aburrahman, lalu bawa kemari.”

Keduanya pun lalu pergi hingga sampailah mereka menyusuri perbukitan di sekitar Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.
Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?”
 Penggembala itu menjawab, “Apakah yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?”
 “Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?” tanya Umar.
 Dzaufafah menjawab, “Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan-Mu!”
 “Ya, dialah yang kami maksud,” tegas Umar.
 Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.
Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Wahai Tuhan!, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan-Mu!”
Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya.
Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?”
“Aku tidak tahu, yg jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.”, jawab Umar.
Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan shalat”
Ketika mereka menemukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tengah melakukan shalat, Umar dan Salman radiyalahu ‘anhuma segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’labah mendengar bacaan ayat Allah yang dibaca Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, dia tersungkur dan jatuh pingsan.
Setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar! Wahai Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa’labah?”
Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai Rasulullah!”
Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa’labah yg membuatnya tersadar.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata kepadanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?”

Tsa’labah menjawab, “Dosaku, ya Rasulullah!”
 Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang apat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?”
 “Benar, wahai Rasulullah.”, jawab Tsa’labah.
 Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS al-Baqarah: 201)
 Tsa’labah berkata, “Dosaku wahai Rasulullah, sungguh sangat besar.”
 Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Akan tetapi kalamullah lebih besar.
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan Tsa’labah agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari.
Mendengar Tsa’labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit keras.” 
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.
“Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?” tanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.
 “Karena aku penuh dengan dosa.” Jawabnya
 Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang engkau rasakan?”
 “Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah.
 Beliau bertanya, “Apa yang kau inginkan?”
 “Ampunan Tuhanku”, jawabnya.

Maka turunlah Jibril ‘alaihissalam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’ (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka segera Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membertahukan hal itu kepada Tsa’labah. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa’labah dan langsung meninggal.
Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan agar Tsa’labah segera dimandikan dan dikafani.
Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat.”
 Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena banyaknya malaikat yang turun melayat Tsa’labah.”

Subhanallah… Allahu Akbar!

Tuesday, 1 July 2014

Terhijab oleh nafsumu - al hikam oleh muallif sholawat wahidiyah


{إِذْلَوْ حَجَبَهُ شَىْءٌ لَسَتَرَهُ مَا حَجَبَهُ }
            Ini alasan dari keterangan sebelumnya tadi. Alloh SWT terhijab oleh sesuatu, yang terhijab manusianya. Terhijab oleh nafsunya. Sebab kalau Alloh SWT dapat dihalang-halangi di tabir otomatis tertutup. Hijab itu sesungguhnya boleh diartikan sebagai “penjaganya”. Seorang Bupati misalnya ada polisinya ada penjaganya. Tapi pada zaman sahabat, tidak ada penjaga-penjaga. Waktu Sayyidina Umar misalnya, rakyat bebas bertemu dengan beliau. Begitu juga yang lainnya, tapi pada zaman akhir-akhir ini, karena situasi raja-raja Islam membuat “hijab” atau penjaga. Karena waktu itu mulai timbul pembunuhan-pembunuhan dan sebagainya, pokoknya gangguan keamanan makin menjadi-jadi, Ialu diadakan “hijab” atau penjaga atau polisi.
            Kalau Alloh SWT kaling-kalingan ada “hijab” nya, ada penjaganya, itu berarti Alloh SWT terhalang atau kaling-kalingan oleh tabir itu. Padahal Alloh SWT Maha Mengetahui. Tidak hanya orang yang sowan menghadap kepada Alloh SWT. Yang diketahui. Tapi ... yaitu seperti sudah kita maklumi, Alloh SWT Maha Mengetahui kepada segala makhluk-NYA. Bahkan jauh lebih jelas, lebih terang dari pada pengetahuan si makhluk itu terhadap diri sendir !
            Malah, sesungguhnya makhluk itu sendiri tidak akan tahu dirinya kalau tidak diberi tahu oleh Alloh SWT. Tahunya makhluk BILLAH. Inilah yang perlu disadari oleh hati atau jiwa tiap manusai  disamping LILLAH.
ِلأَنَ الْحِجَابَ إِنَّمَا يَتَّخِذُهُ الْعُظَمَآءُوَالرُّؤَسَاَءُ فَهُوَ يُنْبِئُ عَنِ الرِفْعَةِ وَيُشْعِرُ بِالْعَظَمَةِ
            Oleh karena, SWT “hijab” itu disamping sebagai penjaga atau keamanan, juga memperlihatkan kebesaran dari Penjabat atau Raja yang dijaga itu.
{ وَاَوْ كَانَ لَهُ سَاتِرٌ لَكَانَ لِوُجُوْدِهِ حَاصِرٌ}
Dan kalau Alloh SWT ada hijabnya berarti Alloh SWT terbatas.
{وَكُلٌّ حَاصِرٍلشَىْءٍ فَهُوَ لَهُ قاَهِرٌ }
Dan jika Alloh SWT ada yang membatasi, otomatis berarti dipaksa oleh yang membatasi itu. Dus mudahnya Alloh SWT tidak terhalang. Yang terhalang atau terhijab adalah manusianya. Alloh SWT Maha Mengetahui. Yang buta adalah hamba-NYA. Sebab selalu menyembah kepada nafsunya. Senantiasa nuruti nafsunya. Senantiasa mencari-carikan buat nafsunya
            Mari para hadirin-hadirot kita koreksi diri kita masing-masing !. Kita senantiasa mencari-carikan buat nafsu atau karep kitakah, atau mengabdikan diri kepada Alloh SWT ?. Mari kita koreksi sendiri-sendiri !.
            Alloh SWT sama sekali tidak dapat dipaksa, tetapi Alloh SWT... “WAHUWA QOOHIRU FAUQO “IBAADIHI”. Alloh memaksa seluruh hambanya memaksa seluruh makhluqnya. Jika Dia menghendaki ... di cipta, dan jika Dia menghendaki ... dihancurkan sama sekali. Tidak yang dapat menghalang-halangi.
اِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنْ
            Jika Alloh Ta’ala menghendaki sesuatu, cukup mengatakan “KUN”  beradalah … “FAYAKUUNU” … maka TERWUJUDLAH sesuatu ini.
            Mari hadirin-hadirot kita tidak hanya terapung-apung saja. Tapi mari  usaha sampai mendasar di…lautan “WAHDAH” lautan “TAUHID” KE-ESAAN TUHAN ! jangan sampai kita istilahnya orang membakar kereta …. “magel”  tidak masak mentahpun tidak.
اُخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشِرِيّتِِكَ عَنْ كُلِ وَصْفٍ مُنَاقِضٍ لِعُيُوْدِيَّتِكَ لِتَكُوْنَ لِنِدَآءِ الْحَقٍّ مُجِيْبًاوَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيْبًا
            Jika engkau ingin bahagia dunia akhirot terutama, jika engkau ingin inenjadi hamba Alloh yang sejati, tidak menyembah kepada imprialis nafsu, kepada berhala iblis, bebaskanlah dirimu, keluarlah dari nafsumu yang terkecam ! baik lahiriyah maupun batiniyah. Kalau disebut “nafsu” dengan sendirinya mengenai batiniyah. Sedangkan lahirnya hanya merupakan akibat atau efek dari nafsu. Di sini disebutkan lahiriyah, tetapi sesungguhnya itu akibatnya. Mengumpat, membicarakan orang lain, ngrasani, membunuh, merugikan dan lain sebagainya. Akibat atau efek nafsu yang batin, merasa besar, takabur, ujub dan lain-lain sebagainya. Takabur merasa besar, dan membanggakan diri, sombong dan congkak lebih-lebih. Definisi dari.... ujub, adalah ;
الْعُجْبُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ لَهُ فَضْلاً {أوكما قال}
Ujub, ialah merasa mempunyai kelebihan atau kebaikan atau keistimewaan. Orang yang tidak dirinya jelek, berarti merasa mempunyai keistimewaan ini berarti ujub. Dan otomatis mengaku. Tidak menyadari bahwa Alloh lah yang memberi. Takabbur ialah merasa lebih besar lebih baik lebih dari pada lainnya. Lebih berjasa, lebih kaya, lebih pandai, lebih terhormat dari lainnya. Ini, takabbur. “Aku mujahadah sedang kawanku tidak mujahadah”. Merasa begini, ini namanya takabbur ini ! Saya melakukan kebaikan ini; tapi kawan saya itu tidak. Ini takabbur dobel. Ya ujub ya takabbur !
            Pernahkah kita para hadirin-hadirot, merasa seperti itu ?. Mari kita koreksi ! Kalau iya, mari kita bertaubat ! Mari membulatkan tekad, tidak akan mengulangi lagi ila yaumul qiyaamah ! Mudah-mudahan kita mendapat jangkungan Alloh wa. Rosuulihi SAW yang sebanyak-banyaknya !.
            Takabbur atau ujub atau riya’, itu membatalkan amal ! Amal yang dicampuri ujub atau takabbur atau riya’. Tidak diterima Alloh SWT. Bahkan disamping tidak diterima, amal yang didasari ujub dan riyak lebih-lebih takabbur tadi, besok pada yaumul qiyaamah amal itu akan dirupakan siksa untuk menyiksa orang yang beramal bersangkutan. Kita pernah atau tidak ujub takabbur atau riya’ . Takabbur atau ujub atau riya’ ada yang terang-terangan, ada yang samar-samar atau sindiran. Ada yang dengan bicara lisan, ada yang dengan bicara keadaan dan bicara isyarat, semuanya itu tetap takabbur. Sekali takabbur tetap takabbur sekalipun dengan gaya dan cara bagaimanapun juga, tetap takabbur ! Lha ini perlu adanya senantiasa koreksi. 
            Disamping BILLAH dan LILLAH didalam wahidiyah ada dua arah dari atas dan dari bawah di samping mengutaman dari atas yaitu BILLAH , juga tidak mengurangi yang dari bawah LILLAH termasuk dari bawah yaitu senantiasa meniti-niti kemungkinan timbulnya ujub riya’ takabur selalu di koreksi pernah atau tidaknya kita ngarasani atau adu-adu atau mengumpat atau merugikan lebih-lebih merugikan orang lain, menusuk atau  merluakai perasaan orang lain ini semua harus selalu dikoreksi dan kemudian bertobat mohon ampun kepada Alloh SWT. Dan jika perlu juga minta maaf kepada yang bersangkutan !. Sebab mungkin, merugikan orang lain tapi tidak merasa babwa merugikan. Mungkin !. yah pokoknya segala sesuatu yang terkecam yang merugikan, baik merugikan dirinya sendiri maupun dan lebih-lebih merugikan orang lain moril maupun materiil, harus kita buang jauh-jauh, harus kita hindari jauh-jauh jika kita ingin selamat dan bahagia, ingin senantiasa dapat mendengarkan atau bahkan menuruti “NIDAAUI HAQQI” panggilan Tuhan Alloh SWT. Kalau ingin bahagia abadi dunia akhirot, kita harus cancut tali wondo. Bertekad dan berjuang menghancur luluhkan sifat-sifat nafsu yang terkecam.
            Nafsu itu sesungguhnya jiwa atau roh jiwa itu mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Keadaannya yang buruk, dinamakan “NAFSU AMMAROH”. Nafsu yang selalu mengajak menyeret kepada keburukan. Mengajak kepada perbuatan-perhuatan yang terkecam dan merugikan. Ada lagi “NAFSU SYAITHONIAH”. Yang baik di sebut “NAFSUL MUTMAINNAH”. Nafsu yang tenang tentram. “NAFSUL MARDIYYAH” nafsu yang diridloi. Yang diridloi Alloh SWT. Nafsu yang senantiasa ridlo kepada Alloh SWT. Dia senantiasa menyadari bahwa dirinya sebagai hamba, dan Alloh SWT sebagai Tuhannya. Seperti itu yang banyak diajarkan pada kanak-kanak .
رَضِيْنَا بِاللهِ رَبَّا وَبِالإِسْلاَمِ دِيْنَا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
            “RODLIINA BILLAHI ROBBAN”… saya rela saya rodlo saya puas  sepuas-puasnya kepada Alloh sebagai Tuhan kita saya puas sekali mempunyai Tuhan Alloh SWT. Saya puas sekali menjadi hambanya Tuhan Alloh SWT yang Maha Rohman-Rohim ... ini tidak hanya diucapkan atau diangan-angan, tapi harus dirasakan dengan sungguh-sungguh !. Jika orang mau merasakan dengan sungguh-sungguh, pasti dia ... dia menemukan syurga, bahagia dunia dan akhiratnya. Tidak usah menunggu nanti di akhirot di dunia pun dia sudah mengenyam
kenikmatan dan kebahagiaan yang sungguh-sungguh yang tidak dialami oleh orang lain yang tidak merasakan “rodlina ...” seperti di atas.Sekalipun keadaan lahiriyah Ala terutama soal ekonomi misalnya, senantiasa kelihatan berat, selalu buntu jalan usahanya, tetapi sesungguhnya dia berada di dalam syurga dunia. Bahagia! “JANNATUN MUAJJALAH”. itu kalau orang sungguh-sungguh mengecakkan “RODLUNAA BILLAAHI ROBBAN WA BIL ISLAAMI DINAN”… Puas sepuas-puasnya Islam sebagai agama kita. Menyerah bongkokan kepada Alloh SWT ! Dengan arti sepuas-puasnya, melaksanakan apa saja yang dikehendaki Alloh SWT. Puas sepuas-puasnya menjauhi apa saja yang dilarang oleh Alloh SWT !. Seandainya disuruh bunuh diri sekalipun, dia tetap merasa puas sepuas-puasnya, gembira seriang-riangnya !. Karena ini diperintah oleh Alloh SWT, Tuhan kita yang rohman-rohim.
“WA BI MOHAMMADIN NABYYAN”
            Puas sepuas-puasnya Kanjeng Nabi Mohammad Rosuululloh SAW sebagai Nabi kita. Nabi yang penghabisan. “SAYYIDDUL ANBIYAK WAL MURSALIN”. Puas sepuas-puasnya kita dijadikan ummatnya Rosullulloh SAW !.
            Begitu seharusnya para hadirin-hadirot !. Jangan sampai hanya kita baca di bibir saja !. Di samping kita baca, kita harus fahami benar-benar, kita rasakan benar, para hadirin-hadirot. Sudahkah kita merasakannya para hadirin-hadirot ?. Mari para hadirin-hadirot kita usaha sekuat mungkin !.
“UKHURUJ MIN AUSHOOFI BASYARIYYATIKA” ......
Jika engkau ingin menjadi hamba Alloh yang sejati yang senantiasa diperkenankan sowan menghadap dihadapan Alloh SWT, ingin di ridloi oleh Alloh SWT, ingin dikumpulkan para Kekasih Alloh SWT, ingin diselamatkan dari godaan iblis dan nafsu yang selalu menjerumuskan kita, maka kita harus berjuang sekuat mungkin untuk mengikis habis sifat-sifat nafsu yang senantiasa merugikan itu !. Kita kikis habis ! kita bunuh, apabila tidak bisa kita arahkan ! kalau tidak manfaatkan ! Harus kita kikis habis !. Tapi kalau tidak mampu untuk mengarahkan untuk memanfaatkan harus kita manfaatkan kita arahkan untuk mengabdikan diri kepada Alloh SWT !.
            Sedangkan sifat-sifat nafsu yang diridloi Alloh SWT harus kita pupuk kita suburkan terus dan harus terus ditingkatkan, ditingkatkan mutunya, ditingkatkan kebaikannya !. Itu bisa dilaksanakan oleh mereka yang sudah bebas dari nafsunya !
            Alloh SWT,... senantiasa mengundang memanggil-manggil. “Wahai hamba-KU,... wahai hamba-KU !."
            Para hadirin-hadirot, jika seandainya orang tahu, mengerti kepada firman-Nya Alloh SWT yang tanpa huruf dan suara dan tanpa susunan, hamba-Nya yang dipanggil yang ditimbali, jika sekiranya tahu, ... mati seketika para hadirin-hadirot !. Saking nikmatnya, saking lezatnya, saking terharunya, para hadirin-hadirot !. Mengapa tidak para hadirin-hadirot !. Kita diundang oleh Kepala Desa misalnya. Undangan yang tidak merugikan, yang tidak menakutkan ini bangga kita. Seorang rakyat desa dipanggil, ditimbali oleh Kepala Desanya, Oleh Pak Lurahnya, diajak jagongan, ini bangga para hadirin-hadirot. Ini baru kepala desa yang memanggil !. sudah begitu kemaremannya lebih-lebih makin atas. Lebih-lebih para hadirin-hadirot. Alloh SWT yang Maha Luhur para hadirin-hadirot !. Maha Sempurna !. Maha Pemurah dan Pemberi selalu, para hadirin-hadirot. Lebih-lebih para hadirin-hadirot, dipanggil oleh Tuhan yang, hidup kita ini tergantung hanya kepada-NYA, para hadirin-hadirot !. Betapa para hadirin-hadirot !. Mari para hadirin-hadirot. Sekalipun kita jauh dari pada itu, mari para hadirin-hadirot, kita sadari !. Kalau tidak, kita sudah keterlaluan para hadirin-hadirot !.     
            Kalau orang sudah bebas dari imperialis nafsu, “WA TAKUUNU MIN HADROTIHI QORIBAN”. Dekat, dekat dari Alloh SWT. Kalau orang dekat dari Alloh SWT jangan ditanyakan lagi kebahagiaan dan keuntungannya.
Seorang rakyat yang dekat dengan pamong, lebih-lebih kepada Kepala Desanya, rakyat lainnya yang bermaksud berbuat jahat kepadanya tidak berani !. Lebih-lebih makin dekat dengan pejabat yang lebih atas lagi, makin ditakuti dan disegani oleh lainnya !. Orang lain tidak berani sembarangan. Lebih-lebih dekat kepada Alloh SWT,... lebih-lebih para hadirin-hadirot !.
            Begitulah nabi Ibrohim ‘alahis salam. “MAQOM IBROHIM”. Beliau, disebutkan
وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا
            Barang siapa masuk kedalamnya pasti aman. Mengapa tidak para hadirin-hadirot !. Sebab orang yang masuk kesitu otomatis menjadi Kekasih Alloh SWT yang Maha Kasih Sayang, Maha Kuasa !. Maha Menjaga, para hadirin-hadirot !. Lha Nabi Ibrohim ‘alaihis salam kok dimasukkan api tersiksa begitu ?. Ini lain bidang lain hal para hadirin-hadirot !.
            Para hadirin-hadirot !. Mengenai soal yang merugikan. Tidak selalu hal yang enak itu menguntungkan. Tapi banyak soal yang enak dan kepenak malah merugikan, ... banyak, para hadirin-hadirot !.. Sebaliknya soal yang tidak mengenakkan itu kok mesti merugikan, belum tentu para hadirin-hadirot!. Banyak soal-soal yang tidak enak tapi menguntuhkan !. Seorang petani, mencangkul, rekoso, payah, tapi menguntungkan baginya !. Seorang yang bekerja berat, tapi menguntungkan pada mereka !. Malah disamping itu mereka puas !. Puas menjalankan apa yang nampaknya sengsara dan berat itu !. Kanjeng Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dimasukkan api yang mulat-mulat,itu menguntungkan sekali kepada beliau para hadirin-hadirot !.Dan toh ketika beliau dimasukkan kedalam api itu sama sekali tidak merasa panas  sedikitpun !. terasa dingin nikmat hadirin-hadirat ! tidak terasa panas sedikitpun !. Terasa disyurga para  hadirin-hadirot makin dekat sekali kepada Alloh SWT !. Ya mudah-mudahan para hadirin-hadirot di samping syafaat dari Rosululloh SAW , kita mendapatkan barokahnya dari Nabi Ibrohim ‘alaihis salam yang
“WAMAN BAKHOLAHUKAANA AAMINAN” !. Amiin !
            Jadi kalau kita sungguh-sungguh ingin hidup yang semestinya, kita harus .... yang seperti itu tadi !. istilah lain kita harus senantiasa menghancurkan, mengusir, membongkar ... soal negatif yang tidak semestinya itu tadi ! Kita isi soal-soal yang semestinya, yang menguntungkan !. senantiasa “TAKHOLLI”, ... yaitu mengosongkan, menggempur yang negatif dan senantiasa membangun !. Bangunan-bangunan yang negatif harus kita gempur !. Selanjutnya kita harus senantiasa membangunan bangunan-bangunan yang diridloi Alloh wa Rosuulihi SAW Bangunan-bangunan yang diridloi Alloh SWT kita suburkan, kita sempurnakan, kita up grade istilah sekarang !. Yaitu bangunan “ikhlas”, bangunan “ridlo”, bangunan “tawakkal”, bangunan -bangunan yang diridloi Alloh SWT !.
            Bangunan-bangunan yang merugikan harus kita buldoser, kita hancurkan !. Bangunan “Linnafsi binnafsi” serta takabbur, ujub riya' dan sebagainya harus kita hancur leburkan!.
            Para hadirin-hadirot, kalau kita memang sungguh-sungguh ada kemauan, otomatis senantiasa usaha !. Senantiasa menggali, senantiasa berinisiatif !. Mari para hadirin-hadirot kita koreksi Dan mari kemampuan yang ada pada kita ini kita laksanakan Para hadirin-hadirot, sekalipun sudah maklum, dan saya sendiri mengobrolkan disamping uraian-uraian dari Pusat, mari para hadirin-hadirot, kesempatan yang kita milili ini kita gunakan untuk itu para hadirin-hadirot !
            Para hadirin-hadirot!. Sesugguhnya kemampuan yang kita miliki ini adalah justru untuk itu mari hadirin-hadirot !. Kalau tidak untuk itu, namanya kaki dibuat kepala  kepala di buat kaki. Kaki mestinya di bawah  kita balik diatas. Kepala seharusnya diatas, kok kita taruh, di bawah jadi kaki para hadirin-hadirot!. Kita akan, tahu benar-benar, nanti kalu sudah mati, para hadirin-hadirot !. Kalau kita memang ragu-ragu, silakan teruskan ragu-ragu, tapi nanti awas ! Kalau sudah datang saatnya, tidak bisa diundur lagi sekalipun setengah detik, para hadirin-hadirot !..
            Mari para hadirin-hadirot !. Ya mudah-mudahan pengajian pagi ini benar-benar mendapat fadlol dari Alloh SWT yang sebanyak-banykanya ! Dari, Rosuulillahi SAW yang sebanyak-banyaknya, dari Ghousi Hadhaz-Zamani Ra yang sebanyak-banyaknya, dari ... seluruh Kekasih Alloh ta’ala yang sebanyak-banyaknya ! Amiin ! Amiin ! Amiin ! Yaa Robbal Alammin !
            Ya maaf, mohon maaf yang sebanyak-banyak ! Dan kiranya cukup sekian dulu pengajian Minggu pagi ini, selanjutnya soal waktu dan tempat dipersilahkan kepada beliau dari pusat

Monday, 6 January 2014

MUJAHADAH MILADIYYAH KUBRO

Pelaksanaan Mujahadah Miladiyyah Kubro akan dilaksanakan pada Hari Kamis malam jum'at Wage Tanggal 9 Januari 20014, Kepada seluruh pengamal Sholawat wahidiyah Dimana pun Berada untuk mempersipkan diri dhohiron wa bathinan guna menghadiri acara tersebut dan dimohon untuk mengadakan/ mengikuti mujahadah penyongsongan yang dilaksanakan di lokasi Miladiyyah bagi yang berada di karisidenan Kediri mulai tanggal 6 Januari 2014 jam 21.00 WIB, atau di daerah masing-masing sesuai dengan jadwal yang telah di sampaikan dari Pusat.

Friday, 9 August 2013

MUJAHADAH KUBUR


Kepada Seluruh Pengamal Sholawat Wahidiyah
Di Manapun Berada



di Sampaikan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1434 H,
Dan Di Himbau untuk Melaksanakan Mujahadah Maqom/ Kubur
Tempat : di pemakaman umum di daerahnya masing-masing
Waktu : Sesuai kondisi masing-masing (boleh Pagi , siang, sore, malam) selama 7 Hari ,
              apabila tidak dilaksanakan di pemakaman umum dapat dilaksanakan di rumah masing-2 tetapi  waktu pelaksanaan menjadi 15 Hari
di anjurkan dengan Berjama'ah
Semoga Arwah Para Ahli kubur Di ampuni Dosa nya Oleh Alloh SWT

Friday, 12 July 2013

Al Hikam KH Abdol Madjid Ma'roef Qs Wa Ra...Kedunglo Kediri


AL HIKAM I hal 42

{مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ اْلقَلْبِ عَدَمُ اْلحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ اْلمُوَافَقَاتِ وَتْرُكُ اْلنِدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ اْلزَّلاَّتِ}

(Setengah dari pada tanda-tandanya hati yang mati, yaitu dia tidak merasa menyesal atau susah prihatin atas keglonjomannya melalaikan kewajiban-kewajiban tho’at atau atas berlarut-larutnya menjalankan maksiat).
Jika orang hatinya mati, dengan sendirinya dikecam oleh Alloh SWT. Hati yang mati, dengan sendirinya tidak dapat melihat hidayah dari Alloh SWT !. Gelap baginya !. Dia tidak dapat membedakan mana yang haq yang benar, dan mana yang bathil, tidak tahu mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan !.
Sebaliknya, tanda-tandanya hati yang hidup, disini dikatakan :

وَعَلاَمَةُ حَيَاتِهِ بِاْلأَنْوَارِ اْلإِلَهِيَاتِ وَإِنْ لَمْ تُدْرِكْهَا لِغَلَظٍ حِجَابِكَ خُزْنُكَ عَلَى مَافَاتَكَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَالنّدِمُكَ عَلَى مَا فَعَلْتَ مِنَ الَّزلاَتِ فَالتَّفْرآ بِصُوْرِ اْلأَعْمَالِ مِنْكَ فَرْحًا شَدِيْدًا وَتَعَتُّمُ عَلَى اْلمُخَالِفَاتِ وَذَلِكَ دَلِيْلُ عَلَى أَنَّكَ مِنْ أَهْلِ اْلمُحِبُّوْيَيْنَ للهِ فَجِدَ فٍي السَّيْرِ وَلاَ تَكَسُلُ

Tanda-tandanya hati yang hidup, atau alamatnya diridhoi oleh Alloh SWT, alamatnya diampuni oleh Alloh SWT, yaitu ketika sedang tledor sedang glonjom, dia secepat kilat sudah tobat dan prihatin. Prihatin karena tledor atau glonjom, lebih-lebih sampai berlarut-larut kedalam maksiat. Dan diwaktu dapat menjalankan tho’at dan bertobat, dia menjadi bungah gembira. Gembira bukan gembira yang menyombongkan dada, tapi bungah gembira karena ditolong oleh Alloh SWT. Bungah karena mendapat ridho Alloh. Jadi boleh dikatakan bahwa orang menjalankan tho’at, melakukan perbuatan-perbuatan yang membuahkan manfaat bagi ummat dan masyarakat, itu tandanya dia diridhoi oleh Alloh SWT. Justru itu dia menjadi gembira mendapat ridho dari Alloh SWT. Dia berbuat perbuatan yang diridhoi Alloh SWT yang memberi manfaat dari ummat dan masyarakat, baik lahiriyah maupun batiniyah. Ketika sedang berlarut-larut menjerumus kedalam maksiat, dia susah prihatin, sebab merasa dibendu oleh Alloh SWT. Merugikan ummat dan masyarakat, sekalipun wujud lahirnya seperti memberi manfaat. Malah, sekalipun lahirnya kelihatan menguntungkan, tapi karena berbuat yang tidak diridhoi Alloh SWT, itu sesungguhnya merugikan masyarakat!. Jika hatinya hidup dia cepat susah prihatin dan tobat karena melakukan hal-hal yang dibendu oleh Alloh SWT!.
Para hadirin hadirot, mari ditinjau pengalaman kita bagaimana !. Kita tidak lepas berbuat baik atau berbuat buruk, tidak lepas dari perbuatan-perbuatan yang diridhoi Alloh dan menguntungkan dan dari perbuatan-perbuatan yang dikecam Alloh dan merugikan. Perbuatan yang tidak baik dan tidak buruk, dalam suatu segi dapat dikatakan baik. Tapi dari segi lain juga dapat dipandang buruk, jika dipandang dari yang baik. Ringkasnya, perbuatan hanya ada dua macam. Diridhoi Alloh SWT, atau dikecam dibendu Alloh SWT.
Oleh karena itu mari kita periksa diri kita masing-masing, diridhoi Alloh SWT-kah atau dibendu dikecam Alloh SWT, ini kita masing-masing bisa mengetahui berdasarkan alamat-alamat tersebut diatas!. Hati kita masing-masing ini hidup atau mati, para hadirin hadirot ?. Jika mati, hati kita mati, alangkah rugi kita terutama besok pada yaumul qiyaamah. Akibat matinya hati didunia, akan dirasakan diakhirot sak jeg jumbleg selama-lamanya, para hadirin hadirot !. Sebaliknya, hati yang hidup ketika didunianya, dia akan memetik buah diakhirot untuk selama-lamanya, para hadirin hadirot, mari diri kita masing-masing kita tinjau!. Dan mari para hadirin hadirot, kita di beri akal, dan sedikit banyak menyadari bahwa kita semua ini adalah hamba Alloh yang senantiasa diberi suatu pemberian nikmat fadhol yang sebanyak-banyaknya setiap detik dalam segala segi.
Mari para hadirin hadirot, kita senantiasa cancut tali wondo untuk berbuat perbuatan yang diridhoi Alloh SWT wa Rosuulihi saw !. Yang menghasilkan manfaat bagi ummat dan masyarakat!. Terutama dalam bidang kesadaran kepada Alloh wa Rosuulihi saw!. segala perbuatan apa saja jika tidak dilandasi kesadaran, akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar..bersambung

BELIAU NABI SAW SANGAT PEMA'AF.....

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang. Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?” Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”. Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah. Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?” Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”. Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa- llah (Tiada tuhan selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!” Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!” Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah.”

Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhoan Allah Robbul Alamin.”

Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”

Sahabat……….. Apakah kita pengikut ajaran beliau? Tetapi sejauh mana kita bisa memaafkan kesalahan orang? Seberapa besar kita mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita pengikut beliau… Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna, Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan bahwa Beliau adalah teladan yang sempurna. Semoga Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, junjungan dan teladan kita yang oleh Allah telah diciptakan sebagai contoh manusia yang sempurna…  

Al Fathihah..x1
Yaasyafial kholqissholatuwassalaa...x1
Yaa Sayiidii Yaa Rasuulalloh ...x3
Yaa Ayyuhal Ghoutsu.....x1
Al fathihah...x1
Semoga Bermanfaat….
sumber: Kisah penuh hikmah